Pemerintah Amerika Serikat mulai bergerak menyiapkan pencetakan uang kertas pecahan 250 dolar AS yang akan menampilkan potret Presiden Donald Trump, sebuah langkah yang masih menunggu persetujuan Kongres. Rencana ini muncul setelah para sekutu Trump di parlemen mengajukan rancangan undang-undang baru yang secara khusus memungkinkan penerbitan uang kertas tersebut.
Undang-undang federal saat ini melarang pencetakan uang dengan gambar seseorang yang masih hidup. Namun, anggota DPR AS dari Partai Republik, Joe Wilson, yang mewakili Negara Bagian South Carolina, telah mengajukan legislasi baru tahun lalu untuk menembus aturan tersebut. Rancangan undang-undang itu kini memerlukan persetujuan dari DPR dan Senat AS sebelum dapat berlaku.
Menanggapi usulan tersebut, seorang juru bicara Departemen Keuangan menyatakan bahwa lembaganya sedang melakukan perencanaan yang sesuai dan uji tuntas. Dalam pernyataannya, juru bicara itu menegaskan bahwa jika mandat legislatif ini ditandatangani menjadi undang-undang, Biro Pengukiran dan Percetakan (BEP) akan bergerak secara proaktif untuk memproduksi uang peringatan 250 dolar AS yang secara tepat mengakui peringatan 250 tahun berdirinya negara tersebut.
Para anggota parlemen di balik usulan ini beralasan bahwa nominal 250 dolar AS dipilih untuk melambangkan peringatan 250 tahun kemerdekaan AS yang jatuh pada tahun ini. Jika disahkan, uang kertas tersebut akan menjadi contoh terbaru dari upaya Trump dan para sekutunya untuk menempatkan wajah, nama, serta kemiripan sang presiden pada institusi dan simbol nasional. Sebelumnya, tanda tangan Trump juga sudah dijadwalkan muncul pada uang kertas AS sebagai bagian dari perayaan yang sama.
Konsep artistik untuk uang kertas 250 dolar AS belum dirilis ke publik. Namun, desain telah diminta oleh BEP, sublembaga Departemen Keuangan yang mengembangkan dan memproduksi mata uang AS. Washington Post menjadi media yang pertama kali melaporkan rencana ini.
Di sisi lain, langkah ini berpotensi bertentangan dengan undang-undang federal lain yang secara spesifik menetapkan denominasi uang yang boleh diproduksi. Aturan yang berlaku saat ini tidak mencakup pecahan 250 dolar AS. Uang kertas pecahan terbesar yang dicetak sekarang adalah 100 dolar AS yang menampilkan Benjamin Franklin, salah satu bapak pendiri AS. Meskipun demikian, AS sebelumnya pernah menerbitkan uang kertas dengan nilai lebih besar, seperti 500 dolar AS, 1.000 dolar AS, dan 10.000 dolar AS, tetapi praktik itu dihentikan pada tahun 1969. Uang pecahan besar tersebut masih dianggap sebagai alat pembayaran yang sah, namun tidak lagi beredar dan sebagian besar disimpan oleh kolektor mata uang.
Ketika ditanya tentang kemungkinan penerbitan uang kertas baru, Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan bahwa keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan Kongres. Ia menegaskan bahwa Departemen Keuangan akan mengikuti hukum jika legislasi disahkan. Bessent juga mengaku tidak melihat ada hal yang tidak pantas tentang gambar orang yang sedang menjabat pada uang peringatan 250 tahun negara tersebut.
Proses pencetakan uang kertas baru biasanya memakan waktu bertahun-tahun dan melibatkan berbagai lembaga, termasuk Federal Reserve Board dan US Secret Service. Desainnya pun dirahasiakan. Menurut BEP, desain uang kertas biasanya baru dipublikasikan enam hingga delapan bulan sebelum peredaran untuk tujuan edukasi publik global dan edukasi penangan uang tunai. Menerbitkan desain lebih awal, menurut BEP, justru akan membantu pemalsu dan menyebabkan kebingungan di pasar, sehingga menurunkan kepercayaan terhadap mata uang AS. Dengan demikian, belum jelas apakah uang kertas pecahan 250 dolar AS dapat dicetak tepat waktu untuk peringatan 250 tahun pada 4 Juli mendatang.
Sementara itu, rencana ini menuai kritik tajam dari kalangan oposisi. Senator AS Mark Warner, seorang Demokrat dari Negara Bagian Virginia yang duduk di Komite Perbankan Senat, mengecam langkah tersebut. Dalam pernyataannya, Warner menyoroti bahwa ketika warga Amerika susah payah menghadapi kenaikan harga bensin, bahan makanan, perumahan, dan perawatan kesehatan, prioritas Presiden Trump untuk menggunakan dana pembayar pajak dinilainya benar-benar tidak menyentuh tantangan yang dihadapi keluarga setiap hari. Ia bahkan menambahkan, jika Gedung White House mengerahkan setidaknya setengah dari energi yang sama untuk menurunkan biaya seperti yang dilakukannya untuk memicu ego presiden, keluarga Amerika tidak akan membutuhkan uang kertas 250 dolar AS baru itu hanya untuk mengisi tangki bensin mereka.
Sejak menjabat tahun lalu, Presiden Trump secara konsisten berupaya menempatkan wajah, nama, dan kemiripannya pada bangunan publik serta simbol AS. Kennedy Center, misalnya, telah diubah namanya untuk menyertakan nama Trump. Potretnya juga akan ditampilkan pada paspor AS. Selain itu, pesawat kepresidenan Air Force One sedang dicat ulang dengan warna pilihan Trump.
Artikel Terkait
Baznas Salurkan Daging Dam Haji ke Warga Kurang Mampu di Pemalang
Maybank Indonesia Raup Laba Rp299 Miliar di Kuartal I 2026, Kredit Tumbuh 5,4 Persen
Israel Tutup Paksa Masjid Ibrahimi di Hebron Tanpa Batas Waktu, Palestina Kecam Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Satgas Desak Kementerian Percepat Administrasi dan Revisi Anggaran demi Rehabilitasi Pascabencana di Sumatera