Wall Street menutup perdagangan dengan kenaikan tipis pada Selasa (2/6/2026) di tengah volatilitas yang tinggi. Investor berusaha membaca arah pasar di tengah sinyal yang saling bertentangan mengenai perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran, serta perkembangan terbaru di sektor kecerdasan buatan (AI).
Indeks acuan S&P 500 berhasil naik 0,1 persen dan ditutup pada level 7.610,51 poin sebuah pencapaian baru karena untuk pertama kalinya indeks ini bertahan di atas angka 7.600. Sementara itu, Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi nyaris tak bergerak dan berakhir di 27.093,90 poin. Dow Jones Industrial Average, yang mewakili saham-saham unggulan, mencatat penguatan 0,5 persen dan ditutup pada 51.308,46 poin. Ketiga indeks utama ini mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa.
Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Baku tembak di Teluk dan operasi militer Israel di Lebanon mengancam gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung sejak awal April. Situasi semakin tidak menentu setelah kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, pada Senin melaporkan bahwa tim negosiasi Teheran menangguhkan “dialog dan pertukaran teks” yang dimediasi dengan AS. Langkah ini disebut sebagai respons terhadap aksi militer di Lebanon dan pelanggaran gencatan senjata di berbagai lini. Tasnim juga menyebut Iran akan “sepenuhnya memblokir” Selat Hormuz yang strategis.
Namun, Presiden AS Donald Trump pada Senin membantah laporan tersebut. Ia menegaskan bahwa pembicaraan dengan Iran “berlanjut, dengan kecepatan yang cepat.” Pernyataan itu kemudian dibantah lagi oleh Kantor Berita Fars Iran pada Selasa. Mengutip sumber yang mengetahui langsung, kantor berita tersebut mengatakan bahwa saat ini tidak ada pertukaran pesan dengan AS. Pertukaran disebut telah dihentikan setidaknya selama beberapa hari, meskipun sebelumnya ada upaya untuk mencapai nota kesepahaman awal antara kedua negara.
Trump kembali merespons melalui platform Truth Social. Ia menyebut laporan tersebut sebagai “berita palsu” dan menegaskan bahwa percakapan antara kedua pihak berlangsung terus-menerus.
“Laporan berita palsu yang menyatakan bahwa Republik Islam Iran dan AS berhenti berbicara beberapa hari yang lalu adalah salah dan keliru. Percakapan antara kami telah berlangsung terus-menerus, termasuk empat hari yang lalu, tiga hari yang lalu, dua hari yang lalu, satu hari yang lalu, dan hari ini,” tulis Trump.
Ia menambahkan, “Ke mana arahnya, kita tidak pernah tahu, tetapi seperti yang saya katakan kepada Iran, ‘Sudah waktunya, dengan cara apa pun, bagi Anda untuk membuat kesepakatan. Anda telah melakukan ini selama 47 tahun, dan ini tidak dapat dibiarkan berlanjut lebih lama lagi!’”
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dalam sidang di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat, menyatakan bahwa pihaknya masih dalam proses pembicaraan dengan Iran.
Beralih dari dinamika geopolitik, saham teknologi menjadi pusat perhatian setelah serangkaian pengumuman besar di bidang AI. Alphabet, perusahaan induk Google, mengumumkan rencana penggalangan modal ekuitas senilai 80 miliar dolar AS. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai infrastruktur AI yang kian membengkak biayanya. Rencana ini terdiri dari penawaran publik yang dijamin sebesar 30 miliar dolar AS terbagi dalam saham depositori yang mewakili saham preferensi konvertibel wajib, saham biasa Kelas A, dan saham modal Kelas C serta penawaran di pasar terbuka sebesar 40 miliar dolar AS yang dijadwalkan pada kuartal ketiga tahun 2026. Berkshire Hathaway, konglomerasi milik Warren Buffett, juga telah sepakat menyuntikkan 10 miliar dolar AS melalui penempatan pribadi.
