Pelatih Brasil, Carlo Ancelotti, mengakui bahwa perubahan taktik yang ia lakukan saat jeda hidrasi justru menjadi titik balik kekalahan timnya dari Norwegia di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Brasil kalah 2-1 dalam pertandingan yang sempat dikuasai mereka.
"Saya pikir kami mulai kehilangan kendali, tapi kenyataannya tidak," ujar Ancelotti. Menurutnya, sebelum jeda hidrasi, Brasil masih memegang kendali meskipun Norwegia lebih banyak menguasai bola tanpa menciptakan ancaman berarti. Namun, penyesuaian yang ia lakukan justru mengubah arah permainan.
Setelah kekalahan tersebut, Ancelotti menegaskan komitmennya untuk tetap menjabat dan memulai era baru. Ia menyebut bahwa satu generasi pemain senior, termasuk Neymar, Casemiro, dan Danilo, telah berakhir. "Saya pikir dengan Piala Dunia ini, satu generasi penting berakhir, mulai dari Neymar, Danilo, Casemiro, dan pemain yang berusia di atas 30 tahun," katanya.
Fokus pada Pembangunan Ulang
Ancelotti berencana membangun skuad yang lebih muda dengan melibatkan tim nasional U-15, U-17, dan U-20. Olimpiade Los Angeles 2028 akan dimanfaatkan sebagai platform persiapan bagi anggota tim senior masa depan. Beberapa pemain muda seperti Endrick, Estêvão, Rayan, dan Vitor Reis disebut sebagai calon kunci dalam siklus baru ini.
"Saya ingin membangun skuad yang lebih muda, bekerja sama dengan tim nasional U-15, U-17, dan U-20, serta menggunakan Olimpiade Los Angeles 2028 sebagai platform persiapan anggota tim senior masa depan," tambahnya.
Ancelotti juga menekankan bahwa Brasil tidak perlu meniru gaya juara dunia seperti Spanyol atau Prancis, melainkan belajar dari mereka, terutama dalam memperkuat lini tengah. "Kami tidak perlu meniru kami harus belajar di mana kami bisa memperbaiki," ucapnya.
Ia menegaskan bahwa tim saat ini tidak bergantung pada satu bintang. "Brasil tidak punya satu titik referensi sekarang, dan memang tidak perlu. Kami punya banyak pemain hebat. Tujuannya membangun tim yang kuat dan kohesif," ujar Ancelotti.
Dengan tiga laga uji coba melawan Australia dan India pada September dan Oktober, Ancelotti mulai menyiapkan fondasi untuk target Copa América 2028 dan Piala Dunia 2030. "Saya harus punya mata melihat masa lalu dan satu lagi ke masa depan. Setiap hari saya semakin memikirkan masa depan daripada masa lalu," tutupnya.
Artikel Terkait
FIFA Buka Investigasi Resmi ke Argentina atas Kericuhan Final dan Banner Politik
Ancelotti Akui Tolak Tawaran Melatih Italia Demi Komitmen ke Brasil
Cucurella Tepati Nazar, Tato Wajah Luis de la Fuente Usai Spanyol Juara Piala Dunia 2026
IFAB Akui Kesalahan VAR pada Kartu Merah Embolo, FIFA Bela Wasit