Gubernur Pramono Anung Rencanakan 500 Ondel-Ondel untuk Peringatan 500 Tahun Jakarta

- Sabtu, 20 Juni 2026 | 11:15 WIB
Gubernur Pramono Anung Rencanakan 500 Ondel-Ondel untuk Peringatan 500 Tahun Jakarta

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, berencana menampilkan 500 ondel-ondel dalam peringatan lima abad Jakarta pada 2027. Rencana itu disampaikan saat ia memberikan sambutan dalam Haul Akbar Ulama dan Habaib Betawi di kawasan Monas, Jumat (19/6/2026) malam.

Dalam sambutannya, Pramono menjelaskan bahwa penyelenggaraan Haul Akbar berlatar belakang ulama Betawi merupakan bagian dari amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta. Regulasi tersebut menyebutkan bahwa budaya dan kultur utama di Jakarta saat ini adalah Betawi.

"Saya menggagas dan saya berkeinginan untuk mengadakan haul ulama, Habaib, tokoh nasional, yang berlatar belakang Betawi. Kenapa saya mengusulkan ini? Sebagai gubernur, saya harus menjalankan UU No. 2/2024," ucap Pramono.

Di sisi lain, Pramono memiliki ambisi besar agar budaya Betawi mampu bersaing di kancah internasional. Salah satu ikon yang ia soroti adalah ondel-ondel, yang dinilai memiliki nilai filosofis tinggi sebagai identitas budaya Betawi.

"Saya ingin Betawi ini bisa bertarung secara internasional, maka kenapa secara pribadi sebagai gubernur contohnya, saya melarang ondel-ondel untuk menjadi cara untuk mencari ngamen. Padahal yang namanya ondel-ondel ini, saudara-saudara sekalian, nilai filosofinya luar biasa," ucap dia.

Untuk mewujudkan visi tersebut, Pramono berencana menampilkan 500 ondel-ondel dalam perayaan lima abad Jakarta. Ia bahkan akan menghadirkan ondel-ondel yang dirancang oleh desainer ternama guna memberikan wajah baru bagi ikon budaya Betawi tersebut.

"Maka untuk itu dalam rangka 500 tahun nanti, saya akan menampilkan 500 ondel-ondel yang dibuat oleh desainer-desainer top, yang akan memberikan wajah baru ondel-ondel Jakarta," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Pramono juga menceritakan pengalamannya yang kerap dikritik karena menonjolkan identitas budaya Betawi di lingkungan Balai Kota. Salah satu kebijakan yang ia terapkan adalah mewajibkan penggunaan busana khas Betawi saat kegiatan pelantikan pejabat.

"Saya sering dikritik oleh banyak orang, kenapa saya begitu kekeh untuk wajah Betawi di Balai Kota ini menjadi tampak. Bahkan setiap pelantikan pejabat tidak boleh lagi memakai pakaian jas. Harus memakai ujung serong, kebaya encim, dan sebagainya," ucapnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar