Deniz Undav, Super-sub Pemalu yang Jadi Senjata Paling Mematikan Jerman di Piala Dunia 2026

- Kamis, 25 Juni 2026 | 15:14 WIB
Deniz Undav, Super-sub Pemalu yang Jadi Senjata Paling Mematikan Jerman di Piala Dunia 2026

Deniz Undav, super-sub Jerman yang tak pernah tampil sebagai starter di Piala Dunia 2026, telah mencetak tiga gol dan dua assist hanya dalam 56 menit bermain. Penampilannya menjadi cerita paling menarik di skuad Die Mannschaft yang bersiap menghadapi Ekuador pada laga penutup Grup E, Jumat (26/6) dini hari WIB.

Perjalanan Panjang: dari Gagal di Brighton Hingga Jadi Pahlawan

Deniz Undav sempat menjadi bahan ejekan di Premier League. Bersama Brighton pada musim 2022-2023, ia hanya mencetak tiga gol di kompetisi level rendah dan sering disebut sebagai pemain yang bermain satu atau dua level di atas kemampuan aslinya. Dalam satu pertandingan melawan Bournemouth, ia melewatkan tiga peluang emas hanya dalam 15 menit.

Namun pelatih Brighton saat itu, Roberto De Zerbi, tidak pernah kehilangan kepercayaan. "Saya percaya pada Deniz, dia memiliki kualitas besar," ujar De Zerbi dikutip dari Sussex Live. Keyakinan itu perlahan membuahkan hasil ketika Undav mencetak lima gol dalam delapan pertandingan terakhir Brighton musim itu, termasuk satu gol ke gawang Arsenal di Emirates.

Musim berikutnya ia dipinjamkan ke Stuttgart, lalu dibeli permanen dengan biaya rekor klub sebesar 32,6 juta euro. Di Stuttgart, Undav mencetak 25 gol dan 14 assist di semua kompetisi musim 2025-2026, hanya kalah dari trio depan Bayern Munich dalam kontribusi gol langsung. Ketajamannya membawanya kembali ke skuad Jerman setelah absen total selama kualifikasi Piala Dunia. Dalam 11 penampilan internasional, ia telah mengoleksi sembilan gol--sebuah rekor yang sulit ditandingi pemain lain di skuad Die Mannschaft.

Fenomena Super-sub: Tiga Gol dari Bangku Cadangan

Julian Nagelsmann, pelatih Jerman, memilih Undav sebagai pemain cadangan meskipun performanya luar biasa di level klub. Argumentasi Nagelsmann adalah bahwa Undav paling efektif ketika lawan mulai kelelahan dan meninggalkan ruang untuk dieksploitasi. Keputusan itu sempat menuai kritik namun terbukti tepat.

Di laga pertama melawan Curacao, Undav masuk di menit ke-64 dan hanya butuh 14 menit untuk mencetak gol. Pada pertandingan kedua melawan Pantai Gading, ia kembali masuk di menit ke-60 saat Jerman tertinggal 0-1. Dua golnya pada menit ke-68 dan 90 4 membalikkan kedudukan dan memastikan Jerman lolos ke babak 32 besar.

"Saya tidak tahu, sungguh. Saya hanya berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat," ujar Undav ketika ditanya soal ketajamannya dikutip dari situs resmi FIFA. Dalam total 56 menit bermain, ia telah mengoleksi tiga gol dan dua assist. Rasio gol per menitnya menjadi yang tertinggi di antara semua pemain di turnamen ini.

Perbandingan dengan Gerd Muller dan Dilema Nagelsmann

Penampilan Undav memicu perdebatan sengit di Jerman. Legenda sepak bola Jerman, Lothar Matthaus, secara terbuka membandingkannya dengan Gerd Muller, pencetak gol legendaris yang membawa Jerman juara Piala Dunia 1974. Perbandingan itu membuat Undav sendiri tertawa karena merasa terlalu berlebihan.

Kini Nagelsmann menghadapi dilema menjelang laga melawan Ekuador. Ia bisa mempertahankan Undav sebagai super-sub yang telah terbukti efektif, atau memberikan kesempatan pertama sebagai starter. "Kami akan mendiskusikan kedua opsi, termasuk dengan Deniz," ujar Nagelsmann dikutip dari FIFA.com.

Jerman saat ini berada di puncak klasemen Grup E dan membutuhkan hasil positif untuk mengamankan posisi unggulan di babak 32 besar. Ekuador diprediksi akan tampil agresif untuk merebut poin penuh.

Undav sendiri tidak memaksakan diri menjadi starter. "Jika saya tidak bahagia, jika saya tidak merasa puas, saya tidak akan berada di sini," ujarnya kepada media dalam konferensi pers dikutip dari ESPN. Pernyataan itu menunjukkan kedewasaan pemain berusia 29 tahun yang sempat bekerja di pabrik saat remaja setelah dibuang Werder Bremen karena dianggap terlalu kecil.

Jerman telah memastikan lolos ke babak 32 besar, namun laga melawan Ekuador akan menentukan posisi mereka di puncak Grup E. Apapun keputusan Nagelsmann, Undav telah membuktikan bahwa ia bukan sekadar super-sub biasa, melainkan senjata paling mematikan yang dimiliki Jerman di Piala Dunia 2026.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags