IFAB Akui Kesalahan VAR pada Kartu Merah Embolo, FIFA Bela Wasit

- Rabu, 29 Juli 2026 | 07:30 WIB
IFAB Akui Kesalahan VAR pada Kartu Merah Embolo, FIFA Bela Wasit

Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) secara resmi mengakui adanya kesalahan prosedur dalam penerapan VAR yang berujung pada kartu merah bagi penyerang Swiss, Breel Embolo, pada laga perempat final Piala Dunia 2026 melawan Argentina, 11 Juli lalu di Kansas City Stadium. Kartu kuning kedua yang diterima Embolo pada menit ke-72 karena dianggap melakukan simulasi dinilai melampaui batasan aturan salah identitas VAR saat ini. Keputusan itu mengubah jalannya pertandingan dan berujung pada kekalahan Swiss 1-3 setelah babak perpanjangan waktu.

Awalnya, wasit asal Portugal João Pinheiro memberikan kartu kuning kepada gelandang Argentina Leandro Paredes atas pelanggaran terhadap Embolo. Namun, petunjuk dari petugas VAR menunjukkan bahwa Paredes tidak melakukan pelanggaran dan Embolo dianggap melakukan simulasi, sehingga kartu kuning dialihkan kepada Embolo.

Dalam sirkuler resminya, IFAB menjelaskan batasan operasional protokol peninjauan ulang video untuk kejadian salah identitas. "Kartu kuning (peringatan) yang bukan merupakan kartu kuning kedua hanya dapat ditinjau untuk mengidentifikasi pemain yang melakukan pelanggaran yang dihukum; pelanggaran itu sendiri tidak dapat ditinjau/diubah," tulis IFAB. Meskipun mengakui adanya kekeliruan prosedur, IFAB mencatat bahwa respons publik dan tim medis terhadap penanganan simulasi tersebut dinilai positif untuk evaluasi mendatang.

"Penggunaan klausa salah identitas untuk menangani simulasi selama Piala Dunia FIFA 2026 diterima dengan baik dan akan dimasukkan dalam peninjauan terperinci dari protokol VAR yang diumumkan dalam sirkuler no. 32. Namun, itu tidak boleh digunakan sebagaimana mestinya sampai peninjauan tersebut selesai," kata IFAB.

Di sisi lain, FIFA memberikan pandangan berbeda dan menegaskan bahwa tindakan yang diambil wasit di lapangan telah menegakkan keadilan. "Penafsiran FIFA tentang Salah Identitas diterapkan secara konsisten di seluruh Piala Dunia FIFA. Ada dua kejadian di mana seorang pemain salah diidentifikasi telah melakukan pelanggaran kartu kuning, dan VAR menyarankan wasit untuk mengoreksi kesalahan faktual yang disebabkan oleh simulasi lawan. Simulasi itu sendiri tidak dapat diperdebatkan dan tidak boleh menghasilkan sanksi disiplin terhadap lawan yang dapat menyebabkan konsekuensi lebih lanjut, seperti pengusiran untuk kartu kuning kedua atau suspensi pertandingan karena akumulasi kartu kuning," kata FIFA.

FIFA juga menambahkan konfirmasi atas koordinasi yang terus dilakukan bersama dewan aturan. "Kami tidak menganggap ini sebagai kesalahan oleh wasit atau VAR, dan keputusan tersebut memulihkan keadilan. Kami mencatat komentar IFAB dalam Sirkulernya, telah berhubungan dengan mereka sepanjang proses, dan mereka mengonfirmasi bahwa penafsiran ini valid, diterima dengan baik, dan akan menjadi bagian dari diskusi mengenai revisi Protokol VAR, seperti yang dibahas pada RUPS baru-baru ini," kata FIFA.

Respons juga datang dari UEFA yang menyambut baik penjelasan aturan ini sebagai acuan teknis bagi para wasit di kompetisi Eropa. "VAR tidak dimaksudkan untuk memimpin ulang pertandingan," kata UEFA. Badan sepak bola Eropa tersebut mengimbau agar durasi peninjauan video dapat dipangkas agar tidak mengganggu jalannya laga. "Tinjauan yang panjang dan mikroskopis sering kali merupakan gejala yang mengungkapkan bahwa keputusan di lapangan tidak jelas dan terbukti salah, dan oleh karena itu harus dibatasi," kata UEFA. UEFA juga meminta agar penegakan aturan baru dilakukan secara tegas oleh seluruh perangkat pertandingan. "Wasit akan diinstruksikan untuk menegakkan aturan baru ini secara ketat dan konsisten," kata UEFA.

Pelatih Swiss Murat Yakin mengekspresikan kekecewaannya seusai pertandingan atas keputusan yang merugikan timnya. "Wasit membuat keputusan yang salah. Saya tahu mereka akan melindungi wasit mereka tetapi aturan ini menghancurkan permainan kami hari ini, dan itu sangat menyakitkan, dan tersingkir dengan cara seperti itu sangat menyakitkan," kata Murat Yakin.

Wasit João Pinheiro turut memberikan penjelasannya mengenai keputusan di lapangan dan dinamika laga, termasuk momen komunikasinya dengan kapten Argentina Lionel Messi. "Kami melihat bahwa tidak ada pelanggaran dan itu adalah berpura-pura jatuh. Dan karena itu adalah kartu kuning kedua, itu menghasilkan pemain dikeluarkan dari lapangan. Jika itu yang pertama, keputusannya akan persis sama," kata Pinheiro. Mengenai perdebatan dengan Messi, Pinheiro menilai hal tersebut sebagai dinamika komunikasi kapten yang wajar. "Messi menyampaikan beberapa poin kepada saya, begitu juga dengan pemain lain. Kapten tim lebih banyak berkomunikasi dengan wasit, dan aturan baru memungkinkan dialog ini," kata Pinheiro. Ia menambahkan bahwa perhatian publik menjadi lebih besar hanya karena melibatkan sosok pemain bintang. "Karena itu adalah Messi, masalah tersebut mendapat perhatian lebih besar, tetapi ini terjadi dengan banyak pesepak bola. Ketika melibatkan Messi atau Cristiano Ronaldo, situasi ini dilihat secara berbeda," kata Pinheiro. Pinheiro menganggap interaksi tersebut sebagai bagian dari pendekatan kepemimpinan laga tanpa harus berujung sanksi kartu. "Itu adalah dialog yang konstruktif. Kami tidak diwajibkan untuk memberi peringatan kepada semua orang. Mungkin dia salah paham terhadap sesuatu yang saya lakukan, kami berbicara, kami saling memahami, dan kemudian kami melanjutkan permainan," kata Pinheiro.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags