Anggota DPR Desak Pemerintah Antisipasi Dampak Kenaikan BBM Nonsubsidi ke Harga Pangan

- Minggu, 19 April 2026 | 17:40 WIB
Anggota DPR Desak Pemerintah Antisipasi Dampak Kenaikan BBM Nonsubsidi ke Harga Pangan

Kenaikan harga BBM nonsubsidi yang mulai berlaku Sabtu lalu, 18 April 2026, langsung memicu respons dari anggota parlemen. Rivqy Abdul Halim dari Komisi VI DPR RI mendesak pemerintah untuk segera bertindak. Fokusnya? Mencegah lonjakan harga bahan bakar itu merembet ke harga-harga kebutuhan pokok sehari-hari.

"Pemerintah perlu memastikan bahwa kenaikan ini tidak merembet ke harga-harga kebutuhan pokok," tegas Rivqy dalam sebuah pernyataan tertulis yang diterima Minggu (19/4).

Menurutnya, stabilitas harga pangan dan barang-barang penting lainnya mutlak dijaga. Kalau tidak, daya beli masyarakat yang bakal tergerus.

Di sisi lain, Rivqy mengakui bahwa keputusan menaikkan harga BBM nonsubsidi itu memang langkah yang sulit dihindari. Tekanan global pada sektor energi, katanya, membuat penyesuaian harga bisa jadi satu-satunya opsi. Namun begitu, langkah pemerintah ini terasa begitu mendadak bagi banyak orang.

"Momentum dan komunikasi kebijakan ini perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan kegelisahan publik," ujarnya lagi.

Nah, soal komunikasi ini dia angkat lagi. Rivqy menekankan pentingnya transparansi dari pemerintah. Masyarakat butuh penjelasan terbuka tentang kondisi riil BBM nasional mulai dari ketersediaan, beban subsidi yang harus ditanggung, sampai tantangan di sektor distribusi.

"Kami meminta pemerintah menjelaskan secara komprehensif bagaimana kondisi sebenarnya sektor BBM kita saat ini," lanjutnya.

Penjelasan itu, imbuhnya, akan membantu publik tak sekadar menerima, tapi juga memahami urgensi di balik kebijakan yang kerap tak populer ini.

Selain itu, dia juga menyoroti perlunya langkah antisipasi yang jelas. Pemerintah dan BUMN energi terkait harus punya strategi konkret untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga energi ke depan. Kesiapan strategi, termasuk soal pengelolaan distribusi dan cadangan, harus benar-benar dipastikan berjalan optimal.

"Berharap pemerintah dapat terus mengedepankan komunikasi publik yang transparan serta kebijakan yang berpihak pada perlindungan masyarakat," jelas Rivqy menutup pernyataannya.

Lantas, seberapa besar kenaikan harganya? Data dari situs Mypertamina menunjukkan kenaikan yang cukup tajam. Pertamax Turbo (RON 98) melesat dari Rp13.100 per liter menjadi Rp19.400. Dexlite naik dari Rp14.200 ke Rp23.600 per liter. Sementara Pertamina DEX meroket dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.

Untungnya, tidak semua jenis BBM ikut naik. Harga Pertamax (RON 92) masih bertahan di Rp12.300 per liter. Pertalite juga masih Rp10.000 per liter, sama seperti Pertamina Biosolar yang harganya tetap Rp6.800 per liter.

Kini, bola ada di tangan pemerintah. Apakah langkah-langkah penjagaan stabilitas harga pangan bisa segera diwujudkan, atau masyarakat harus bersiap menghadapi efek berantai dari kenaikan BBM ini? Waktu yang akan menjawab.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar