WASHINGTON – Amerika Serikat ternyata butuh waktu lama bukan hitungan bulan, tapi tahun untuk mengembalikan stok senjatanya yang habis terkuras. Semua ini buntut dari perang melawan Iran yang berlangsung sejak 28 Februari lalu dan baru berhenti pada 7 April 2026 lewat gencatan senjata dua minggu. “Akan butuh waktu selama itu untuk mendapatkan amunisi kembali, mengisi persediaan,” ujar Direktur Badan Pertahanan Rudal Pentagon, Letjen Heath Collins, dalam rapat dengan Komite Angkatan Bersenjata DPR AS. Menurut dia, jalur produksi senjata bakal dinyalakan lagi secepat mungkin. Tapi masalahnya, jumlah yang dipakai selama konflik itu gila-gilaan. Bayangkan saja: AS sudah menembakkan ratusan rudal Tomahawk, belum lagi sistem pertahanan Patriot dan THAAD yang ikut terkuras. Di sisi lain, kerugian alat tempur juga bukan main. Belasan drone, jet tempur, pesawat tanker, pesawat angkut militer, pesawat mata-mata bahkan jet tempur yang hancur semuanya harus diganti. “Semua senjata itu punya jalur produksi yang masih aktif. Jadi setiap hari kami memproduksi untuk mengisi kembali persediaan,” jelas Collins. Tapi ia mengakui, meski pabrik sudah jalan, proses pemulihan tetap makan waktu bertahun-tahun. Agak berat memang. Perang sebulan, pemulihan bertahun-tahun.
Artikel Terkait
Pengamat Sebut Pembebasan PPN Tiket Pesawat Domestik Bisa Tekan Harga dan Dongkrak Konektivitas Nasional
Koalisi Jaksa Agung AS Buka Penyelidikan Besar-besaran terhadap OpenAI
Pemulangan Jamaah Haji Indonesia 2026 Capai 79.438 Orang, Kemenag Jaga Layanan hingga Kloter Terakhir
Komdigi Pastikan Gangguan Instagram dan Facebook pada 12 Juni Bersifat Global, Buntut Masalah Sistem META