Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, melantik delapan pejabat struktural dan fungsional di lingkungan Kementerian Sosial dalam sebuah seremoni yang berlangsung di lobi kantor kementerian di Jakarta Pusat, Kamis malam. Pelantikan ini, menurut Gus Ipul, bukan sekadar seremonial perpindahan jabatan, melainkan sebuah proses pengalihan amanah yang jauh lebih besar.
Dalam sambutannya, Gus Ipul menegaskan bahwa tanggung jawab yang kini diemban para pejabat baru itu bersumber dari publik. “Amanah itu bukan dari saya semata, amanah itu dari rakyat, dari jutaan warga yang menggantungkan hidupnya pada layanan Kementerian Sosial,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat (19/6/2026). Ia meminta kesadaran itu melekat setiap saat, mulai dari menandatangani dokumen hingga mengambil keputusan.
Adapun delapan pejabat yang dilantik terdiri dari berbagai jenjang. Untuk Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama, Yadi Muchtar ditunjuk sebagai Kepala Biro Umum dan Salahuddin sebagai Direktur Pemberdayaan Potensi dan Sumber Daya Sosial. Sementara itu, pada level Administrator, Barus Tondra Pramana menjabat Kepala Bagian Layanan Pengadaan Barang dan Jasa, serta Agung Hendrawan sebagai Kepala Bagian Rumah Tangga, Perlengkapan, dan Barang Milik Negara, keduanya di Biro Umum.
Di sisi lain, untuk Jabatan Pengawas, Peristiwanta Pinem dipercaya sebagai Kepala Subbagian Pengamanan dan Irwan Setiawan sebagai Kepala Subbagian Perlengkapan dan Barang Milik Negara pada Biro Umum. Selain itu, dua pejabat fungsional dosen di Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung juga dilantik, yakni Laode Taufik Nuryadin dan Iyan Kusmadiana.
Gus Ipul memberikan pesan khusus mengenai integritas. Ia menekankan bahwa integritas tidak hanya diartikan sebagai ketiadaan korupsi, melainkan konsistensi antara ucapan di ruang rapat dengan tindakan di lapangan, serta antara laporan kepada menteri dengan realitas. “Integritas seperti pondasi bangunan. Kalau pondasinya retak, sekecil apapun retaknya, bangunan setinggi apapun, semewah apapun, pada akhirnya akan runtuh,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa nama baik seorang pejabat akan bertahan lebih lama dari masa jabatannya. “Jabatan Anda mungkin bertahan satu tahun, dua tahun atau lebih, tapi nama Anda akan bertahan seumur hidup. Dan nama itu akan diwariskan kepada anak cucu. Untuk itu mari kita jaga nama itu baik-baik,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Gus Ipul juga meminta para pejabat untuk menyukseskan program prioritas Presiden, Sekolah Rakyat, yang menyasar anak-anak dari keluarga tidak mampu. Ia menganalogikan program tersebut seperti ambulans yang melaju kencang membawa pasien kritis. “Tugas Anda bukan menghalanginya. Tugas Anda adalah membukakan jalan dan memastikan tidak ada yang menyabotasenya dari dalam maupun dari luar,” jelasnya.
Menteri Sosial menegaskan dua kewajiban yang tidak bisa ditawar dalam penyelenggaraan program tersebut. Pertama, larangan mutlak terhadap segala bentuk penyimpangan, penyalahgunaan anggaran, permainan proyek, atau kepentingan pribadi. “Dan saya tegaskan, saya tidak akan melindungi siapapun yang terbukti menyelewengkan program ini,” katanya dengan tegas.
Kedua, kesuksesan Sekolah Rakyat tidak hanya diukur dari bangunan fisik yang berdiri, melainkan kualitas pembelajaran, kenyamanan siswa, standar guru, menu makanan, hingga suasana asrama. “Anak-anak itu datang dari keluarga yang tidak punya apa-apa. Kita tidak boleh memberi mereka setengah-setengah,” ujarnya.
Gus Ipul juga mengingatkan para pejabat baru untuk selalu sadar akan dua sisi pengawasan. Di satu sisi, mereka diawasi oleh menteri, publik, aparat pengawas internal dan eksternal, media, masyarakat, bahkan Tuhan. Di sisi lain, mereka justru wajib menjadi pengawas bagi timnya sendiri. “Pemimpin yang baik bukan hanya berintegritas sendiri, tetapi yang membangun sistem sehingga orang di bawahnya juga terjaga, juga terproteksi dari godaan dan juga punya ruang untuk berbuat tenang,” jelasnya.
Menurutnya, pengawasan adalah bentuk kasih sayang seorang pemimpin. “Karena itu Anda sedang melindungi bawahan Anda dari kesalahan yang bisa menghancurkan karir dan masa depan mereka,” sambungnya.
Ia pun meminta seluruh pejabat untuk tegak lurus pada hukum dan aturan yang berlaku, tanpa mengambil jalan pintas yang melanggar ketentuan. “Tegak lurus pada hukum bukan soal takut dihukum. Ini soal martabat, martabat Anda sebagai pejabat negara dan martabat lembaga yang kita jaga bersama,” tegasnya. Jika ada aturan yang dinilai perlu diperbaiki, Gus Ipul mempersilakan untuk didiskusikan melalui jalur yang benar.
Selain itu, Gus Ipul mendorong terciptanya ekosistem kerja yang kondusif. Ia menginginkan unit-unit kerja di Kementerian Sosial menjadi tempat di mana orang berani bicara jujur, mengakui masalah, dan mengambil inisiatif tanpa menunggu perintah. “Jangan jadikan jabatan sebagai tembok yang memisahkan Anda dari tim. Tapi justru jadikan jabatan sebagai jembatan yang menghubungkan visi kementerian dengan kerja nyata di lapangan,” pesannya.
Terakhir, ia berpesan agar para pejabat mampu membangun super team, bukan superman. Menurutnya, pemimpin yang bekerja sendiri dan merasa hanya dirinya yang bisa diandalkan, meski tampak hebat, justru membuat unitnya rapuh. “Saya tidak butuh superman di Kementerian Sosial. Saya butuh super team,” pungkasnya.
Turut hadir dalam acara pelantikan tersebut Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico, serta sejumlah pejabat eselon I dan eselon II di lingkungan kementerian.
Artikel Terkait
4.263 Personel Gabungan Disiagakan Amankan Demo di Lima Titik Jakarta
Pembangunan Sekolah Rakyat di Pasuruan Capai 82 Persen, Ditargetkan Beroperasi Juli 2026
FAO, ARLI, dan UNRAM Kaji Tata Kelola Rumput Laut di Bone untuk Dorong Ekonomi Biru
IHSG Dibuka Melemah ke 6.161, Investor Tunggu Hasil Review MSCI dan Dampak BI Rate