Pekan terakhir fase grup Piala Dunia 2026 menyisakan satu ironi besar format 48 tim yang dirancang untuk memperluas partisipasi justru menciptakan celah di mana dua tim bisa bermain aman demi tiket bersama ke babak 32 besar.
Dua pertandingan menjadi sorotan utama: Australia melawan Paraguay di Grup D, dan Austria kontra Aljazair di Grup J. Kedua laga mempertemukan tim-tim yang berada di posisi kedua dan ketiga dengan koleksi tiga poin. Hasil imbang akan menggenapkan raihan masing-masing menjadi empat angka hampir pasti cukup untuk meloloskan keduanya sebagai salah satu dari delapan tim peringkat tiga terbaik.
Akar Masalah: Angka 48 yang Tidak Sempurna
Ekspansi Piala Dunia dari 32 menjadi 48 tim selalu menyimpan problem matematis. Dengan 32 tim, format delapan grup berisi empat tim dengan dua teratas lolos memberikan kalkulasi yang bersih dan simetris.
Penambahan 16 tim memaksa FIFA mencari jalan keluar yang lebih rumit. Rencana awal 16 grup berisi tiga tim dibatalkan karena rawan kolusi tim yang bermain di laga terakhir tahu persis angka yang dibutuhkan untuk lolos. FIFA akhirnya memilih 12 grup berisi empat tim dengan delapan peringkat tiga terbaik melaju ke fase gugur.
"Sistem ini membuat tim lebih sulit tersingkir daripada lolos," demikian analisis BBC Sport dalam laporannya, Kamis (25/6). Data membuktikan tiga poin dan selisih gol -1 kemungkinan besar masih cukup untuk melangkah ke babak 32 besar.
Preseden Sejarah: Gijon 1982 dan Euro 2004
FIFA seharusnya tidak asing dengan skenario ini. Pada Piala Dunia 1982, pertandingan antara Jerman Barat dan Austria di Gijon, Spanyol, menjadi noda hitam Jerman menang 1-0 dan kedua tim lolos, sementara Aljazair yang telah mengalahkan Cile justru tersingkir karena selisih gol.
Kini, 44 tahun kemudian, Aljazair kembali menjadi pusaran kontroversi yang sama. Jika Austria dan Aljazair bermain imbang di laga terakhir Grup J, Aljazair yang pada 1982 menjadi korban justru akan diuntungkan oleh celah format yang sama.
Kasus serupa terjadi di Euro 2004. Swedia dan Denmark bermain imbang 2-2 hasil yang membuat Italia tersingkir dan memicu tuduhan pengaturan skor dari kiper Gianluigi Buffon serta presiden federasi Italia Franco Carraro. UEFA menegaskan tidak menemukan kecurigaan, namun noda itu tidak pernah benar-benar hilang dari memori sepak bola Eropa.
Taruhan dan Celah Regulasi yang Mengkhawatirkan
Para bandar taruhan memberikan indikasi yang jelas. Untuk laga Australia-Paraguay dan Austria-Aljazair, peluang hasil imbang mendekati even money sekitar 50 persen. Bandingkan dengan laga-laga lain seperti Ekuador-Jerman, Jepang-Swedia, atau Norwegia-Prancis yang peluang imbangnya berkisar antara 3-1 hingga 4-1.
Celah regulasi kian terbuka lebar karena jadwal pertandingan. Grup J menjadi grup terakhir yang menyelesaikan laga. Austria dan Aljazair akan tahu persis berapa poin yang dibutuhkan untuk lolos sebagai peringkat tiga terbaik.
Dalam skenario yang lebih ekstrem, posisi runner-up grup bisa jadi kurang menguntungkan ketimbang finis di peringkat tiga. Runner-up Grup J akan menghadapi juara Grup H yang kemungkinan besar adalah Spanyol. Sementara peringkat tiga Grup J bisa menghadapi juara Grup L belum tentu lebih mudah, tetapi setidaknya ada opsi untuk memilih.
Berikut skenario dua laga yang menjadi sorotan:
| Pertandingan | Grup | Poin Kini | Hasil Imbang | Potensi Lolos |
|---|---|---|---|---|
| Australia vs Paraguay | D | 3-3 | 4-4 | >90% |
| Austria vs Aljazair | J | 3-3 | 4-4 | >90% |
Dampak pada Integritas Turnamen Global
Jika dua pertandingan ini benar-benar berakhir imbang tanpa perlawanan sengit, pertanyaan tentang integritas format akan menggema keras. FIFA di bawah kepemimpinan Gianni Infantino telah menjadikan ekspansi Piala Dunia sebagai bagian dari manifesto kampanye sejak 2016.
Faktor cuaca juga bisa memperumit situasi. Jika badai petir menghentikan pertandingan, FIFA memiliki aturan bahwa laga lain dalam grup yang sama tidak akan dihentikan. Satu tim bisa kembali ke lapangan setelah jeda berjam-jam dan tahu persis hasil yang dibutuhkan untuk lolos sebuah keuntungan informasional yang tidak seharusnya ada.
Ironisnya, celah dalam format ini justru bisa menjadi alasan bagi Infantino untuk kembali melakukan perubahan. Bukan dengan mengurangi jumlah peserta, melainkan meningkatkannya menjadi 64 tim. Sebuah proyeksi yang mengundang perdebatan sengit di kalangan pengamat sepak bola global.
Artikel Terkait
Fenomena Drag Crisis pada Bola Trionda: Ketika Fisika Jadi Mimpi Buruk Kiper di Piala Dunia 2026
Prediksi Ekuador vs Jerman di Piala Dunia 2026: Laga Penentu Nasib di Grup E
Carlo Ancelotti Ukir Sejarah: Brasil Juara Grup C Piala Dunia 2026
Perang Brand di Piala Dunia 2026: FIFA vs Ambush Marketing