Prodia Diagnostic Line Targetkan IPO pada 9 Juli 2026, Harga Saham Rp100–Rp120

- Jumat, 19 Juni 2026 | 16:15 WIB
Prodia Diagnostic Line Targetkan IPO pada 9 Juli 2026, Harga Saham Rp100–Rp120

PT Prodia Diagnostic Line, perusahaan alat kesehatan diagnostik yang merupakan entitas asosiasi dari PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), resmi menjadwalkan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada 9 Juli 2026. Langkah ini menjadi salah satu momen yang dinantikan di pasar modal, mengingat prospek bisnis perseroan yang terkait erat dengan industri kesehatan nasional.

Saat ini, proses penawaran perdana masih berada dalam tahap penawaran awal. Perseroan membuka harga awal di kisaran Rp100 hingga Rp120 per unit saham. Dari aksi korporasi ini, PRDL menargetkan perolehan dana segar sebanyak Rp62,74 miliar. Penawaran awal berlangsung mulai 18 Juni hingga 23 Juni, kemudian dilanjutkan dengan penawaran umum pada 1–7 Juli, penjatahan efek pada 7 Juli, distribusi saham pada 8 Juli, dan akhirnya saham mulai diperdagangkan di bursa pada 9 Juli.

Bisnis utama Prodia Diagnostic Line berfokus pada produksi alat kesehatan, dengan merek dagang bernama Proline. Selain itu, perseroan juga menjalankan bisnis penunjang berupa jasa kalibrasi, perdagangan besar alat laboratorium, serta industri alat ukur dan alat uji elektronik. Untuk menunjang produksinya, PRDL memiliki pabrik di Cikarang dengan kapasitas terpasang rata-rata di atas 80 persen dan kapasitas terpakai lebih dari 90 persen.

Dari sisi prospek, perseroan mencatat memiliki 1.083 SKU aktif yang mencakup berbagai segmen produk, mulai dari hematologi, imunologi, biomolekular, hingga urinalisis. Saat ini, PRDL melayani lebih dari 7.000 fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia. Peluang bisnis juga terbuka lebar seiring dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dicanangkan pemerintah secara konsisten. Program skrining gratis ini didukung alokasi anggaran senilai Rp3,4 triliun pada 2025. Perseroan berencana berpartisipasi dalam pengadaan untuk sembilan jenis pemeriksaan yang sesuai dengan portofolio produk yang telah diproduksi secara rutin. Sebagai informasi, CKG menguji 13 jenis penyakit. Dalam prospektusnya, PRDL juga menyebut bahwa industri In Vitro Diagnostics di Indonesia berpeluang tumbuh, didorong oleh komitmen pemerintah dalam meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan.

Mengenai struktur kepemilikan, sebelum IPO terdapat tiga pihak utama yang memegang saham PRDL. PT Prodia Utama menguasai 622,20 juta saham atau 51 persen, PT Prodia Widyahusada Tbk memegang 475,80 juta saham atau 39 persen, dan Diasys Diagnostic System GmbH memiliki 122 juta saham atau 10 persen. Setelah IPO, komposisi kepemilikan akan berubah. PT Prodia Utama tetap menjadi pemegang saham terbesar dengan 622,20 juta saham atau 35,70 persen, disusul PT Prodia Widyahusada Tbk dengan 475,80 juta saham atau 27,30 persen, dan Diasys Diagnostic System GmbH dengan 122 juta saham atau 7 persen. Sementara itu, publik akan memegang 522,90 juta saham atau 30 persen. Dalam IPO ini, perseroan akan melepas 522,90 juta saham baru dengan nilai nominal Rp50 per unit dan harga penawaran Rp100 hingga Rp120 per unit.

Dana yang dihimpun dari IPO, maksimal Rp62,74 miliar, akan dialokasikan untuk beberapa keperluan. Mayoritas dana, senilai Rp35,66 miliar, digunakan untuk membayar pelunasan pokok fasilitas kredit ke PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN). Sebesar 28,92 persen dari dana akan digunakan untuk belanja modal, termasuk pembelian mesin dan alat kalibrasi, kendaraan, sistem perangkat lunak, serta penambahan AHU Lab Biomolekuler. Sisanya akan dimanfaatkan untuk modal kerja perseroan, seperti pembelian bahan baku, biaya produksi, pengembangan, dan pemasaran.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar