Aroma kari yang hangat, kopi yang baru saja diseduh, dan wangi rempah-rempah langsung menyambut setiap pengunjung begitu melangkah masuk ke area festival budaya ASEAN-India Bazaar 2026 di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Perpaduan aroma itu menciptakan atmosfer yang sulit diabaikan, seolah mengundang siapa pun untuk segera larut dalam pengalaman multisensori yang ditawarkan.
Festival ini telah menjadi salah satu destinasi akhir pekan yang paling ramai dikunjungi. Awalnya, banyak orang datang dengan niat utama berburu kuliner, tetapi akhirnya memilih bertahan lebih lama karena terpikat oleh kekayaan pengalaman budaya yang tersaji di setiap sudut ruangan. Di satu sisi, pengunjung sibuk memilih makanan autentik khas India dan Asia Tenggara. Sebagian mengantre untuk menikmati sajian berbumbu kuat khas India, sementara yang lain memilih duduk santai sambil menyesap kopi dan menyaksikan pertunjukan seni di atas panggung.
Bagian kuliner memang menjadi salah satu area paling hidup selama festival berlangsung. Perpaduan aroma makanan dan suasana hangat berhasil membawa pengunjung seolah sedang berada di festival jalanan internasional. Namun, ASEAN-India Bazaar 2026 tidak hanya menawarkan wisata rasa. Festival ini juga menyediakan banyak ruang untuk mengenal budaya dari jarak yang lebih dekat.
Di panggung utama, penampilan tarian tradisional Thailand sukses mencuri perhatian melalui gerakan lembut dan kostum berwarna cerah yang memantulkan cahaya lampu ballroom. Suasana kemudian berubah menjadi lebih khidmat ketika penari India, Nisa Priyanka, membawakan Bharatanatyam tarian klasik India yang kaya akan ekspresi dan sarat filosofi. Pertunjukan musik modern hingga dance performance yang enerjik membuat festival terasa semakin cair dan akrab, terutama di kalangan pengunjung muda yang ramai mengabadikan momen di media sosial.
Tidak hanya hiburan, festival ini juga menghadirkan aktivitas yang lebih personal dan reflektif. Sesi meditasi kesehatan menjadi tempat favorit bagi pengunjung yang ingin sejenak menjauh dari keramaian. Ada pula ruang Book Club yang menggelar diskusi santai seputar buku, budaya, dan kehidupan modern urban. Sementara itu, area bazar dipenuhi lebih dari 150 tenant dari India, Indonesia, dan negara-negara ASEAN. Beragam produk kreatif dipamerkan, mulai dari kain tradisional, aksesori handmade, kerajinan etnik, produk wellness, hingga fashion bernuansa Asia Selatan.
Setiap stan terasa seperti membawa cerita budaya masing-masing negara. Pengunjung tidak hanya datang untuk membeli barang, tetapi juga berbincang langsung dengan para pelaku usaha dan komunitas budaya yang hadir. Founder Indoindians, Poonam Sagar, mengatakan bahwa acara ini memang dirancang sebagai ruang untuk mempererat hubungan masyarakat melalui budaya sehari-hari.
“Ini adalah perayaan atas hubungan panjang dan mendalam yang telah terjalin antara India dan Asia Tenggara,” katanya dalam keterangan resmi, Minggu (24/5/2026).
“Hubungan ini tidak dibangun dalam semalam, melainkan direkatkan secara historis melalui perdagangan, akulturasi budaya, makanan, seni, pertukaran ide, serta kedekatan antarmasyarakatnya,” tambahnya.
Hal serupa juga disampaikan Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty. Menurutnya, hubungan budaya dan interaksi antarmasyarakat kini menjadi salah satu kekuatan penting di tengah dinamika global. Yang membuat ASEAN-India Bazaar 2026 terasa berbeda adalah suasananya yang tidak kaku. Meski membawa misi diplomasi budaya, festival ini tetap terasa santai dan membumi. Pengunjung bebas datang untuk sekadar makan enak, menikmati seni, berburu produk unik, atau sekadar merasakan atmosfer budaya internasional tanpa perlu keluar negeri.
Artikel Terkait
Sembilan WNI yang Ditahan Militer Israel di Gaza Akhirnya Tiba di Indonesia
Haramain Tingkatkan Kapasitas Kursi 11 Persen untuk Layani 2,2 Juta Jemaah Haji 2026
Kakek 69 Tahun Nekat Tusuk Mantan Istri di Pernikahan Anak karena Dendam Harta Gono-Gini
Gempa Magnitudo 3,6 Guncang Sumur Banten, BMKG Imbau Warga Tetap Tenang