Lalu, bahaya memuja uang. Gaya hidup materialistis, kata dia, telah melahirkan pola pikir yang mengerikan. Seolah-olah kebaikan dan kebahagiaan semata bergantung pada tumpukan harta. Uang dianggap segalanya, sementara hal lain dianggap tak bernilai. Padahal, kekerasan untuk menumpuk kekayaan yang "berlumuran darah" itu tak akan memberi kekekalan pada siapa pun.
Namun begitu, sorotan paling pedas mungkin ditujukan pada korupsi. Suharyo menyatakan dengan jelas, Paus Fransiskus menilai praktik ini sebagai dosa berat yang "berteriak ke surga".
"Dengan hati yang pedih, Paus Fransiskus menulis begini," sambungnya, "'Luka-luka bernanah akibat korupsi merupakan dosa berat yang berteriak keras ke surga untuk mendapatkan pembalasan. Karena luka itu merongrong dasar-dasar kehidupan pribadi dan masyarakat.'"
Korupsi, lanjutnya, adalah perusak harapan. Ia menghancurkan impian kaum lemah dan secara keji menginjak-injak mereka yang paling miskin di antara yang miskin. Bukan sekadar pelanggaran, melainkan sebuah skandal publik yang bobotnya sangat berat.
Khutbah itu pun berakhir, meninggalkan renungan yang tak mudah di ruang yang sunyi.
Artikel Terkait
Israel Serang Fasilitas Nuklir dan Industri Iran, Korban Jiwa Berjatuhan
Arus Balik H+7, Jasa Marga Berlakukan Contraflow di Tol Jakarta-Cikampek
Pemprov DKI Siap Ikuti Arahan Pusat Terkait WFH/WFA
Justin Hubner Tangkap Ambisi Besar Pelatih Baru John Herdman untuk Timnas Indonesia