Di malam hari, siluet kota-kota besar Indonesia tampak modern dengan gemerlap lampu gedung perkantoran, jalan layang yang padat kendaraan, serta baliho bertuliskan “smart city” yang berjejer di sepanjang jalan. Namun, di lorong-lorong sempit yang tersembunyi di balik bangunan megah, pemandangan yang jauh berbeda terhampar: tumpukan sampah menggunung, selokan tersumbat, dan tikus yang berlarian tanpa penghalang. Di ruang-ruang gelap inilah, jauh dari hiruk-pikuk diskusi publik, hantavirus bergerak secara senyap dan tanpa suara.
Hantavirus kerap dianggap sebagai penyakit yang hanya mengancam di luar negeri. Padahal, sejak dekade 1980-an, virus ini berulang kali ditemukan pada tikus dan manusia di berbagai kota di Indonesia. Sebuah kajian komprehensif yang diterbitkan pada 2019, yang merangkum puluhan tahun penelitian, menunjukkan bahwa Indonesia bukanlah pemain pinggiran dalam peta persebaran hantavirus dunia. Di kawasan Asia Tenggara, analisis terhadap lebih dari 11.000 mamalia kecil memperkirakan bahwa sekitar satu dari enam hewan pengerat di Indonesia membawa virus ini angka tertinggi di wilayah tersebut.
Sementara itu, dari sisi manusia, sebuah studi pada pasien demam akut di delapan rumah sakit besar mengungkapkan bahwa sekitar satu dari sepuluh pasien memiliki antibodi terhadap hantavirus. Temuan ini menjadi bukti adanya paparan di masa lalu yang selama ini luput dari catatan statistik resmi. Setelah pandemi COVID-19, istilah “zoonosis” memang mulai akrab di telinga masyarakat, namun perhatian publik dan kebijakan tetap tertuju pada ancaman yang seolah datang dari luar: virus dari hutan tropis yang belum dikenal atau wabah dari benua lain.
Di sisi lain, hantavirus yang hidup berdampingan dengan manusia di selokan, los pasar, dan permukiman padat, masih menjadi catatan kaki yang terabaikan. Mengabaikan virus yang sudah berada di depan mata, dengan data yang menempatkan Indonesia sebagai kantong hantavirus di Asia Tenggara, merupakan bentuk kebutaan epidemiologis yang berbahaya. Secara sederhana, hantavirus dapat menyerang paru-paru dan ginjal. Pada sebagian penderita, infeksi menyebabkan radang paru dan sesak napas. Pada yang lain, virus ini merusak ginjal sehingga penderitanya sulit buang air kecil dan tubuh membengkak. Gambaran kasarnya meliputi demam, nyeri otot, mual, penurunan jumlah trombosit, yang kemudian berlanjut menjadi sesak napas dan gagal ginjal.
Permasalahan semakin kompleks karena gejala hantavirus sering kali menyerupai dengue berat atau leptospirosis. Salah diagnosis yang berlarut-larut ini bukan hanya soal risiko kematian, tetapi juga menyangkut efisiensi anggaran kesehatan. Penanganan gagal ginjal kronis pada tahap lanjut jauh lebih mahal dibandingkan dengan upaya pencegahan di hulu. Di Indonesia, hampir semua infeksi hantavirus akut pada awalnya didiagnosis sebagai dengue. Dokter melihat demam tinggi, trombosit rendah, kadang disertai ruam dan perdarahan ringan, sehingga refleks pertama adalah dengue, terutama saat terjadi wabah. Baru ketika sampel diperiksa ulang di laboratorium penelitian, terungkap bahwa sebagian pasien sebenarnya terinfeksi Seoul virus. Temuan serupa muncul di Jakarta, Maumere, hingga klinik ginjal di Makassar. Bukan virusnya yang jarang, melainkan sistem deteksi kita yang jarang menoleh.
Jika mengikuti jejak tikus, gambaran risikonya menjadi semakin jelas. Sejak 1980-an, studi di pelabuhan dan permukiman Indonesia menemukan bahwa 10 hingga 30 persen tikus membawa hantavirus. Mayoritas adalah Seoul virus pada tikus got dan tikus rumah, serta varian lokal yang disebut Serang virus. Temuan terbaru di pasar Bogor bahkan menunjukkan bahwa satu ekor tikus bisa membawa hantavirus dan bakteri leptospirosis sekaligus, menciptakan sumber infeksi ganda yang mematikan bagi manusia. Di atas kertas, data ini sudah cukup untuk menyalakan lampu kuning: hantavirus banyak ditemukan pada tikus, jejaknya jelas terlihat dalam darah manusia, dan beberapa kasus berat sudah muncul.
Namun di lapangan, lampu kuning itu nyaris tak tampak, tertelan oleh rutinitas dan normalisasi risiko. Masyarakat sudah terlanjur menganggap tikus sebagai penghuni tetap rumah, sehingga kehadirannya tidak lagi dipandang sebagai ancaman kesehatan, melainkan hanya gangguan estetika. Salah satu penyebab utamanya adalah cara sistem kesehatan melihat demam. Di banyak fasilitas kesehatan, pola pikirnya baku: cari dulu dengue dan leptospirosis karena alat tersedia dan termasuk dalam program prioritas. Hantavirus terpinggirkan karena absennya “ruang resmi” dalam sistem pelaporan dan diagnosis.
