FAO Catat Kenaikan Harga Pangan Global Kedua Kalinya Berturut-turut, Didorong Konflik Timur Tengah

- Minggu, 05 April 2026 | 06:40 WIB
FAO Catat Kenaikan Harga Pangan Global Kedua Kalinya Berturut-turut, Didorong Konflik Timur Tengah

Harga pangan global kembali merangkak naik. Untuk kedua kalinya berturut-turut, tepatnya pada Maret 2026, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mencatat kenaikan indeks sebesar 2,4 persen dibanding bulan sebelumnya. Pemicu utamanya? Biaya energi yang melonjak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Kenaikan ini ternyata menyapu hampir semua kelompok komoditas utama. Mulai dari serealia, daging, susu, hingga minyak nabati dan gula, semuanya ikut terdongkrak harganya.

Kalau dilihat dari kaca mata tahunan, posisi Maret 2026 ini memang 1,0 persen lebih tinggi ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya. Angkanya naik 1,2 poin. Tapi, bulan lalu, kenaikan bulanan justru lebih tajam.

Ambil contoh indeks serealia. Bulan Maret naik 1,5 persen ke level 110,4 poin. Secara tahunan, kenaikannya lebih landai, hanya 0,6 persen.

Namun begitu, kelompok minyak nabati lah yang paling mencolok kinerjanya. Indeksnya melesat 5,1 persen dalam sebulan, mencapai 183,1 poin. Dibanding Maret tahun lalu, lonjakannya bahkan lebih dramatis: 13,2 persen.

FAO punya analisis menarik soal ini. Mereka menyoroti harga minyak sawit internasional yang meroket ke level tertinggi sejak pertengahan 2022.

“Harga minyak sawit internasional mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022 dan bergerak melampaui minyak kedelai, sebagian besar mencerminkan efek limpahan dari kenaikan tajam harga minyak mentah,” kata FAO.

Intinya, efek domino dari harga minyak mentah yang naik tajam benar-benar terasa di sini.

Di sisi lain, komoditas daging juga tak ketinggalan. Indeksnya naik 1,0 persen bulanan, dan secara tahunan tercatat melambung 8,0 persen ke angka 127,7 poin. Lain cerita dengan susu. Meski naik 1,2 persen dalam sebulan menjadi 120,9 poin, posisinya masih jauh lebih rendah tepatnya turun 18,7 persen jika dibandingkan dengan Maret tahun sebelumnya.

Jadi, gambaran besarnya cukup jelas. Gejolak geopolitik di satu wilayah, sekali lagi, berhasil menggoyang stabilitas harga pangan di seluruh dunia. Tren naik ini, tentu saja, jadi sinyal yang perlu diwaspadai.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar