Prabowo Klaim Indonesia Miliki Dana Kedaulatan Terbesar Kelima Dunia, Capai Rp1.000 Miliar Dolar AS

- Sabtu, 16 Mei 2026 | 19:00 WIB
Prabowo Klaim Indonesia Miliki Dana Kedaulatan Terbesar Kelima Dunia, Capai Rp1.000 Miliar Dolar AS

Presiden Prabowo Subianto mengumumkan bahwa Indonesia saat ini telah memiliki dana kedaulatan atau sovereign wealth fund dengan total aset kelolaan mencapai 1.000 miliar dolar AS. Dalam pernyataannya, ia bahkan mengklaim jumlah tersebut melampaui aset yang dikelola oleh Qatar, Arab Saudi, dan Singapura.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat meresmikan operasionalisasi 1.061 koperasi desa dan kelurahan Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026). “Kita punya sekarang dana kedaulatan, sovereign wealth fund, dana kedaulatan kita mungkin sekarang adalah keenam terbesar di dunia, aset yang kita kelola sekarang 1.000 miliar dolar AS,” ujarnya di hadapan para hadirin.

Lebih lanjut, mantan Menteri Pertahanan itu menyebut posisi Indonesia sebenarnya berada di urutan kelima secara global. Negara dengan aset dana kedaulatan terbesar saat ini adalah Norwegia. “Saudara-saudara, kita sekarang kelima, kalau di sini kita kelima terbesar di dunia, baru dibentuk tahun 2025. Abu Dhabi bentuk tahun 1976, Tiongkok 1997, CIC dari Tiongkok juga 2007, Norway 1990, Norway yang paling besar, negara sangat kecil, tabungannya sangat besar. Kita bahkan di atas Qatar, di atas Saudi Arabia, juga di atas Singapura,” ungkapnya.

Prabowo menambahkan bahwa manfaat dari pengelolaan aset ini baru akan terlihat dalam satu hingga dua dekade ke depan. Ia menekankan bahwa langkah ini merupakan investasi fundamental bagi masa depan Indonesia. “Jadi boleh juga ini negara kita, kita sudah punya Danantara, dan nanti 10 tahun lagi, 20 tahun lagi ingat, lihat, lihat tanggal, lihat tahun, saudara akan lihat, pada saat itu saudara akan lihat apa yang kita buat tahun 2025, 2026 ini. Jangan sekarang, nanti 20 tahun lagi, saudara nilai apa yang kita buat hari ini, yang kita buat adalah hal-hal mendasar,” tutupnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar