JAKARTA Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diprediksi bakal lebih serius tahun ini. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni tak menampik bahwa 2026 akan menghadirkan tantangan lebih berat dibanding tahun sebelumnya. Indikasinya? Kemarau dini sudah terasa sejak awal tahun di sejumlah titik rawan.
"Pada tahun ini akan terjadi kekeringan yang lebih awal dan lebih panjang," ujar Menhut dalam rapat koordinasi karhutla, Selasa (7/4).
Dia melanjutkan, "Oleh karena itu, kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan dibanding tahun lalu 2025, pada 2026 ini akan lebih mengancam kita secara lebih bersama."
Nada waspada itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, selama periode Januari hingga April, gejala kemarau dini telah terpantau di wilayah seperti Riau dan Kalimantan Barat. Dia mendesak agar informasi ini segera disebarluaskan ke masyarakat. Pesannya jelas: jangan coba-coba bermain api. Risikonya, kata dia, bisa sangat besar.
Di sisi lain, pemerintah kembali menyoroti praktik pembukaan lahan dengan membakar atau land clearing. Ini disebut-sebut sebagai biang kerok utama yang memicu karhutla. Tindakan itu dinilai sangat berbahaya dan sudah menjadi sorotan tajam aparat penegak hukum.
"Land clearing ini berbahaya," tegasnya.
"Kami sudah berkoordinasi dengan kepolisian agar segera ditindak dan saat ini sudah dalam proses," tambah Menhut.
Dampak karhutla memang jauh lebih luas dari sekadar kerusakan lingkungan. Asap tebal, gangguan kesehatan, hingga kerugian ekonomi langsung dirasakan masyarakat. Itulah mengapa upaya pencegahan jadi kunci. Edukasi publik dan pengawasan lapangan yang ketat harus digencarkan.
Menurut Menhut, koordinasi yang solid antara pusat dan daerah selama ini patut diacungi jempol. Kolaborasi itu yang membuat angka karhutla bisa ditekan dari tahun ke tahun.
"Kita berharap tahun ini juga bisa ditekan secara bersama-sama," harapnya.
Dalam forum yang sama, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani sepakat. Pemerintah kini memang menggeser fokus ke tindakan pencegahan, bukan lagi sekadar penanggulangan.
"Kalau dulu kuratif, sekarang jadi preventif," kata Teuku.
"Kami sangat mendukung Pak Menhut mencoba untuk mengoordinasi agar kita semua dapat bekerja dalam satu derap langkah yang sama," pungkasnya.
Jadi, semua mata kini tertuju pada langkah antisipasi. Cuaca yang tak menentu jadi pengingat: ancaman itu nyata dan sudah di depan mata.
Artikel Terkait
Maroko Umumkan 26 Pemain untuk Piala Dunia 2026, Siap Hadapi Brasil di Grup C
Menteri Keuangan Purbaya Salat Idulfitri di Masjid DJP, Siapkan Dua Sapi Kurban
Ratusan Warga Salat Iduladha di Halaman Balai Kota, Wagub Rano Karno Hadir
Mantan Anggota Ombudsman Yeka Hendra Fatika Tersangka Perintangan Penyidikan Korupsi Minyak Sawit