Keberanian memulai dari nol dan komitmen menjaga kepercayaan menjadi fondasi yang mengubah hidup Nirin Samsudin. Di usia 47 tahun, pria asal Kampung Cisaat, Desa Kertarahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, ini tak pernah membayangkan bahwa kandang ayam petelur di samping rumahnya akan menjadi titik balik perjalanan hidupnya. Prinsip sederhana itulah yang ia pegang teguh selama enam tahun terakhir, sejak merintis usaha dari keterbatasan modal hingga kini kandangnya dihuni oleh seribu ekor ayam petelur.
Kisah Nirin bermula dari pekerjaannya sebagai pengangkut pakan ternak. Dari balik karung-karung yang ia bawa setiap hari, ia mengamati para peternak di sekitarnya dan mulai melihat celah peluang besar dari usaha ayam petelur. Pada 2020, tanpa memiliki modal sepeser pun, ia nekat memulai usaha. Nirin memutar otak mencari pinjaman awal hingga akhirnya memberanikan diri meminjam uang dari pihak lain. Dengan modal sekitar Rp60 juta, ia membangun kandang dan mengisinya dengan 700 ekor ayam.
“Dua tahun utang itu alhamdulillah udah lunas,” ujar Nirin saat berbincang beberapa waktu lalu di kediamannya.
Meski utang modal awal telah lunas, ambisi Nirin untuk mengembangkan usaha tak pernah padam. Ia berniat memperbesar kandang dan menambah jumlah ayam. Di tengah keinginan untuk ekspansi itu, ia memutuskan mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Pinjaman sebesar Rp100 juta dengan tenor tiga tahun digunakan untuk memperluas kandang dan menambah populasi ayam menjadi seribu ekor. Setelah pinjaman tersebut lunas pada 2026, Nirin kembali mengajukan pinjaman senilai Rp100 juta untuk merenovasi kandang dan membeli ayam petelur dari peternak di Tangerang.
Kandang yang kini berisi seribu ekor ayam itu menjadi sumber penghidupan utama keluarganya. Setiap hari, ayam-ayam tersebut menghasilkan telur sekitar 55 hingga 57 kilogram. Nirin mengaku tak pernah kesulitan menjual hasil ternaknya. Warga sekitar hingga pembeli dari luar wilayah kerap datang langsung ke rumahnya. Warung-warung sembako di kampungnya juga menjadi pelanggan tetap. “Telurnya itu nggak pernah numpuk, selalu laku,” katanya.
Di balik kelancaran penjualan, biaya operasional yang harus dikeluarkan tak sedikit. Setiap bulan, Nirin menghabiskan sekitar Rp2 juta untuk operasional kandang dan Rp19 juta untuk biaya pakan. Ia biasanya membeli ayam petelur saat berusia sekitar 13 minggu, kemudian dipelihara hingga mulai berproduksi sebulan kemudian. Masa produktif ayam tersebut terbilang panjang. “Kebanyakan sih nyampai dua tahun masa produksinya,” ujar Nirin. Setelah melewati masa produktif, ayam afkir dijual kembali. Saat perayaan tertentu di desa, permintaan meningkat dan harga pun melonjak. “Karena kalau lebaran itu kan ayam afkirnya lakunya mahalan, bisa Rp60.000, bisa Rp55.000, paling murah bisa Rp50.000,” jelasnya.
Setelah enam tahun bergelut di usaha ini, Nirin merasakan manfaat besar bagi perekonomian keluarga. Keuntungan bersih dari penjualan telur mencapai sekitar Rp14 juta per bulan. Namun, sumber penghasilannya tak hanya dari situ. Ia juga menjadi pemasok pakan bagi peternak lain di sekitarnya. “Alhamdulillah itu hampir Rp12 jutaan ada,” imbuhnya. Dalam keseharian, Nirin mengurus usaha ini bersama istri dan keluarganya. Sesekali ia mempekerjakan warga untuk membantu membersihkan kotoran ayam setiap empat hari sekali dengan upah Rp70 ribu hingga Rp100 ribu per hari. Kotoran ayam itu pun dijual kepada petani sebagai pupuk dengan harga Rp10 ribu per karung. “Alhamdulillah habis terus, banyak pembeli. Buat padi bagus banget ini, buat tanaman bagus. Makanya petani sini pada senang,” katanya.
Keberhasilan Nirin menarik perhatian warga lainnya. Ia menjadi orang pertama di kampungnya yang merintis usaha ayam petelur. Seiring waktu, semakin banyak warga yang mengikuti jejaknya. Nirin tak pelit berbagi pengalaman, mulai dari persiapan membangun kandang hingga memasok pakan. Kini, total ada sekitar tujuh lokasi peternakan ayam petelur yang dibantunya dengan jumlah ayam mencapai delapan ribu ekor. “Sekarang udah hampir ada tujuh lokasi ngikutin kayak saya,” ujarnya.
Bagi Nirin, modal terbesar dalam usaha ini adalah kepercayaan. Ia selalu terbuka kepada para peternak lain dan tidak ingin mengambil keuntungan berlebihan. Bahkan saat harga pakan naik, ia sempat menahan kenaikan tersebut kepada pelanggannya. “Contohnya kayak sekarang pakan lagi mahal nih, pakan saya nggak saya naikin. Lebih baik saya enggak ngambil untung, yang penting orang enggak ngeluh. Kalau saya usaha begitu. Makanya tuh orang pada percaya ke saya begitu,” tuturnya. “Jadi saya itu gimana caranya biar pelanggan itu enggak ngeluh. Yang penting sama-sama enak, nggak rugi gitu,” sambungnya. Setelah enam tahun, keinginan Nirin untuk terus menambah jumlah ayam tak pernah surut. Pria beranak satu itu mengaku usaha ayam petelur ini selalu membuatnya candu untuk terus berkembang.
Sementara itu, Kepala BRI Unit Setu Bekasi, Setia Adi, menegaskan komitmen pihaknya dalam mendukung pengembangan usaha Nirin. Menurutnya, usaha tersebut tidak hanya berdampak pada peningkatan ekonomi keluarga, tetapi juga lingkungan sekitar. “Kami dari BRI tetap berkomitmen penuh menjadi agen pembangunan dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan melalui program KUR. BRI hadir memberikan akses pembiayaan mudah, murah, dan tepat sasaran kepada pelaku UMKM, dalam hal ini Pak Nirin,” kata Adi. Ia menambahkan bahwa BRI rutin melakukan pembinaan kepada pelaku UMKM dan mendorong nasabah KUR untuk naik kelas. “Mantri kami memang berkomitmen untuk pembinaan terus ke nasabah-nasabah UMKM yang sudah dikasih kredit. Jadi, walaupun portofolio mereka banyak debitur, tapi memang mereka wajib mengunjungi nasabah tersebut minimal dua kali dalam sebulan,” ujarnya.
Artikel Terkait
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Ribuan Bal Pakaian Bekas Ilegal dari Perbatasan Kalimantan
Ronaldo Cetak Sejarah: Gol di Enam Edisi Piala Dunia Berbeda
Inggris vs Ghana Perebutkan Puncak Klasemen Grup L Piala Dunia 2026, Pemenang Laga Langsung Lolos ke 32 Besar
Lazio Resmi Tunjuk Gennaro Gattuso sebagai Pelatih Baru untuk Musim 2026/2027