Fadli Zon Sebut IMF Kembali Tawarkan Pinjaman ke RI, Puji Prabowo Tolak agar Tak Terjebak Lagi

- Rabu, 17 Juni 2026 | 16:35 WIB
Fadli Zon Sebut IMF Kembali Tawarkan Pinjaman ke RI, Puji Prabowo Tolak agar Tak Terjebak Lagi

Menteri Kebudayaan sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, mengkritik pola intervensi Dana Moneter Internasional (IMF) yang dinilainya tidak pernah berubah dan kerap menjebak negara-negara penerima bantuan, termasuk Indonesia. Dalam pernyataannya, ia secara spesifik menyoroti fenomena yang disebutnya sebagai IMF trap atau jebakan IMF yang pernah dialami Indonesia pada era krisis moneter 1997–1998, serta mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang dinilai berhasil menghindari jebakan serupa di tengah tekanan ekonomi global saat ini.

Fadli menyampaikan pandangan tersebut saat berbincang dengan wartawan di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta Pusat, pada Rabu (17/6/2026). Ia mengawali pernyataannya dengan menegaskan bahwa IMF selalu menggunakan resep kebijakan yang sama dari masa ke masa, tanpa mempertimbangkan kondisi spesifik masing-masing negara.

“Memang kalau kita lihat situasinya tetap sama karena the same playbook ya. Kalau kita lihat, IMF selalu mempunyai resep yang sama, one size fits all. Itu rumus-rumus neoliberal, privatisasi, liberalisasi pasar, free trade, dan segala macam unsur-unsurnya. Mereka punya resep sepuluh poin yang dibuat oleh Washington Consensus, oleh John Williamson tahun 90-an,” ujar Fadli.

Menurut Fadli, IMF baru-baru ini kembali menawarkan pinjaman kepada Indonesia di tengah gejolak nilai tukar rupiah. Namun, ia memuji keputusan Presiden Prabowo yang tidak menerima tawaran tersebut. Ia menilai langkah itu merupakan sikap strategis agar Indonesia tidak kembali terperangkap dalam skema pinjaman yang disertai syarat-syarat ketat.

“Nah, tentu menurut saya, kita tidak mau lagi menerima IMF. Itu satu hal yang sangat baik, dan itu saya kira keputusan Presiden. Karena pasti kalau kita ikut IMF, kita akan masuk di dalam jebakan IMF lagi, IMF trap, dengan letter of intent yang ini tidak boleh, itu tidak boleh. Pokoknya Indonesia itu tidak boleh maju, intinya itu kalau IMF,” tegasnya.

Fadli kemudian merujuk pada pengalaman pahit Indonesia saat krisis moneter 1997–1998. Ia menilai bahwa alih-alih memberikan solusi, IMF justru memperburuk keadaan. “Pengalaman tahun 97–98, IMF itu bukan memberi obat, tapi memberi racun. Memberi racun, dan ini dikatakan oleh Jeffrey Sachs, ekonom hebat yang masih hidup sampai sekarang. Apa yang dilakukan oleh IMF itu adalah menyiram bensin di tengah api,” ujar dia.

Ia juga menyoroti kebijakan yang tidak diambil Indonesia saat itu, yakni renegosiasi utang. Menurut Fadli, depresiasi rupiah seharusnya direspons dengan restrukturisasi utang, seperti yang dilakukan Korea Selatan dan Thailand. Namun, Indonesia tidak bisa mengambil langkah serupa karena tekanan dari agenda IMF.

“Karena ketika terjadi depresiasi rupiah, seharusnya mudah saja. Tidak perlu menjadi sarjana ekonomi, tidak perlu jadi ekonom. Harusnya renegosiasi utang-utang yang ada di-rollover, direstrukturisasi. Tapi itu tidak terjadi pada Indonesia. Ini terjadi pada Korea, pada Thailand tahun 97–98, tapi pada Indonesia tidak,” jelas Fadli Zon.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar