Di Gereja Katedral Jakarta pagi ini, suasana khidmat Misa Pontifikal memenuhi ruang. Dari mimbar, suara Uskup Agung Jakarta, Kardinal Suharyo, menggemakan keprihatinan yang dalam. Ia berbicara tentang sebuah paradoks yang menyedihkan: di hari Natal, saat terang firman dirayakan, justru banyak manusia memilih untuk berjalan dalam kegelapan.
Pilihan itulah, menurutnya, yang menggerogoti martabat kita. "Akibatnya apa?" tanya Suharyo, suaranya tegas.
"Manusia yang mestinya bermartabat luhur dan mulia, merendahkan martabatnya sendiri ketika manusia membiarkan hidupnya dipimpin oleh kegelapan. Buahnya kita semua tahu: moralitas kehidupan kian luntur dan merosot."
Kritiknya tak berhenti di situ. Kardinal lalu mengalihkan sorotan pada tiga persoalan akut yang diangkat Paus Fransiskus: ketidakadilan, penyembahan uang, dan tentu saja, korupsi.
Mengenai yang pertama, ia mengutip sang Paus dengan nada getir.
"Di dalam dunia dewasa ini betapa banyak luka yang ditanggung oleh orang-orang yang tidak mempunyai suara. Karena teriakan mereka diredam dan dibenamkan oleh sikap acuh tak acuh orang-orang yang berkuasa," ucap Suharyo, menyampaikan kutipan itu.
Lalu, bahaya memuja uang. Gaya hidup materialistis, kata dia, telah melahirkan pola pikir yang mengerikan. Seolah-olah kebaikan dan kebahagiaan semata bergantung pada tumpukan harta. Uang dianggap segalanya, sementara hal lain dianggap tak bernilai. Padahal, kekerasan untuk menumpuk kekayaan yang "berlumuran darah" itu tak akan memberi kekekalan pada siapa pun.
Namun begitu, sorotan paling pedas mungkin ditujukan pada korupsi. Suharyo menyatakan dengan jelas, Paus Fransiskus menilai praktik ini sebagai dosa berat yang "berteriak ke surga".
"Dengan hati yang pedih, Paus Fransiskus menulis begini," sambungnya, "'Luka-luka bernanah akibat korupsi merupakan dosa berat yang berteriak keras ke surga untuk mendapatkan pembalasan. Karena luka itu merongrong dasar-dasar kehidupan pribadi dan masyarakat.'"
Korupsi, lanjutnya, adalah perusak harapan. Ia menghancurkan impian kaum lemah dan secara keji menginjak-injak mereka yang paling miskin di antara yang miskin. Bukan sekadar pelanggaran, melainkan sebuah skandal publik yang bobotnya sangat berat.
Khutbah itu pun berakhir, meninggalkan renungan yang tak mudah di ruang yang sunyi.
Artikel Terkait
Bentrokan Perebutan Lahan Parkir di Blok M Berujung Penusukan
BPS Proyeksikan Produksi Beras Nasional Naik 16% di Awal 2026
Posisi Arne Slot Masih Aman Meski Liverpool Kalah dari Manchester City
Surplus Dagang Indonesia 2025 Tembus USD41 Miliar, Tumbuh 31% di Tengah Tekanan Global