Trump dan Xi Bahas Perang AS-Iran di Beijing, Tiongkok Tawarkan Bantu Redam Konflik

- Jumat, 15 Mei 2026 | 07:15 WIB
Trump dan Xi Bahas Perang AS-Iran di Beijing, Tiongkok Tawarkan Bantu Redam Konflik

Perang antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu agenda utama dalam pembicaraan antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Tiongkok Xi Jinping. Pertemuan yang berlangsung di Beijing pada Kamis (14/5) itu membahas eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengancam stabilitas kawasan dan pasokan energi global.

Tiongkok memiliki hubungan erat dengan Iran dan merupakan konsumen minyak mentah terbesar negara tersebut. Namun, sejauh ini Beijing dinilai mampu meredam dampak konflik Timur Tengah berkat diversifikasi pasokan energi, cadangan yang besar, serta permintaan luar negeri yang masih kuat terhadap produk elektronik dan mesin buatan Tiongkok.

Di sisi lain, praktik yang disebut sebagai "kilang teh" perusahaan minyak kecil dan independen yang beroperasi dengan izin Beijing diam-diam memproses minyak mentah Iran yang terkena sanksi AS. Minyak tersebut diolah menjadi gas, diesel, dan petrokimia, yang secara tidak langsung membantu Teheran bertahan dalam tekanan Amerika Serikat.

Trump mengungkapkan bahwa dalam pertemuan tersebut, Xi menawarkan bantuan untuk menyelesaikan konflik dan berjanji tidak akan memasok peralatan militer kepada Iran. "Xi juga ingin melihat Selat Hormuz yang penting dibuka kembali," kata Trump, seperti dikutip dari laporan media, Jumat (15/5).

Laporan resmi AS mengenai pertemuan itu menyebutkan bahwa Tiongkok menentang militerisasi dan pengenaan biaya terhadap selat tersebut. Sikap itu sebagian besar sejalan dengan pernyataan Beijing sebelumnya yang menekankan pentingnya kebebasan navigasi dan stabilitas kawasan.

Sementara itu, kemampuan Iran untuk menyerang infrastruktur minyak dan mitra AS di kawasan dinilai masih "sangat moderat". Pernyataan itu disampaikan Komandan Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, kepada anggota parlemen pada Kamis.

Sebanyak 26 negara, termasuk Inggris, Prancis, Bahrain, Kanada, Jerman, Jepang, Qatar, dan Korea Selatan, menegaskan kembali seruan mereka agar Selat Hormuz kembali beroperasi normal. Mereka berjanji mendukung "misi militer multinasional yang independen dan benar-benar defensif" untuk mencapai tujuan tersebut.

Di tengah tekanan internasional, Teheran mengklaim sekitar 30 kapal telah melintasi selat itu sejak Rabu malam "dengan izin Iran," menurut media pemerintah. Kantor berita Fars melaporkan bahwa penyeberangan tersebut termasuk sejumlah kapal Tiongkok yang melewati jalur perairan itu di bawah protokol pengelolaan Iran.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar