Seorang artis ibu kota menuai sorotan setelah mengunggah permintaan anaknya untuk mengikuti upacara melukat di Bali. Unggahan itu memicu perbincangan tentang batas antara menghargai budaya dan menjaga akidah dalam Islam.
Melukat adalah ritual penyucian diri dalam tradisi Hindu Bali. Kata ini berasal dari su yang berarti baik atau indah, dan lukat yang berarti pembersihan. Upacara ini merupakan bagian dari yadnya, persembahan suci, yang bertujuan membersihkan diri dari kotoran (mala) baik secara fisik maupun spiritual.
Meski berakar dari agama Hindu, praktik melukat di Bali terbuka untuk siapa saja, tidak terbatas pada pemeluk Hindu. Hal inilah yang menjadi alasan sang artis mengizinkan anaknya ikut serta. "Itu hal positif, biar tahu budaya di sini. Nilai keimanan merupakan urusan keyakinan pribadi yang ada dalam hati," ujarnya.
Pernyataan itu mencerminkan anggapan bahwa mengikuti ritual keagamaan bisa dipisahkan dari keyakinan selama dimaknai sebagai pengenalan budaya. Namun, dalam Islam, ritual keagamaan tidak bisa dilepaskan dari akidah. Islam menegaskan bahwa ketaatan adalah konsekuensi logis dari keimanan. Seorang Muslim yang beriman kepada Allah wajib menaati aturan-Nya, termasuk menjauhi ritual ibadah agama lain.
Dasar larangan ini merujuk pada Al-Qur'an surah Al-Kafirun ayat 6 yang artinya, "Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku." Karena itu, menurut ajaran Islam, seorang Muslim tidak diperbolehkan melakukan upacara melukat.
Peran Orang Tua dalam Menjaga Akidah Anak
Dalam Islam, orang tua adalah fondasi pertama bagi anak dalam menanamkan ketaatan kepada Allah. Mereka tidak hanya bertugas mengenalkan siapa Tuhan, tetapi juga menanamkan akidah yang benar. Orang tua wajib mengajarkan bahwa Allah adalah satu-satunya Zat yang layak disembah, dan bahwa kita harus beriman serta taat kepada-Nya.
Rasulullah saw. bersabda, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya penganut agama Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari dan Muslim). Fitrah yang dimaksud adalah Islam. Maka, tugas orang tua Muslim adalah membimbing anak agar tetap berada dalam agama Islam, sebagaimana ia dilahirkan.
Pada kasus ini, muncul pertanyaan: apakah keputusan sang artis merupakan bentuk kasih sayang yang ingin memenuhi rasa penasaran anak, atau justru pembebasan agar anak mencari Tuhannya sendiri? Jika didasarkan pada kasih sayang, sangat disayangkan karena tindakan itu justru dapat menjerumuskan anak pada hal yang merusak akidah.
Melakukan ritual agama lain dipandang sebagai perbuatan berat dalam Islam dan berkaitan dengan syirik. Hal ini dapat merusak keimanan, bahkan dalam sebagian pandangan ulama dapat membatalkan keislaman seseorang. Apabila keimanan benar-benar tertanam, seseorang tidak akan terpikir untuk melakukan ritual agama lain, karena ketaatannya kepada Allah dan rasa takut terhadap dosa besar.
Keimanan tidak cukup hanya di dalam hati, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dengan menjalankan perintah-perintah-Nya. []