PBB Evakuasi 11.000 Pelaut yang Terdampar di Selat Hormuz Akibat Konflik AS-Israel-Iran

- Rabu, 24 Juni 2026 | 11:50 WIB
PBB Evakuasi 11.000 Pelaut yang Terdampar di Selat Hormuz Akibat Konflik AS-Israel-Iran

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersiap mengevakuasi lebih dari 11.000 pelaut yang terdampar di sekitar Selat Hormuz, imbas dari konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Operasi penyelamatan skala besar ini disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah pelayaran sipil di kawasan tersebut.

Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO), Arsenio Dominguez, mengungkapkan bahwa proses evakuasi akan melibatkan kerja sama dengan Iran, Oman, AS, negara-negara Teluk, serta industri maritim global. Ia menegaskan bahwa jaminan keamanan bagi para awak kapal telah diperoleh sebelum operasi dimulai.

"Kami telah mengamankan jaminan keselamatan yang diperlukan dan telah memverifikasi secara menyeluruh kondisi untuk navigasi yang aman guna mendukung operasi ini," ujarnya dalam pernyataan yang dilansir Rabu (24/6/2026).

Langkah ini muncul di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya reda. Meskipun kesepakatan sementara telah ditandatangani pekan lalu untuk mengakhiri konflik, AS dan Iran masih berselisih soal detail Nota Kesepahaman (MoU). Washington menegaskan bahwa dokumen tersebut mencakup jaminan agar program nuklir Iran berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Namun, Teheran bersikukuh bahwa badan pengawas PBB tidak akan diizinkan memeriksa situs-situs nuklir yang dibom oleh AS dan Israel tahun lalu.

Di tengah dinamika diplomatik yang rumit ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memulai kunjungannya ke kawasan Teluk pada Selasa. Ia dijadwalkan mengunjungi Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Bahrain dua negara terakhir menjadi tuan rumah pangkalan militer AS untuk membahas lebih lanjut kesepakatan dengan Teheran.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar