Presiden Rusia Vladimir Putin menjamu para pemimpin negara-negara Asia Tenggara dalam pertemuan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang digelar di Kazan, Rabu (18/06) lalu. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Moskow untuk memperkuat hubungan bisnis dan kerja sama dengan negara-negara anggota blok regional tersebut di tengah tekanan sanksi Barat yang terus berlanjut.
Pertemuan dua hari yang berlangsung di ibu kota Republik Tatarstan, sekitar 700 kilometer di timur Moskow itu, membahas berbagai strategi untuk memperluas “kemitraan strategis” Rusia dengan ASEAN. Menurut penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, agenda utama forum ini mencakup pertukaran pandangan mengenai isu global dan regional serta evaluasi pengembangan hubungan bilateral.
Dalam beberapa tahun terakhir, Putin gencar memperdalam hubungan politik dan ekonomi dengan negara-negara Asia. Hal ini tidak terlepas dari perang Ukraina yang telah memasuki tahun kelima dan membuat hubungan Rusia dengan negara-negara Barat semakin memburuk.
Ushakov mengonfirmasi bahwa negara-negara ASEAN yang hadir dalam pertemuan tersebut meliputi Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam. Blok regional ini tetap mempertahankan hubungan dengan Moskow sebagai “mitra dialog” dan secara rutin menggelar pertemuan tingkat tinggi tahunan. Pertemuan di Kazan sekaligus menandai 35 tahun hubungan diplomatik Rusia dan ASEAN.
Sejumlah kepala pemerintahan hadir secara langsung. Thailand, Vietnam, Kamboja, Laos, Malaysia, dan Singapura mengirimkan perdana menterinya. Filipina diwakili oleh Presiden Ferdinand Marcos Jr., sementara Myanmar juga mengirimkan delegasi. Dalam sambutannya di forum bisnis yang berlangsung di sela-sela pertemuan, Putin menyatakan keyakinannya bahwa forum tersebut akan membuka peluang baru untuk memperluas kerja sama perdagangan, investasi, dan industri yang saling menguntungkan.
“Forum ini akan menciptakan peluang baru untuk memperluas kerja sama perdagangan, investasi, dan industri yang saling menguntungkan, sekaligus memperkuat dialog langsung antara komunitas bisnis,” kata Putin dalam pesan yang disampaikan kepada peserta forum bisnis.
Di sisi lain, Ushakov menambahkan bahwa para peserta juga akan menegaskan komitmen terhadap pembentukan “tatanan dunia multipolar yang adil dan demokratis berdasarkan prinsip-prinsip hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).” Ia memuji apa yang disebutnya sebagai “dialog yang produktif, setara, dan konstruktif” antara Rusia dan ASEAN.
Selain forum multilateral, Putin juga dijadwalkan menggelar sejumlah pertemuan bilateral dengan para pemimpin ASEAN. Pertemuan tersebut dipimpin bersama oleh Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr., yang saat ini memegang keketuaan bergilir ASEAN. Saat membuka pertemuan bilateral dengan Marcos, Putin menyoroti “kerja sama yang saling menguntungkan” antara kedua negara yang dibangun di atas tradisi yang baik, saling menghormati, dan mempertimbangkan kepentingan sah masing-masing pihak.
Marcos berterima kasih kepada Putin karena telah menyelenggarakan pertemuan Rusia-ASEAN di Kazan dan mengundangnya menghadiri KTT ASEAN di Manila pada November mendatang. Selain Marcos, Putin juga mengadakan pertemuan dengan Sultan Brunei Hassanal Bolkiah dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Menurut kantor berita nasional Malaysia, Anwar berencana membahas upaya “memastikan pasokan minyak dapat terus disalurkan” ke negaranya.
Isu energi menjadi perhatian serius sejumlah negara Asia. Gejolak harga energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah dan gangguan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz telah mendorong beberapa negara ASEAN, termasuk Filipina, Indonesia, Thailand, dan Vietnam, untuk mengimpor minyak mentah Rusia atau menyatakan minat membelinya setelah harga energi dunia melonjak akibat perang Iran.
Sementara itu, di tengah upaya memperkuat hubungan dengan Asia, Rusia menghadapi tantangan ekonomi yang tidak ringan. Inflasi yang tinggi, kekurangan tenaga kerja, dan tingginya biaya pinjaman terus membebani perekonomian negara tersebut. Di medan perang Ukraina, laju kemajuan pasukan Rusia dilaporkan melambat sepanjang tahun ini. Ukraina juga meningkatkan serangan ke wilayah Rusia, termasuk ke Tatarstan, lokasi penyelenggaraan pertemuan Rusia-ASEAN.
Pertemuan di Kazan berlangsung bersamaan dengan KTT G7 di Prancis yang menjadikan perang Ukraina dan konflik di Timur Tengah sebagai agenda utama pembahasan. Dalam pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di sela KTT G7, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyerukan agar Moskow mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang Ukraina. Trump juga mengatakan Washington dapat kembali memberlakukan sanksi terhadap minyak Rusia.
Dalam resepsi resmi bagi para kepala delegasi pada Rabu malam, Putin menekankan kesamaan pandangan antara Rusia dan negara-negara ASEAN terkait pembentukan tatanan dunia yang lebih adil. “Rusia dan negara-negara ASEAN bersama-sama mendukung pembentukan tatanan dunia yang adil serta membela prinsip kesetaraan kedaulatan negara dan nonintervensi dalam urusan dalam negeri,” kata Putin.
“Semua negara kita menjalankan model pembangunannya masing-masing dan tidak memaksakan pandangannya kepada siapa pun. Dan inilah kekuatan kita,” lanjutnya. “Rusia siap melanjutkan kerja sama aktif dengan negara-negara anggota ASEAN untuk memperkuat kemitraan strategis demi menjamin keamanan, kesejahteraan, dan kemakmuran negara serta rakyat kita, juga kawasan Eurasia secara keseluruhan.”
Di sela pertemuan tersebut, Putin juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, yang sehari sebelumnya menggelar pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Moskow. Putin memuji hubungan Rusia dan Turki yang menurutnya “terus berkembang secara stabil”, sementara Fidan mengatakan kedua pihak memiliki banyak isu untuk dibahas.
Sejumlah negara anggota ASEAN memiliki orientasi geopolitik yang berbeda-beda. Beberapa negara, termasuk Filipina, dinilai dekat dengan Amerika Serikat, sementara negara lain memiliki hubungan perdagangan dan keamanan yang kuat dengan China maupun Rusia. Kondisi ini menunjukkan dinamika kompleks yang mewarnai hubungan Rusia dengan kawasan Asia Tenggara di tengah ketegangan global yang terus meningkat.
Artikel Terkait
Empat Prajurit TNI Banding Vonis Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS
Pemerintah Pastikan Tak Akan Impor Beras, Stok Nasional 5,2 Juta Ton Dinilai Berlimpah
Harga Beras, Minyak Goreng, dan Bawang Putih Masih Naik, Cabai Justru Turun
Perwira Israel yang Tewas di Lebanon Terkait Pembunuhan Bocah Palestina Hind Rajab di Gaza