Waspada Leptospirosis, Ancaman Tak Kasat Mata Usai Banjir Melanda

- Selasa, 27 Januari 2026 | 17:40 WIB
Waspada Leptospirosis, Ancaman Tak Kasat Mata Usai Banjir Melanda

Jakarta kembali digenangi banjir. Bagi warga yang terdampak, ancamannya bukan cuma soal rumah yang kebanjiran atau barang-barang yang rusak. Ada bahaya lain yang mengintai, seringkali tak terlihat: masalah kesehatan. Salah satunya adalah infeksi Leptospirosis, penyakit yang kerap muncul usai banjir melanda.

Coba bayangkan air bah itu. Ia tak datang dari sumber yang bersih. Air itu menyapu jalanan, meluap dari selokan dan sungai, membawa serta segala macam kotoran. Saat masuk ke dalam rumah, air yang Anda lihat itu jelas bukan air bersih. Di dalamnya, bisa saja terkandung bakteri berbahaya.

Nah, dalam kondisi lingkungan yang becek dan lembab pasca-banjir, penyebaran bakteri jadi lebih mudah. Di sinilah Leptospirosis seringkali menemukan momentumnya. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri bernama leptospira. Intinya, ini adalah penyakit zoonosis, yang artinya bisa berpindah dari hewan ke manusia.

Penularannya biasanya lewat urine hewan yang sudah terinfeksi, dan tikus adalah tersangka utamanya. Bakteri ini mencemari genangan air, tanah, atau lumpur. Lalu, ia masuk ke tubuh kita melalui luka yang terbuka, atau lewat selaput lendir di mata, hidung, dan mulut. Makanya, sangat penting untuk tidak asal membasuh muka dengan air banjir.

Menurut keterangan dari Cleveland Clinic, infeksi ini memang lebih umum terjadi di daerah tropis dengan curah hujan tinggi. Tapi jangan salah, penularannya enggak cuma saat banjir. Aktivitas di air terbuka seperti arung jeram atau berenang di sungai juga berisiko. Hanya saja, hujan deras dan banjir benar-benar meningkatkan peluang penularannya secara signifikan.

Lalu, bagaimana kita tahu jika terinfeksi? Ada beberapa gejala khas yang patut diwaspadai.

Pertama, demam tinggi yang datang tiba-tiba. Suhu tubuh bisa melonjak di atas 38 derajat Celsius, biasanya dibarengi rasa menggigil dan lemas yang luar biasa.

Gejala kedua adalah nyeri otot. Rasa nyeri ini cukup khas, terutama terasa di bagian betis dan punggung. Kadang rasanya begitu berat sampai-sampai penderita sulit untuk berjalan.

Selain itu, waspadai juga sakit kepala hebat yang disertai mata merah. Mata merah pada leptospirosis biasanya tanpa ada kotoran, dan ini terjadi karena adanya peradangan pada pembuluh darah kecil.

Gejala lain yang sering muncul adalah mual, muntah, diare, dan nafsu makan yang hilang. Masalahnya, gejala ini mudah sekali dikira sebagai sakit perut atau maag biasa, sehingga banyak yang menyepelekannya.

Terakhir, pada kasus yang lebih parah, infeksi bisa berkembang menjadi penyakit kuning. Cirinya, kulit dan bagian putih mata berubah menguning. Kalau sudah sampai tahap ini, itu pertanda ada gangguan pada hati dan harus segera dilarikan ke rumah sakit.

Jadi, bagi Anda yang sedang berhadapan dengan banjir, tetap waspada. Perhatikan kebersihan dan hindari kontak langsung dengan air yang sudah tercemar. Jika gejala-gejala tadi muncul, jangan tunda untuk memeriksakan diri.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar