Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa helikopter tempur AH-64 Apache milik Angkatan Darat AS jatuh di dekat Selat Hormuz setelah ditembak oleh militer Iran. Insiden yang terjadi pada Senin (8/6/2026) itu langsung memicu reaksi keras dari Trump, yang berjanji akan segera membalas serangan tersebut.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui akun Truth Social, Trump mengklaim telah menerima laporan langsung dari jajaran militernya. “Saya baru saja diberitahu oleh militer hebat kita, tadi malam Iran menembak jatuh salah satu helikopter Apache kita yang sangat canggih, saat berpatroli di atas Selat Hormuz,” tulisnya, sebagaimana dikutip pada Rabu (10/6/2026).
Menurut Trump, dua kru yang berada di dalam helikopter tersebut berhasil diselamatkan oleh drone laut milik Amerika Serikat. “Ada dua pilot yang terlibat, keduanya selamat dan tidak terluka. Meski demikian, Amerika Serikat harus, karena kebutuhan mendesak, membalas serangan ini,” ujarnya tanpa merinci bentuk pembalasan yang dimaksud.
Peristiwa ini menjadi insiden pertama jatuhnya helikopter tempur sejak konflik dengan Iran pecah pada 28 Februari lalu. Komando Pusat AS (Centcom) sebelumnya menyatakan bahwa kedua pilot berhasil dievakuasi dalam waktu sekitar dua jam setelah kejadian dan berada dalam kondisi stabil. Helikopter tersebut disebut ditembak jatuh di dekat pantai Oman saat menjalankan misi patroli.
“Upaya penyelamatan dipimpin oleh Komando Angkatan Laut Pusat AS dan Divisi Lintas Udara ke-82, dengan dukungan dari unit Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS termasuk Gugus Tugas 59 Armada ke-5 AS,” demikian bunyi pernyataan resmi Centcom. Drone laut yang digunakan dalam operasi penyelamatan dioperasikan oleh Satuan Tugas 59, sebuah unit berbasis di Bahrain yang mulai beroperasi pada 2024. Satuan ini bertugas memperkuat keamanan maritim di kawasan Timur Tengah melalui penempatan sistem tanpa awak.
Sementara itu, beberapa menit sebelum pernyataan Trump, kepala juru runding Iran yang juga merangkap sebagai ketua parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengunggah pesan di media sosial. Ia menyampaikan bahwa militernya menginginkan jalur diplomasi, tetapi juga siap berperang. “Kami lebih menyukai bahasa diplomasi, tapi kami berbicara bahasa lain jauh lebih fasih. Langgar komitmen Anda, dan kami akan beralih ke bahasa yang paling kami kuasai,” ujarnya, menggunakan kalimat kiasan yang merujuk pada kesiapan berperang.
Artikel Terkait
OJK: Program Penjaminan Polis Jadi Fondasi Baru Perlindungan Pemegang Polis
Joey Pelupessy Akui Duet dengan Ivar Jenner di Lini Tengah Timnas Indonesia Mulai Tumbuh
TNI Bantah Sekolah di Ende Digusur untuk Bangun Koperasi, Beberkan Kronologi Kerusakan Bangunan
DPR Sahkan UU Polri, Penyandang Disabilitas Kini Bisa Daftar Jadi Anggota Polisi