Di sisi lain, Dewa United tampil rapi. Mereka tak panik. Alur bola mereka terjaga, pertahanan solid, dan terlihat punya rencana yang jelas meski dalam kondisi tak ideal.
Kekecewaan Sang Pelatih
Bernardo Tavares, pelatih Persebaya, tak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya. Baginya, hasil ini sama saja dengan kehilangan dua poin berharga di kandang sendiri. Poin yang bisa sangat berarti dalam persaingan ketat di papan atas.
"Masalahnya bukan pada usaha. Semua pemain sudah bekerja keras. Tapi kita kurang cerdas hari ini. Bola bergerak terlalu lambat, memberi waktu lawan untuk bersiap. Terlalu banyak membawa bola, alih-alih mengalirkannya dengan cepat. Sepak bola modern menuntut keputusan yang cepat," ujarnya dengan nada kesal.
Komentarnya itu seperti sindiran halus. Ia seolah ingin mengatakan, keunggulan numerik tak ada artinya jika tak diimbangi dengan kecerdasan membaca permainan.
Lalu, Bagaimana Dampaknya?
Satu poin ini membuat Persebaya tetap berputar di posisi tengah klasemen. Jarak dengan puncak masih jauh, sementara persaingan untuk masuk zona aman makin sengit saja.
Akhirnya, laga ini jadi pelajaran berharga. Keunggulan situasi gol cepat, pemain lebih banyak, dukungan penuh tak otomatis jadi jaminan tiga poin. Bagi Persebaya, ini adalah alarm. Jika ingin bersaing di papan atas, mereka harus segera membenahi cara bermain. Butuh lebih dari sekadar semangat dan superioritas jumlah. Butuh kecerdasan, ketajaman, dan efektivitas yang konsisten.
Artikel Terkait
Persija Juarai Klasemen Penonton Super League 2025/2026
Indonesia Kirim 17 Wakil ke Kejuaraan Asia 2026, Ganda Putra Jadi Sorotan
Frans Putros Dipanggil Timnas Irak untuk Persiapan Play-off Piala Dunia
AFC Jatuhkan Sanksi, Malaysia Kalah WO dan Gagal ke Piala Asia 2027