PM Australia Telepon Prabowo Ucapkan Terima Kasih atas Ekspor Perdana Pupuk Indonesia 47.250 Ton

- Jumat, 15 Mei 2026 | 19:45 WIB
PM Australia Telepon Prabowo Ucapkan Terima Kasih atas Ekspor Perdana Pupuk Indonesia 47.250 Ton

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, secara langsung menghubungi Presiden Prabowo Subianto melalui sambungan telepon untuk menyampaikan apresiasi atas persetujuan ekspor pupuk urea dari Indonesia ke negaranya. Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat melepas pengiriman perdana komoditas itu di Dermaga BSL PT Pupuk Kalimantan Timur, Bontang, pada Kamis, 14 Mei 2026.

Menurut Amran, komunikasi tingkat tinggi antara kedua pemimpin negara itu menjadi bukti bahwa posisi Indonesia semakin diperhitungkan dalam rantai pasok pangan global, khususnya di sektor pupuk. Ia menuturkan bahwa Perdana Menteri Albanese mengucapkan terima kasih langsung kepada Presiden Prabowo atas persetujuan kerja sama tersebut.

“Perdana Menteri Australia menelepon Bapak Presiden Prabowo mengucapkan terima kasih karena Indonesia menyetujui ekspor pupuk ke Australia,” ujar Mentan Amran dalam sambutannya.

Ekspor perdana yang dilepas pada hari itu mencapai 47.250 ton. Jumlah tersebut merupakan tahap awal dari komitmen kerja sama yang lebih besar, yakni sebesar 250.000 ton. Ke depannya, volume ekspor ditargetkan meningkat hingga 500.000 ton dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp7 triliun.

“Ini mencetak sejarah, karena kita akan mengekspor pupuk ke beberapa negara termasuk Australia. Rencana kita mengekspor ke Australia sesuai pembicaraan Perdana Menteri Australia dan Bapak Presiden yaitu 250.000 ton, tapi akan ditingkatkan menjadi 500.000 ton, nilainya kurang lebih Rp7 triliun,” kata Amran.

Di sisi lain, Mentan Amran menegaskan bahwa pemerintah tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan pupuk bagi petani di dalam negeri. Ia memastikan bahwa ekspor ini tidak akan mengganggu pasokan domestik karena dilakukan saat produksi nasional dalam kondisi surplus.

Saat ini, kapasitas produksi urea nasional dinilai cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus mendukung pasar ekspor. Sepanjang tahun ini, produksi urea nasional ditargetkan mencapai 7,8 juta ton, sementara kebutuhan domestik hanya sekitar 6,3 juta ton. Artinya, masih terdapat surplus sekitar 1,5 juta ton yang dapat dialokasikan untuk pasar luar negeri.

Pengiriman urea ke Australia tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas perdagangan semata. Lebih dari itu, langkah ini merupakan bagian dari diplomasi pangan Indonesia di tengah tantangan global yang kian kompleks. Kerja sama ini juga menjadi bagian dari skema Government-to-Government (G2G) antara Indonesia dan Australia dalam memperkuat ketahanan pangan di kawasan Asia-Pasifik.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar