Perdana Menteri Belanda, Rob Jetten, menyampaikan permintaan maaf resmi kepada komunitas Maluku atas perlakuan buruk yang mereka alami sejak kedatangan mereka di Belanda 75 tahun lalu. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah upacara peresmian Monumen Komunitas Maluku Nasional di Rotterdam pada hari Minggu.
Dalam pidatonya, Jetten mengakui secara terbuka berbagai bentuk ketidakadilan yang pernah dialami oleh para tentara Maluku beserta keluarga mereka. Ia menyebut pemecatan yang tidak berperasaan dan tidak terhormat sebagai tentara, akomodasi serta perumahan yang tidak memadai, pengabaian, dan penelantaran yang berkepanjangan.
"Atas pemecatan Anda yang tidak berperasaan dan tidak terhormat sebagai tentara, atas akomodasi dan perumahan yang tidak memadai yang Anda terima, atas pengabaian dan penelantaran, atas kerinduan yang tak kunjung sembuh akan Tanah Air, dan atas kesedihan serta penderitaan yang dialami oleh begitu banyak keluarga Maluku, hari ini, atas nama pemerintah Belanda, saya meminta maaf. Saya meminta maaf kepada komunitas Maluku," ujar Jetten.
Ia juga menambahkan bahwa rasa sakit akibat perlakuan tersebut tidak hanya dirasakan oleh generasi pertama, melainkan juga diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Para hadirin dalam upacara tersebut memberikan tepuk tangan dan sorakan sebagai respons atas permintaan maaf itu.
Di sisi lain, Jetten menegaskan bahwa permintaan maaf harus diikuti dengan tindakan nyata. Namun, ia mengakui bahwa pemerintah Belanda belum menentukan bentuk konkret dari aksi yang akan diambil sebagai tindak lanjut.
Sebagai latar belakang, setelah kemerdekaan Indonesia, sekitar 12.500 tentara Maluku yang pernah bertugas di Angkatan Darat Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) beserta keluarga mereka dibawa ke Belanda. Mereka kemudian ditempatkan di bekas kamp konsentrasi Nazi yang tersebar di seluruh negeri.
Artikel Terkait
Toy Story 5 Raup Rp5,56 Triliun di Akhir Pekan Perdana, Rekor Baru Waralaba
Menteri Keuangan Optimistis Harga Pertamax Segera Turun Imbas Prospek Damai AS-Iran
Iran Tutup Selat Hormuz sebagai Balasan atas Serangan Israel di Lebanon
Kemnaker Proyeksikan 3,88 Juta Lapangan Kerja Hijau Tercipta pada 2026