Di luar sektor kesehatan, data tentang populasi tikus jarang dibaca sebagai sinyal peringatan dini. Ledakan populasi tikus di pelabuhan, pasar, dan permukiman padat masih diperlakukan semata-mata sebagai urusan kebersihan kota, bukan sebagai indikator risiko penyakit yang dibawa tikus. Padahal, dokumen kesiapsiagaan global merekomendasikan agar indikator lingkungan seperti ini dibaca bersamaan dengan data klinis, terutama dalam kerangka 7-1-7: tujuh hari deteksi, satu hari notifikasi, dan tujuh hari respons. Kita rajin menyebut istilah One Health dalam berbagai presentasi, namun di lapangan, data kesehatan, lingkungan, dan hewan berjalan sendiri-sendiri, jarang bertemu di meja yang sama.
Apa yang bisa dilakukan agar hantavirus tidak menjadi “COVID kecil” yang terlambat kita tanggapi? Pertama, pilih beberapa rumah sakit besar sebagai pos pantau. Di kota-kota dengan bukti kuat keberadaan hantavirus seperti Jakarta, Semarang, Denpasar, Makassar, Maumere, dan Bogor, pasien demam dengan gangguan ginjal atau paru yang hasil uji dengue dan leptospirosisnya negatif bisa ditawarkan pemeriksaan hantavirus, minimal dengan tes antibodi. Dari sini, kita akan mendapat gambaran yang lebih jernih tanpa harus memeriksa semua orang. Kedua, angkat data tentang tikus ke meja kesehatan. Dinas kesehatan, lingkungan hidup, dan kebersihan sebenarnya sudah memiliki potongan data: jumlah tikus yang tertangkap, hasil pemeriksaan hantavirus dan Leptospira pada tikus, serta titik-titik sampah yang menumpuk. Satukan data-data itu dan baca bersama data pasien demam dari puskesmas dan rumah sakit.
Ketiga, bekali dokter dan petugas pelacak kasus dengan alat bantu yang praktis. Misalnya, kartu saku yang berisi panduan kapan harus mencurigai hantavirus: demam, trombosit rendah, ada gangguan ginjal atau paru, tes dengue dan leptospirosis negatif, serta ada riwayat jelas tentang tikus di rumah, tempat kerja, atau lingkungan pasien. Jika pola ini muncul di daerah dengan populasi tikus yang tinggi, segera kirim sampel darah ke laboratorium yang mampu memeriksa hantavirus. Keempat, buat komunikasi risiko kepada warga yang lebih konkret. Bukan hanya imbauan umum “jaga kebersihan”, tetapi langkah-langkah spesifik: simpan makanan agar tidak dijangkau tikus, tutup lubang di dapur dan gudang, kelola sampah rumah tangga dengan baik, dan jangan menyapu kotoran tikus dalam keadaan kering. Membasahi lantai dan menggunakan disinfektan sebelum membersihkan adalah langkah kecil yang bisa menyelamatkan nyawa karena mencegah virus terhirup sebagai aerosol.
Semua langkah ini tidak akan mengubah hantavirus menjadi epidemi besar besok pagi. Tujuannya justru untuk memastikan bahwa jika suatu saat hantavirus mulai “mengangkat suara”, kita tidak lagi tuli. Selama ini, hantavirus hidup di persimpangan antara pengetahuan dan kebijakan. Di meja peneliti, ia tampak jelas: angka, peta, dan sekuens virus. Namun di meja pengambil keputusan, namanya nyaris tak terdengar. Indonesia sudah membayar mahal untuk belajar bahwa menunggu kurva kasus naik sebelum bertindak adalah strategi yang buruk. Kali ini, kita memiliki keuntungan: data hantavirus sudah ada, bahkan telah terkumpul selama lebih dari tiga dekade. Pertanyaannya, apakah kita berani melihatnya dengan jujur. Membangun sistem kesehatan yang tangguh bukanlah soal menebak virus baru apa yang akan muncul, melainkan soal kejujuran membaca data yang sudah ada dan menutup celah yang jelas di depan mata. Hantavirus adalah salah satu ujiannya.
Kamaluddin Latief, Epidemiolog Senior, Pengamat Global Health Security, Wasekjen Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).
Artikel Terkait
Truk Tangki Hilang Kendali di Sentul, Tabrak Trotoar dan Tewaskan Pejalan Kaki
Harga Emas Batangan Pegadaian Stagnan, UBS Satu Gram Masih Rp2,891 Juta
IHSG Dibuka Melemah, Mayoritas Sektor Tertekan di Awal Pekan
Paljaya Hadirkan Layanan Operasional dan Pemeliharaan IPAL untuk Gedung Perkantoran di Jakarta