Bank Indonesia (BI) mencatat lonjakan signifikan dalam pemanfaatan skema Local Currency Transaction (LCT) atau penyelesaian transaksi menggunakan mata uang lokal antara Indonesia dan China. Hingga akhir April 2026, nilai transaksi bilateral yang menggunakan rupiah dan renminbi (yuan) telah menembus angka 13 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp233,75 triliun berdasarkan kurs Rp17.981 per dolar AS. Capaian ini hanya terjadi dalam kurun waktu empat bulan pertama tahun ini.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa realisasi tersebut mencerminkan akselerasi yang sangat pesat. Sebagai perbandingan, sepanjang tahun lalu, total penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral mencapai 18 miliar dolar AS. “Alhamdulillah, Puji Tuhan, bahwa local currency transaction antara Indonesia dengan China sangat besar. Tahun lalu secara keseluruhan 18 miliar dolar AS, tahun ini empat bulan saja telah mencapai 13 miliar dolar AS,” kata Perry dalam konferensi pers RDG BI Bulanan di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Menurut Perry, implementasi mata uang lokal dalam aktivitas perdagangan dan investasi memberikan keuntungan besar bagi pelaku usaha di kedua negara. Keuntungan utama terletak pada pengurangan ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat. Strategi diversifikasi transaksi internasional ini akan terus diperkuat sebagai bagian dari benteng stabilitas moneter domestik. Melalui skema LCT, segala bentuk transaksi komersial kini dapat diselesaikan langsung tanpa perlu melalui dolar AS sebagai mata uang perantara.
“Dan ini sejalan dengan garis kebijakan China untuk internasionalisasi renminbi. Local currency transaction,” kata Perry.
Untuk mendukung pertumbuhan ini, BI juga gencar memperluas interkoneksi sistem pembayaran lintas negara. Langkah ini bertujuan memfasilitasi penyelesaian transaksi secara menyeluruh dari hulu ke hilir. Selain dengan China, jalinan kemitraan serupa terus dikembangkan bersama Jepang, Korea Selatan, serta sejumlah negara di kawasan ASEAN.
Bank sentral menegaskan bahwa keandalan infrastruktur sistem pembayaran merupakan jangkar utama dalam menyokong lalu lintas keuangan antarnegara. Oleh karena itu, perluasan konektivitas ini digarap serius, mulai dari implementasi QRIS untuk transaksi ritel hingga optimalisasi sistem Real Time Gross Settlement (RTGS) untuk pemindahan dana bernilai besar.
Perry memberikan apresiasi tinggi atas keberhasilan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk bersama tiga perbankan asal China yang kini telah terhubung langsung dengan sistem pembayaran wholesale China melalui jaringan Cross-Border Interbank Payment System (CIPS). “Jadi kerjasama sistem pembayaran menjadi sangat-sangat penting dan ini salah satu kemajuan bahwa penyelesaian transaksi antara Indonesia dengan China tidak hanya sudah local currency, tapi juga penyelesaiannya melalui infrastruktur sistem pembayaran yang end-to-end dari depan sampai ke belakang,” kata dia.
Sementara itu, tren positif penggunaan LCT dinilai membawa dampak turunan bagi agenda pendalaman pasar uang serta pasar valuta asing di dalam negeri. Likuiditas transaksi langsung rupiah-renminbi di pasar domestik sudah sangat berkembang, baik untuk kebutuhan transaksi tunai, transaksi spot, maupun penempatan pada instrumen lindung nilai seperti forward dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Seluruh lini transaksi tersebut dapat diakses masyarakat melalui jaringan bank domestik maupun lembaga keuangan yang telah ditunjuk resmi oleh Bank Sentral China, atau yang dikenal sebagai Appointed Cross Currency Dealer (ACCD).
Menariknya, konektivitas pasar rupiah-renminbi saat ini telah terhubung langsung secara terintegrasi dengan daratan China hingga Hong Kong. “Jadi transaksi rupiah, transaksi ekonomi, perdagangan dan didukung oleh kerjasama lokal currency dimanfaat di dalam negeri rupiah, Tiongkok dan melalui instrumen dan kerjasama lokal currency,” ujar Perry.
Artikel Terkait
PTPN III Gelar Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis untuk Dorong Budaya Hidup Sehat
Polri Buru Dua Tersangka Penyelundupan 64 Kg Sabu dari Malaysia
Angkot Terguling di Sumedang, Belasan Pelajar SMP Luka-Luka
OJK Dorong Direksi BEI yang Baru Perkuat Tata Kelola dan Integritas Pasar Modal