Harga Pangan Anjlok, Pasar Bernapas Lega di Awal 2026

- Minggu, 04 Januari 2026 | 08:10 WIB
Harga Pangan Anjlok, Pasar Bernapas Lega di Awal 2026

Harga-harga kebutuhan pokok di awal tahun 2026 ini menunjukkan dinamika yang menarik. Pada Minggu (4/1), pasar seolah menarik napas lega. Mayoritas komoditas justru bergerak turun, meski ada satu dua yang merangkak naik. Data dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang diambil pagi itu, sekitar pukul 7.30 WIB, menjadi buktinya.

Beras, misalnya. Harga ketiga jenis beras yang dipantau premium, medium, dan SPHP semuanya anjlok. Beras premium turun 3,25 persen ke level Rp15.053 per kilogram. Sementara beras medium dan SPHP masing-masing menyentuh Rp13.047 dan Rp12.283 per kg.

Penurunan ternyata cukup merata. Jagung ikut turun 6,22 persen, begitu pula kedelai impor. Yang cukup signifikan adalah penurunan harga bawang. Bawang merah dan putih turun lebih dari 8 persen, menjadi Rp41.088 dan Rp35.235 per kg. Kabar baik juga datang dari pasar cabai. Cabai merah keriting, besar, dan rawit merah semuanya turun dengan persentase yang cukup menggembirakan, mulai dari 13 hingga 26 persen.

Di sisi protein hewani, tren serupa terlihat. Daging sapi murni sedikit melunak ke Rp133.970 per kg. Daging ayam ras dan telur ayam ras juga turun, masing-masing 5,21 dan 5,64 persen. Gula konsumsi pun ikut merosot.

Namun begitu, tidak semua bergerak ke arah yang sama. Ada sedikit pengecualian. Minyak goreng curah, misalnya, justru naik tipis 0,09 persen. Ikan tongkol juga mengalami kenaikan sekitar 1,92 persen. Tapi secara umum, kenaikan ini terbatas.

Komoditas lain seperti minyak goreng kemasan, Minyakita, tepung terigu (baik curah maupun kemasan), serta ikan kembung dan bandeng, semuanya tercatat turun. Bahkan daging kerbau beku turun cukup dalam, 8,43 persen, menjadi Rp97.500 per kg. Garam konsumsi pun tak luput dari tren penurunan ini.

Jadi, secara keseluruhan, suasana pasar pangan di awal Januari ini cenderung kondusif. Penurunan harga yang luas, meski dengan angka yang bervariasi, tentu menjadi angin segar. Setidaknya untuk sementara.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar