Bayi Gajah Sumatera Terjerat Sling Baja di Jambi, Kini Kembali ke Induknya

- Kamis, 02 Juli 2026 | 09:30 WIB
Bayi Gajah Sumatera Terjerat Sling Baja di Jambi, Kini Kembali ke Induknya

Seekor bayi gajah Sumatera berusia 15 bulan ditemukan terjerat sling baja yang dipasang orang tak dikenal di kawasan Bentang Alam Bukit Tigapuluh, Kabupaten Tebo, Jambi. Setelah menjalani perawatan, satwa bernama Sakda itu kini telah dilepaskan kembali ke kelompoknya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, Himawan Sasongko, mengatakan kondisi anak gajah tersebut terus membaik. "Sudah semakin sehat. Sudah membaik," ujarnya, Kamis (2/7).

Menurut Himawan, keputusan melepas Sakda kembali ke alam diambil setelah tim medis menilai peluang kesembuhannya lebih besar jika berada di habitat asli. "Setelah dilakukan pengobatan, gajah ini memiliki tingkat kesembuhan di alam lebih besar. Makanya kita lepaskan kembali ke induknya. Sudah lepas dengan induknya dan kelompoknya Wardani, ada kurang lebih 20-an ekor lah," jelasnya.

Sebelumnya, Sakda diduga terkena jerat saat melewati pagar listrik di kawasan hutan. Ketika berusaha melepaskan diri, sling baja putus, tetapi sebagian kawat tetap melilit kaki kiri depannya. "Jadi, sling atau jerat itu sudah terlilit di kakinya selama dua minggu," kata Himawan, Senin (29/6).

Petugas mengetahui kondisi Sakda saat melakukan patroli rutin. Anak gajah itu terlihat berjalan pincang sehingga tim melakukan pemantauan lebih lanjut. "Kita lihat bahwa ada anak gajah yang berjalan dengan pincang. Kita kemudian monitoring, dan benar kita temukan anak gajah yang sedang cedera di bagian kaki," ujarnya.

Tim BKSDA kemudian mengevakuasi Sakda, melepaskan jerat baja, dan memberikan penanganan medis. Meski mengalami luka terbuka pada kaki kirinya, kondisi tulang Sakda dipastikan tidak mengalami kerusakan. "Beruntung, tulangnya belum remuk, baru luka terbuka dan sudah kembali pada kelompoknya," kata Himawan.

Himawan menambahkan, pihaknya mewaspadai adanya aktivitas ilegal yang dapat mengganggu jalur migrasi gajah. "Dari beberapa tahun kita jumpai gajah itu berubah jalur migrasi karena ada pemasangan jerat-jerat yang sering kita temuan saat penyisiran," katanya. Ia menekankan bahwa anak-anak gajah merupakan individu yang rentan terhadap jerat dan perburuan. "Ini yang jadi perhatian besar untuk dituntaskan permasalahan ini," tambahnya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags