Polda Riau Luncurkan Jersey Riau Bhayangkara Run 2026, Padukan Motif Topografi dan Ornamen Melayu untuk Kampanye Lingkungan

- Senin, 22 Juni 2026 | 18:40 WIB
Polda Riau Luncurkan Jersey Riau Bhayangkara Run 2026, Padukan Motif Topografi dan Ornamen Melayu untuk Kampanye Lingkungan

Polda Riau resmi meluncurkan jersey yang akan dikenakan oleh ribuan peserta dalam ajang Riau Bhayangkara Run (RBR) 2026, sebuah event lari yang tidak hanya mengedepankan sportivitas, tetapi juga misi pelestarian lingkungan dan budaya lokal. Tiga varian jersey dengan desain dan filosofi berbeda telah diperkenalkan untuk mewakili setiap kategori lomba, mulai dari 5K, 10K, hingga 21K. Peluncuran ini berlangsung dalam kegiatan Road to Riau Bhayangkara Run 2026 yang digelar di Kota Pekanbaru pada Minggu, 21 Juni 2026, dan dihadiri langsung oleh Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, Wakapolda Brigjen Hengki Haryadi, serta seluruh pejabat utama Polda Riau.

Ketua Panitia Pelaksana Riau Bhayangkara Run 2026, Kombes Daniel Widya Muharam, yang juga menjabat sebagai Karorena Polda Riau, menjelaskan bahwa jersey edisi tahun ini mengusung estetika modern, bersih, dan dinamis. Desain tersebut, menurutnya, mencerminkan semangat baru para pelari menuju garis finis. Diproduksi bersama MILLS sebagai Official Jersey Partner, jersey ini menggunakan material berkualitas dan mendukung kampanye ramah lingkungan melalui inisiatif MILLS Green.

Dominasi warna putih pada jersey dipadukan dengan motif topografi khas Riau dan ornamen Melayu kontemporer. Motif ini, kata Kombes Daniel, bukan sekadar hiasan, melainkan simbol pergerakan, semangat, dan keberlanjutan. “Garis kontur terinspirasi dari peta geografis Provinsi Riau yang merepresentasikan sungai, perbukitan, dan hutan luas simbol perjalanan, tantangan, konsistensi, dan semangat pelari menuju garis finish,” ujarnya di Pekanbaru, Senin (22/6/2026).

Lebih jauh, jersey RBR 2026 juga menampilkan ikon simbolik perjuangan, seperti figur pelari dan gajah. Simbol ini merepresentasikan visi Green Policing yang diusung Polda Riau, termasuk gerakan Riau Lawan Karhutla, Peduli Gajah, serta berbagai aksi kepedulian lingkungan lainnya. Aksen warna pada jersey dibedakan sesuai kategori: hijau tua untuk 5K yang melambangkan ketangguhan, biru muda untuk 10K yang mewakili semangat, dan hijau terang untuk 21K yang menggambarkan energi serta kepedulian terhadap lingkungan.

Sementara itu, warna putih yang mendominasi keseluruhan desain dimaknai sebagai representasi sportivitas dan energi positif. Ornamen Melayu kontemporer yang menonjol pada jersey terinspirasi dari ragam hias Melayu modern, yang menurut panitia melambangkan kearifan lokal, persatuan, dan identitas budaya Riau yang terus berkembang mengikuti zaman. Garis lurus tebal dan vertikal di bagian depan jersey, lanjut Kombes Daniel, melambangkan fokus, kecepatan, dan semangat untuk terus melangkah maju membawa nama baik Riau.

Riau Bhayangkara Run 2026 dijadwalkan berlangsung pada 19 Juli 2026, dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80. Ajang ini diikuti oleh 15 ribu peserta dari dalam negeri hingga mancanegara. Tahun ini, Polda Riau juga memberikan kesempatan kepada komunitas difabel untuk berpartisipasi. Rencananya, kegiatan ini akan dibuka langsung oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang akan mengambil flag off.

Di sisi lain, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan menegaskan bahwa Riau Bhayangkara Run bukan sekadar lomba lari, melainkan sebuah gerakan untuk maju bersama dalam melindungi dan melestarikan alam serta ekosistemnya. “Dengan berlari, kita ingin menggaungkan pesan bahwa menjaga alam dan lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama. Kita satukan langkah dan rapatkan barisan untuk menanamkan upaya kolaboratif. Ini adalah langkah untuk mengubah mindset seluruh masyarakat Provinsi Riau agar selalu melindungi alam, menjaga ekosistem, termasuk melindungi satwa liar kita seperti gajah dan harimau Sumatera,” kata Irjen Herry di Pekanbaru, Minggu (21/6).

Kapolda juga menekankan bahwa setiap derap langkah dalam ajang ini membawa misi besar: menyatukan komitmen seluruh elemen masyarakat untuk berkolaborasi melawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta melestarikan satwa endemik Riau. Tahun 2026 diprediksi menjadi tantangan berat bagi sektor lingkungan. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Riau tengah memasuki siklus cuaca ekstrem 30 tahunan, yang mana fenomena serupa terakhir kali melanda Indonesia pada tahun 1997 silam.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar