Wakil Ketua MPR: Bencana Rob di Sayung Demak Sudah Kategori Permanen, Butuh Prioritas Nasional

- Senin, 22 Juni 2026 | 18:45 WIB
Wakil Ketua MPR: Bencana Rob di Sayung Demak Sudah Kategori Permanen, Butuh Prioritas Nasional

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa bencana rob dan genangan permanen yang melanda Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, memerlukan penanganan secara menyeluruh dan mendesak untuk dijadikan prioritas nasional. Pernyataan ini disampaikan dalam acara penyerapan aspirasi masyarakat MPR RI yang bertajuk “Percepatan dan Pemerataan Pembangunan Daerah: Tantangan Ekologi dan Infrastruktur” di Hotel Amantis, Demak, pada Senin, 22 Juni 2026.

Dalam sambutannya, Lestari menyoroti dampak pembangunan infrastruktur, seperti jalan Tol Semarang-Sayung. Meskipun proyek tersebut bertujuan mempercepat akses pembangunan, ia menilai proyek itu telah menimbulkan dampak lingkungan yang masif. Perempuan yang akrab disapa Rerie ini menjelaskan bahwa kawasan Sayung secara historis merupakan wilayah selat yang sejak era kolonial Belanda tidak dibangun karena pertimbangan geologis. Namun, saat ini kawasan tersebut mengalami tekanan berat akibat pembangunan infrastruktur dan perubahan iklim.

“Kalau kita bicara konteks Demak, wilayah Sayung dan desa-desa di sekitarnya ini sudah masuk kategori bencana permanen, bukan lagi cuma banjir rob,” tegas Rerie dalam keterangannya.

Legislator dari daerah pemilihan II Jawa Tengah itu mengungkapkan, berdasarkan data yang dihimpun, bencana tersebut telah menyebabkan 6.600 hektare wilayah Demak tergenang. Kondisi ini berdampak langsung pada sekitar 15.000 kepala keluarga. Banyak warga yang kehilangan lahan pertanian dan terpaksa beralih menjadi petani tambak tanpa bekal pengetahuan yang memadai, sehingga pendapatan harian mereka tidak stabil.

Menghadapi situasi ini, Anggota Komisi X DPR RI itu menawarkan dua opsi. Opsi pertama adalah relokasi, yang dinilai sangat sulit direalisasikan saat ini. Opsi kedua, mendorong upaya adaptasi dengan mempersiapkan warga terdampak melalui berbagai program. “Misalnya, lahan pertanian yang tidak bisa ditanami, kita bicarakan dengan pemerintah untuk mengusahakan padi jenis biosalin. Atau, sawah yang berubah menjadi genangan difungsikan menjadi tambak. Namun, ternyata urusan perizinan mengubah sawah menjadi tambak juga tidak sederhana,” paparnya.

Lebih lanjut, Rerie mengkritisi solusi jangka pendek berupa peninggian badan jalan. Menurutnya, langkah itu hanya memindahkan masalah karena limpasan air akan tetap kembali merendam permukiman warga. Ia pun meminta Pemerintah Daerah dan DPRD setempat untuk berani mengambil kebijakan administratif yang lebih progresif. Selain aspek infrastruktur dan ekonomi, Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menyoroti pentingnya edukasi lingkungan. Ia mendorong adanya restorasi ekologis berbasis alam, seperti penanaman mangrove sebagai penahan abrasi serta pengelolaan sampah secara sistematis.

“Ini sudah bencana dan kita tidak bisa membiarkan. Kalau pendekatannya selalu normatif, persoalan ini tidak akan selesai. Yang hilang di Sayung bukan hanya tanah, tetapi ruang hidup, kepastian, dan masa depan,” pungkas Rerie.

Hadir dalam kesempatan tersebut tokoh masyarakat Demak, Mugiyono, sejumlah anggota DPRD Kabupaten Demak dari Fraksi Partai NasDem, yaitu Sulkan, Ibrahim Suyuti, Martono, Muh Safii, dan Endang Susilowati, serta tokoh lainnya seperti Tri Wahyu Habsari dan Nandy Ikhtiar Indonesia. Kegiatan ini juga menampung aspirasi perwakilan warga dari belasan kecamatan setempat.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar