Gala premiere film pendek berjudul “Rumah Kedua” sukses digelar di Bali, menandai sebuah pencapaian baru bagi industri perfilman nasional yang tidak sekadar bersifat seremonial. Karya sinematik ini hadir sebagai refleksi mendalam yang sarat akan pesan filosofis mengenai esensi hubungan antarmanusia, integritas, serta makna sesungguhnya dari sebuah keluarga.
CEO ARM Hospitality, Ronny Soetanto, menyatakan bahwa film ini lahir dari idealisme lama untuk menyuarakan sisi kemanusiaan dari dunia pelayanan. “Kami berharap Rumah Kedua dapat menginspirasi banyak orang untuk terus mengejar passion mereka tanpa melupakan keluarga, integritas, dan kasih sayang yang menjadi fondasi dalam setiap perjalanan hidup,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima pada Sabtu, 20 Juni 2026.
Secara naratif, film ini menyoroti potret dilematis seorang perantau yang berjuang mengejar masa depan di saat sang ayah sedang sakit keras di kampung halaman. Alur cerita emosional tersebut dirancang secara mendalam untuk membedah makna perjuangan dan pengorbanan yang kerap dialami banyak orang dalam perjalanan hidup mereka. “Lima tahun yang lalu, saya memiliki sebuah mimpi untuk menghadirkan cerita yang dapat merepresentasikan nilai-nilai kehidupan yang selama ini kami pegang di ARM Hospitality. Hari ini, mimpi tersebut akhirnya menjadi kenyataan,” ungkap Ronny.
Melalui film ini, definisi tempat tinggal digeser menjadi sebuah ruang emosional yang menyuguhkan kepedulian, kehangatan, dan rasa memiliki. Ronny menegaskan bahwa hospitality bukan sekadar tentang memberikan pelayanan, melainkan tentang bagaimana membangun hubungan, menghadirkan kepedulian, dan menciptakan rasa memiliki. “Melalui Rumah Kedua, kami ingin menunjukkan bahwa sebuah tempat dapat menjadi rumah bagi siapa saja yang berada di dalamnya,” katanya.
Di sisi lain, sinema pendek ini juga diposisikan sebagai jembatan untuk mengasah kepekaan sosial serta menumbuhkan rasa empati di tengah masyarakat modern. “Kami percaya bahwa cerita memiliki kekuatan untuk membangun empati. Jika film ini dapat membuat seseorang lebih menghargai keluarga, perjalanan hidup, atau bahkan orang-orang di sekitarnya, maka tujuan kami telah tercapai,” tutur Ronny.
Proyek idealis yang matang ini merupakan buah kolaborasi lintas negara antara ARM Hospitality Indonesia, J.Karpenter Singapore, dan 52 Studios Singapore. Di bawah arahan sutradara Cleve Low dari 52 Studios dan produser Goh Wei Woon dari J.Karpenter, “Rumah Kedua” bertransformasi menjadi sebuah karya seni yang jujur. Cleve Low menyebutkan bahwa interpretasi filosofis dalam film ini didasarkan pada realitas kehidupan yang sangat dekat dengan penonton.
“Sejak pertama kali mendengar visi dari ARM Hospitality, saya melihat bahwa ini bukan sekadar film tentang hospitality, melainkan tentang hubungan manusia, keluarga, dan pengorbanan. Kami berusaha menghadirkan cerita yang jujur dan dekat dengan realitas yang dialami banyak orang,” kata Cleve Low.
Sementara itu, produser Goh Wei Woon menambahkan bahwa kekuatan utama dari film pendek ini terletak pada pesan moralnya yang bersifat universal dan menembus batas latar belakang audiens. “Setiap orang pernah berada pada titik di mana mereka harus memilih antara impian dan keluarga. Rumah Kedua berbicara mengenai dilema tersebut dengan cara yang emosional dan autentik. Kami berharap film ini dapat menyentuh hati penonton, terlepas dari latar belakang mereka,” kata Goh Wei Woon.
Artikel Terkait
Marco Bezzecchi Diskors dari MotoGP Ceko 2026 Usai Dorong dan Pukul Marshal
Shin Tae-yong Ungkap Cara Kelola Tekanan di Persija: Persiapan Matang hingga Evaluasi Kritik Suporter
Truk Muatan Tebu Oleng Akibat Shock Patah, Tabrak Tiga Motor di Pati, Dua Tewas
Jakarta Masuk 50 Besar Kota Terbaik Dunia 2026, Kalahkan Washington DC