Kepala strategi pasar di Jones Trading, Michael O’Rourke, menilai langkah Alphabet ini menambah tekanan pada perusahaan hyperscaler lainnya. Pasar kini memperkirakan perusahaan-perusahaan tersebut kemungkinan harus mengikuti jejak Google.
“Pernyataan Jensen Huang bahwa ia memperkirakan Marvell Technology akan menjadi perusahaan bernilai triliun dolar suatu hari nanti telah membuat sahamnya naik hampir 30 persen. Saham perusahaan memori melemah setelah SK Hynix mengatakan berencana untuk menggandakan kapasitas produksi memorinya selama lima tahun ke depan,” ujar O’Rourke kepada Investing.com, Rabu (3/6/2026).
Pengumuman Alphabet ini muncul hanya sehari setelah Anthropic, perusahaan rintisan AI pengembang Claude, mengajukan pernyataan pendaftaran draf secara rahasia untuk debut pasar yang diusulkan. Langkah ini menempatkan Anthropic lebih maju dari pesaingnya, OpenAI, dalam perlombaan menjadi perusahaan publik di sektor AI.
Sementara itu, saham Marvell Technology melonjak lebih dari 32 persen. CEO Nvidia, Jensen Huang, menyatakan bahwa perusahaan semikonduktor ini berpotensi menjadi “perusahaan triliun dolar” berikutnya. Pada penutupan perdagangan terakhir, kapitalisasi pasar Marvell masih berada di bawah 192 miliar dolar AS. Huang juga mengklaim bahwa Nvidia memiliki pasokan yang cukup untuk memenuhi pertumbuhan permintaan CPU dan GPU yang didorong oleh AI. Saham Nvidia sendiri justru turun 0,7 persen.
Di tempat lain, Hewlett Packard Enterprise mencatatkan hasil kuartal kedua yang memecahkan rekor dan mempercepat target keuangan jangka panjangnya hingga dua tahun. Ekspansi pusat data AI meningkatkan permintaan untuk server dan produk jaringannya, mendorong saham perusahaan melonjak lebih dari 19 persen.
Dari sisi data ekonomi, perhatian tertuju pada laporan Ringkasan Lowongan Kerja dan Perputaran Tenaga Kerja (JOLTS) bulan April. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa jumlah lowongan pekerjaan mencapai 7,618 juta jauh di atas perkiraan konsensus sebesar 6,860 juta dan angka revisi naik pada Maret sebesar 6,887 juta. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak Mei 2024.
Data tersebut mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja AS masih kuat, memperkuat tren yang terlihat dalam laporan pekerjaan pada Maret dan April sebelumnya. Kondisi ini kemungkinan akan membuat Federal Reserve (The Fed) tetap fokus pada aspek inflasi dari mandat gandanya. Para pelaku pasar kini menantikan laporan pekerjaan bulan Mei yang akan dirilis pada Jumat.
Kepala ekonom AS di Fifth Third Commercial Bank, Bill Adams, menilai laporan lowongan kerja ini bernada hawkish bagi prospek suku bunga The Fed. Namun, ia menambahkan bahwa sinyal tersebut cukup lemah setelah mempertimbangkan detail laporan secara keseluruhan.
“Untuk saat ini, pasar keuangan lebih fokus pada Selat Hormuz sebagai pendorong prospek suku bunga. Jika konflik Iran bergeser ke belakang, kendala pasokan tenaga kerja kemungkinan akan mengambil alih peran sentral dalam perhitungan pasar,” ujar Adams.
Artikel Terkait
Pasien Tusuk Perawat di Klinik Gigi Tangerang Usai Pembersihan Karang Gigi
Manchester United Capai Kesepakatan Penuh dengan Atalanta untuk Gelandang Éderson
Dadang Hindayana Akui Pencopotan dari Kepala BGN adalah Hak Mutlak Presiden Prabowo
Rusia Kecam Ekspansi Militer Israel di Lebanon, Peringatkan Risiko Nasib Seperti Gaza