Pemerintah Indonesia sedang mempersiapkan inisiatif baru dalam pengembangan bahan bakar nabati dengan meluncurkan program B40 tahap lanjutan. Berdasarkan data terbaru, program sebelumnya telah berhasil menekan impor bahan bakar fosil lebih dari 15,6 juta kiloliter sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca setara 41,46 juta ton CO₂.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa langkah strategis berikutnya adalah pengimplementasian Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang berasal dari kelapa sawit. Pernyataan ini disampaikan dalam acara The 21st Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 and 2026 Price Outlook.
Pengembangan sawit untuk sektor penerbangan semakin diperkuat melalui kolaborasi antara PT Pindad dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam Pengembangan Fasilitas Produksi Industri Pertahanan. Kerja sama ini dirancang untuk memanfaatkan sumber daya lokal, termasuk material berbasis minyak sawit.
Minyak sawit terus menjadi tulang punggung perekonomian nasional, tercermin dari kontribusinya terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia yang mencapai USD4,34 miliar pada September 2025. Selama periode Januari hingga September 2025, volume ekspor minyak sawit Indonesia mencatatkan angka 28,66 juta ton, meningkat 11,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Artikel Terkait
Prancis Siap Cabut Akses Medsos untuk Remaja di Bawah 15 Tahun pada 2026
Nyaris Tertinggal Kereta, Sebuah Drama Pagi di Solo yang Berakhir Damai di Bandung
Lebih dari 311 Ribu Kendaraan Serbu Tol Jabotabek Menyambut Libur Tahun Baru
China Pasang Tarif 55% untuk Impor Daging Sapi, Lindungi Peternak Lokal