Di awal tahun 2026, PT PP (Persero) Tbk sudah menunjukkan langkah yang cukup solid. Perusahaan konstruksi plat merah itu berhasil mengantongi kontrak baru senilai Rp3,87 triliun hanya dalam dua bulan pertama. Yang menarik, angka ini melonjak hampir 33% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebuah pertumbuhan yang, jujur saja, cukup mengesankan di tengah iklim industri yang penuh tantangan.
Joko Raharjo, Corporate Secretary PTPP, menyoroti capaian ini. Bagi dia, ini bukan sekadar angka di atas kertas.
"Ini bukti nyata bahwa kinerja kita tetap optimal. Ke depan, prinsip selektivitas proyek dan tata kelola yang baik akan tetap jadi prioritas. Tidak kalah penting, setiap proyek harus berjalan tepat waktu dan, yang utama, aman. Zero accident adalah komitmen mutlak kami,"
tegas Joko dalam rilis tertulisnya, Selasa lalu.
Lalu, dari mana saja kontrak ini berasal? Ternyata, mayoritas besar, yakni 73%, bersumber dari proyek pemerintah. Sisanya diisi oleh proyek BUMN (18%) dan swasta (9%). Kalau dilihat dari jenis bisnisnya, sektor gedung masih menjadi andalan dengan kontribusi 33%, diikuti oleh jalan dan jembatan (30%). Ada juga porsi signifikan dari proyek smelter dan pertambangan (18%), serta rumah sakit (10%). Sektor-sektor lain seperti pelabuhan dan pengolahan air menyumbang sisanya.
Beberapa proyek strategis yang berhasil direbut punya nilai yang cukup fantastis. Misalnya, pembangunan RSU Adhyaksa di Jakarta senilai Rp266,5 miliar. Ada juga proyek penanganan bencana di Sumatera Utara (Sibolga-Barus) senilai Rp263,7 miliar dan pembangunan jetty di Lamongan sebesar Rp234 miliar. Proyek di Aceh (Bireuen-Takengon) dan RS PHTC Tulang Bawang juga masuk dalam daftar prestasi mereka hingga Februari ini.
Pencapaian ini, menurut saya, menunjukkan strategi portofolio PTPP yang cukup berimbang. Mereka tidak bergantung pada satu sektor saja. Di sisi lain, hal ini jelas memperkuat posisi tawar mereka di pasar konstruksi nasional yang dinamis. Sejalan dengan program pemerintah, PTPP tampaknya akan terus fokus pada proyek infrastruktur berkelanjutan yang mendongkrak konektivitas dan pemerataan ekonomi.
Pada akhirnya, sebagai salah satu tulang punggung pembangunan infrastruktur negeri, PTPP menegaskan komitmennya. Dengan strategi yang adaptif, mereka optimis tren positif ini bisa dipertahankan sepanjang 2026. Target kinerja tahun itu, setidaknya dari sinyal awal ini, terlihat cukup terjangkau.
Artikel Terkait
Menteri Hukum Sebut Rencana Perpanjangan Usia Pensiun Polri Jadi 60 Tahun Sebagai Bentuk Keadilan
SNBT 2026: Banyak Anak Rektor Gagal Lolos, Ketua SNPMB Sebut Seleksi Berintegritas
Polisi Ungkap Hasil Curanmor di Kalideres Dipakai Beli Sabu
Kejagung Tetapkan Anggota Ombudsman Yeka Hendra Tersangka Obstruction of Justice Kasus Korupsi CPO