Kementan Siapkan Langkah Antisipasi dan Mitigasi Hadapi Musim Kemarau 2026

- Rabu, 17 Juni 2026 | 20:00 WIB
Kementan Siapkan Langkah Antisipasi dan Mitigasi Hadapi Musim Kemarau 2026

Kementerian Pertanian menyiapkan serangkaian langkah antisipasi, adaptasi, dan mitigasi yang lebih terukur untuk menghadapi musim kemarau 2026. Langkah ini ditempuh demi menjaga stabilitas produksi pangan nasional di tengah tantangan iklim yang dinamis. Dengan mengandalkan penguatan infrastruktur air, penyediaan benih unggul, modernisasi pertanian, serta sinergi dengan pemerintah daerah, optimisme terhadap keberlanjutan swasembada pangan tetap dijaga.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Suwandi, menegaskan bahwa sektor pangan bukan sekadar urusan kebutuhan pokok, melainkan fondasi ketahanan dan kedaulatan bangsa. Oleh karena itu, pemerintah terus menggencarkan berbagai upaya agar produksi pangan tetap berjalan optimal meskipun kondisi iklim tidak selalu bersahabat.

“Pangan bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi kebutuhan strategis bangsa. Menjaga pangan berarti menjaga kedaulatan dan masa depan negara,” ujar Suwandi dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Menurut Suwandi, Presiden Prabowo Subianto telah mengarahkan agar sektor pertanian menjadi pilar utama dalam agenda pembangunan nasional lima tahun ke depan. Arahan itu mencakup dukungan terhadap swasembada pangan, program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengembangan biofuel, serta hilirisasi pertanian.

Ia menambahkan, Indonesia memasuki musim kemarau tahun ini dengan kesiapan yang jauh lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Sejumlah program penguatan produksi telah berjalan, seperti optimasi lahan, cetak sawah baru, pembangunan irigasi perpompaan, penyediaan benih unggul, hingga penguatan koordinasi antara pusat dan daerah.

Kondisi iklim tahun ini, menurut Suwandi, tidak bisa disamakan dengan fenomena El Nino kuat yang melanda pada 2015 maupun 2023. Berdasarkan pemantauan data iklim dari BMKG dan satelit NOAA, musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung dalam situasi yang lebih terkendali.

“Kalau melihat data yang kami pantau setiap hari, kondisi 2026 tidak seberat 2015 dan juga tidak seberat 2023. Karena itu yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, bukan menimbulkan kekhawatiran berlebihan,” katanya.

Meski demikian, kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat puncak musim kemarau di Indonesia diprediksi terjadi pada Juli hingga September. Sejak awal tahun, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah menginstruksikan seluruh pemerintah daerah untuk memperkuat langkah antisipatif terhadap potensi kekeringan.

Melalui surat edaran yang dikirim kepada gubernur dan bupati pada 9 Maret 2026, pemerintah daerah diminta melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan, memperkuat sistem peringatan dini, memperbaiki jaringan irigasi, menormalisasi saluran air, serta mengoptimalkan embung dan waduk yang ada.

“Kita minta daerah melakukan pemetaan wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan sehingga langkah-langkah penyelamatan bisa dilakukan lebih cepat dan lebih tepat,” jelas Suwandi.

Di sisi lain, Kementerian Pertanian terus memperbarui informasi cuaca dan iklim melalui pemantauan BMKG dan satelit NOAA. Data tersebut digunakan agar petani dapat menyesuaikan pola tanam sesuai kondisi lapangan. Pemerintah juga telah menyiapkan varietas unggul yang lebih adaptif terhadap kekeringan, seperti Inpari, Inpago, Situbagendit, Situ Patenggang, Pajajaran, dan varietas genjah lainnya.

Dalam aspek adaptasi, Kementan mendorong penerapan teknologi hemat air, penggunaan varietas berumur pendek, percepatan tanam setelah panen, serta pengaturan pola tanam yang lebih efisien. Suwandi menjelaskan bahwa jarak antara panen dan tanam kembali diupayakan tidak lebih dari 14 hari agar frekuensi tanam dapat meningkat.

“Kalau selama ini tanam dua kali setahun, kita dorong menjadi tiga kali. Yang sebelumnya satu kali kita dorong menjadi dua kali. Dengan lahan yang sama, produksi bisa meningkat karena frekuensi tanamnya bertambah,” ujarnya.

Petani juga didorong memanfaatkan lahan secara lebih optimal melalui pola tumpang sari dengan komoditas seperti kacang tanah, kacang hijau, dan sayuran. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan petani.

Menurut Suwandi, musim kemarau tidak selalu identik dengan penurunan produksi. Dengan pengelolaan air yang baik, musim kemarau justru bisa menjadi momentum peningkatan produktivitas karena tingginya intensitas sinar matahari yang mendukung proses fotosintesis tanaman.

“Di saat musim kemarau, pencahayaan matahari sangat baik sehingga produktivitas tanaman bisa meningkat. Ini justru menjadi peluang untuk meningkatkan produksi apabila dikelola dengan teknologi yang tepat,” katanya.

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah memperkuat pengembangan irigasi perpompaan yang menjadi salah satu strategi utama menghadapi perubahan iklim. Tahun ini, pemerintah menyiapkan tambahan pompa yang mampu melayani sekitar satu juta hektare lahan pertanian. Program ini melengkapi sistem perpompaan yang sebelumnya telah mendukung pengairan sekitar dua juta hektare lahan di berbagai wilayah.

“Kekuatan utama kita menghadapi musim kemarau adalah sistem perpompaan, pengelolaan sumber air dari waduk, embung, sungai maupun sumur yang terhubung dengan teknologi dan energi yang memadai,” ujar Suwandi.

Kementerian Pertanian juga memperkuat sinergi dengan Kementerian Pekerjaan Umum, PLN, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk memastikan ketersediaan air dan energi bagi operasional pompa di lapangan.

Selain menjaga produksi, pemerintah memberikan perlindungan kepada petani melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dengan nilai pertanggungan hingga Rp6 juta per hektare bagi lahan yang mengalami gagal panen akibat bencana. Petani terdampak kekeringan juga akan mendapatkan bantuan benih gratis, sarana produksi, dukungan alat dan mesin pertanian, serta pendampingan untuk percepatan tanam kembali.

Untuk memperkuat kesiapsiagaan nasional, pemerintah pada 2026 mengalokasikan sekitar 57 ribu unit pompa air dan berbagai alat mesin pertanian lainnya. Dengan seluruh langkah itu, Kementerian Pertanian optimistis produksi pangan nasional tetap terjaga dan target swasembada pangan dapat terus diperkuat meskipun menghadapi tantangan musim kemarau.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar