“Ford menghubungkan penurunan kinerja kuartalan tersebut dengan biaya tarif suku cadang mobil sebesar USD 900 juta atau sekitar Rp 15 triliun,” jelas pernyataan yang dirilis perusahaan.
Beban tarif ini ternyata jauh lebih berat dari perkiraan awal. Secara akumulatif sepanjang 2025, kerugian akibat tarif membengkak menjadi USD 2 miliar (sekitar Rp 33 triliun), atau dua kali lipat dari estimasi yang sebelumnya diantisipasi.
Tekanan dari Sektor Kendaraan Listrik
Selain isu tarif, keputusan strategis di bidang kendaraan listrik (EV) juga memberikan dampak material pada neraca. Menjelang akhir tahun 2025, Ford melakukan langkah akuntansi yang dikenal sebagai writedown atau penurunan nilai terhadap program pengembangan kendaraan listriknya.
Langkah penyesuaian nilai aset ini bernilai sangat besar, lebih dari USD 14 miliar atau setara dengan Rp 234 triliun. Keputusan ini mencerminkan realitas pasar yang berubah cepat dan tantangan dalam transisi menuju elektrifikasi, yang memaksa perusahaan untuk mengevaluasi kembali investasi dan proyeksi jangka panjangnya di segmen EV.
Kombinasi dari berbagai faktor eksternal dan internal ini menciptakan badai keuangan yang sempurna bagi Ford, menguji ketahanan dan strategi perusahaan di tengah lanskap industri otomotif yang terus bergejolak.
Artikel Terkait
Korban Jiwa Kecelakaan Mudik Lebaran Turun 30%, Arus Diklaim Lancar
Anggota DPR Desak Pemerintah Jaga Ketahanan Pangan di Tengah Ancaman Krisis Global
Pria di Medan Tikam Tetangga Hingga Luka Berat, Motifnya Debu dari Sapuan Lantai
Pelatih Baru Timnas Indonesia Janjikan Lolos ke Piala Dunia dalam Empat Tahun