Bayern Munich Tersingkir dari Liga Champions Usai Imbang Lawan PSG, Kontroversi Handball Kembali Mewarnai Laga

- Jumat, 08 Mei 2026 | 07:00 WIB
Bayern Munich Tersingkir dari Liga Champions Usai Imbang Lawan PSG, Kontroversi Handball Kembali Mewarnai Laga

Bayern Munich resmi tersingkir dari Liga Champions setelah gagal membalikkan keadaan melawan Paris Saint-Germain di leg kedua babak semifinal yang berlangsung di Allianz Arena, tengah pekan ini. Hasil imbang 1-1 membuat PSG melaju ke final dengan keunggulan agregat 6-5 dan akan berhadapan dengan Arsenal. Namun, di balik kepastian itu, kontroversi handball kembali mewarnai pertandingan dan menuai kritik tajam dari mantan wasit.

Gol cepat Ousmane Dembele pada menit ketiga langsung menempatkan Bayern dalam tekanan berat sepanjang laga. Meskipun Harry Kane berhasil menyamakan skor di masa tambahan waktu, gol tersebut tidak cukup untuk menyelamatkan tim asuhan Vincent Kompany dari eliminasi yang menyakitkan. Sementara itu, pertandingan kembali diwarnai perdebatan besar terkait keputusan wasit atas insiden handball, serupa dengan yang terjadi pada leg pertama di Paris.

Salah satu momen paling panas terjadi ketika Nuno Mendes lolos dari kartu kuning kedua di pertengahan babak pertama. Wasit asal Portugal, João Pinheiro, awalnya dianggap akan menghukum bek PSG tersebut setelah lengannya yang terentang menyentuh bola hasil umpan Konrad Laimer. Alih-alih memberikan pelanggaran kepada Mendes, Pinheiro justru meniup peluit untuk handball Laimer. Keputusan ini membuat para pemain Bayern, termasuk pelatih Vincent Kompany di pinggir lapangan, terlihat kebingungan dan frustrasi.

Belum reda protes tersebut, kontroversi lain muncul beberapa saat kemudian ketika Marquinhos melepaskan bola panjang dari area pertahanan PSG yang kemudian mengenai lengan João Neves di kotak penalti. Para pemain Bayern langsung meminta penalti, namun wasit kembali membiarkan permainan berlanjut tanpa memberikan hadiah penalti.

Keputusan wasit itu langsung menuai kritik pedas dari mantan wasit DFB, Manuel Gräfe. Lewat akun media sosialnya, Gräfe menilai Bayern Munich jelas dirugikan dan insiden tersebut seharusnya menghasilkan penalti.

“Maaf, tapi ini semua hanya lelucon sekarang… Lengan masuk ke jalur terbang bola dan kali ini bahkan terentang sepenuhnya setinggi bahu dan juga hanya setelah bola ditendang. Itu sudah 100 persen penalti, tetapi terlebih lagi dalam konteks leg pertama – gila!” tulis Gräfe.

Gräfe menegaskan bahwa situasi seperti itu seharusnya selalu dihukum, terutama jika mengacu pada konsistensi aturan handball yang diterapkan UEFA dan FIFA. “Kejadian seperti ini adalah tendangan penalti dan harus selalu menjadi tendangan penalti. Aturan-aturan tersebut bukan ditujukan untuk wasit dan ofisial, tetapi untuk sepak bola para pemain dan bola itu sendiri menuntut penalti di sini, dan memang seharusnya begitu!!”

Lebih lanjut, Gräfe membandingkan insiden ini dengan kontroversi handball Marc Cucurella beberapa waktu lalu, yang awalnya juga dianggap benar oleh banyak pihak sebelum akhirnya UEFA mengakui adanya kesalahan interpretasi. Menurut Gräfe, posisi tangan João Neves jelas memperbesar area tubuhnya secara tidak natural. Ia menilai pemain PSG tersebut sengaja mengangkat lengannya ke arah jalur bola, sehingga seharusnya memenuhi unsur pelanggaran handball.

Dalam Laws of the Game IFAB Pasal 12, dijelaskan bahwa salah satu faktor penting dalam menentukan handball adalah apakah pemain membuat tubuhnya menjadi lebih besar secara tidak natural. Batas lengan yang diperhitungkan dimulai dari bagian bawah ketiak. Meski demikian, aturan tersebut juga menegaskan bahwa tidak setiap sentuhan bola dengan tangan otomatis dianggap pelanggaran. Interpretasi wasit terhadap posisi tangan, jarak bola, dan gerakan pemain tetap menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar