Jude Bellingham Adu Mulut dengan Carles Queiroz, Thomas Tuchel Angkat Bicara

- Rabu, 24 Juni 2026 | 19:14 WIB
Jude Bellingham Adu Mulut dengan Carles Queiroz, Thomas Tuchel Angkat Bicara

Laga lanjutan fase grup Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Ghana di Stadion Boston, Rabu (24/6/2026) dini hari WIB, tidak hanya berakhir tanpa gol tetapi juga menyisakan drama emosional di area pinggir lapangan. Gelandang Timnas Inggris, Jude Bellingham, menjadi pusat perhatian setelah terlibat adu argumen sengit dengan jajaran staf kepelatihan Ghana, termasuk pelatih kepala Carles Queiroz, saat turun minum. Ketegangan ini langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial usai pertandingan.

Kronologi Ketegangan Bellingham dengan Staf Ghana

Percikan konflik bermula sesaat setelah Bellingham melakukan sebuah tekel terhadap Jerome Opoku di penghujung babak pertama. Kamera menangkap momen sang gelandang Real Madrid mendorong pemain Ghana tersebut, dan tensi langsung meningkat tajam saat wasit meniup peluit panjang. Morgan Rogers, rekan setim Bellingham di Timnas Inggris, terlihat sigap menarik sang gelandang menjauh dari kerumunan pemain dan staf Ghana.

Bukan hanya di lapangan, friksi tersebut bahkan berlanjut ketika rombongan pemain dan pelatih berjalan menuju lorong Stadion Boston. Suasana di lorong stadion sempat memanas sebelum akhirnya petugas keamanan dan ofisial pertandingan turun tangan untuk memisahkan kedua kubu. Beruntung, situasi tidak berkembang menjadi bentrokan fisik yang lebih serius.

"Sejujurnya, itu terjadi saat saya melakukan tekel yang ceroboh," kata Bellingham dikutip dari BBC Sport, Rabu (24/6/2026). "Saya berusaha merebut bola, dan saya sedikit melakukan gerakan lanjutan sehingga mengenai pemain lawan. Saya berbicara dengannya setelah kejadian itu, dan kemudian bangku cadangan mereka langsung berdiri dan berusaha memberi saya kartu kuning."

Di sisi lain, Queiroz memberikan versi yang berbeda. Pelatih asal Portugal itu menuding Bellingham melontarkan kata-kata tidak pantas yang memicu perselisihan. "Dia mengalami reaksi buruk dengan beberapa sebutan yang tidak pantas, dan itulah mengapa cerita ini dimulai," kata Queiroz dikutip dari BBC Sport. Pernyataan Queiroz ini memicu perdebatan di kalangan pengamat sepak bola Inggris mengenai apa yang sebenarnya diucapkan oleh Bellingham.

Thomas Tuchel Pasang Badan untuk Bellingham

Menanggapi insiden yang membelit anak asuhnya, manajer Timnas Inggris Thomas Tuchel langsung memberikan pembelaan. Pelatih asal Jerman tersebut menilai situasi itu hanyalah luapan emosi yang wajar dalam pertandingan sekelas Piala Dunia. Tuchel menegaskan bahwa Bellingham adalah pemain yang berdedikasi tinggi dan tidak pernah bermaksud memprovokasi lawan.

"Itu adalah luapan emosi, dan Jude membela dirinya sendiri dan timnya," ujar Tuchel. "Emosi adalah bagian dari permainan, tetapi kami tidak ingin terganggu oleh hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian kami." Tuchel juga menekankan bahwa timnya sudah terbiasa menghadapi tekanan tinggi di turnamen internasional.

Tuchel menegaskan bahwa dirinya tidak melihat adanya pelanggaran serius dari Bellingham yang layak mendapatkan sanksi tambahan. Beruntung, wasit yang memimpin pertandingan tidak mengeluarkan kartu apa pun atas rangkaian insiden tersebut, sehingga Bellingham tetap bisa tampil tanpa beban di laga berikutnya. Keputusan wasit ini menjadi titik akhir dari kontroversi di lapangan.

Bellingham sendiri mengaku tetap menghormati Carles Queiroz, yang pernah menjadi asisten pelatih di Manchester United era Sir Alex Ferguson. "Saya rasa saya mengenali manajer mereka Queiroz. Dia jelas orang yang dulunya di Manchester United, jadi saya sangat menghormatinya, dan ini hanya akan menjadi nilai tambah bagi kami berdua," tambah sang gelandang. Sikap dewasa Bellingham patut diapresiasi di tengah tensi tinggi Piala Dunia.

Dampak Insiden bagi Peluang Inggris di Grup L

Hasil imbang 0-0 melawan Ghana membuat Inggris tetap bertengger di puncak klasemen Grup L dengan koleksi empat poin, unggul selisih gol atas Ghana yang berada di posisi kedua dengan poin identik. Kroasia menguntit di peringkat ketiga dengan tiga poin sementara Panama, yang sudah dipastikan tersingkir, masih nihil angka. Persaingan di grup ini masih sangat terbuka.

Laga pamungkas Inggris akan menghadapi Panama pada hari Sabtu mendatang. Satu hasil imbang sudah cukup bagi The Three Lions untuk memastikan tiket ke babak 32 besar Piala Dunia 2026. Sementara itu, Ghana harus menjalani laga berat melawan Kroasia yang memiliki tradisi kuat di turnamen internasional.

Insiden adu mulut antara Bellingham dan staf Ghana ini menjadi pengingat bahwa tekanan di Piala Dunia kerap memicu emosi yang meluap. Inggris menunjukkan kedewasaan dengan tidak memperpanjang kontroversi dan tetap fokus pada tujuan utama: menyegel tiket ke fase gugur dan membuktikan bahwa skuad asuhan Thomas Tuchel layak diperhitungkan sebagai calon juara.

Ketenangan Bellingham dalam memberikan klarifikasi dan sikap tegas Tuchel dalam meredam situasi menjadi modal berharga bagi Inggris menjelang laga-laga krusial di babak selanjutnya. Publik sepak bola Indonesia tentu turut menyaksikan bagaimana salah satu bintang muda terbaik dunia saat ini mampu mengelola tekanan di panggung terbesar sepak bola global.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags