LONDON Suasana di Stamford Bridge akhir-akhir ini benar-benar muram. Tekanan terhadap Enzo Maresca kian memuncak, dan itu bukan rahasia lagi. Performa tim terus merosot, suporter sudah meluapkan kekecewaan, dan jadwal sembilan laga di Januari yang padat membuat manajemen Chelsea berada di persimpangan jalan yang krusial. Masa depan sang pelatih kini dipertanyakan.
Bisa dibilang, waktu Maresca mulai menipis. Kalau tren negatif ini nggak berhenti, peluangnya bertahan hingga akhir bulan ini semakin kecil. Bahkan, ada yang bilang dia mungkin nggak akan sampai di sana.
Media Inggris The Guardian melaporkan hal serupa di awal tahun.
"Jika Chelsea gagal bangkit hingga akhir Januari, manajer Enzo Maresca bisa menghadapi pemecatan."
Analisis itu nggak main-main. Posisi Maresca memang rapuh. Coba lihat statistiknya: cuma satu kemenangan dari tujuh laga terakhir di Liga Inggris. Itu belum ditambah sejumlah kontroversi internal yang bikin situasi makin runyam.
Ketegangan memuncak saat Chelsea cuma bisa imbang 2-2 lawan Bournemouth. Para pendukung tuan rumah nggak terima. Mereka meledak, mencemooh dengan keras. Puncaknya ketika Cole Palmer ditarik keluar di babak kedua. Stadion langsung bergemuruh. Teriakan "Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan!" menggema, jadi sinyal jelas betapa publik sudah muak dengan keputusan taktis sang pelatih.
Masalahnya nggak cuma di lapangan hijau. Usai kemenangan atas Everton di awal bulan, Maresca ngomong sesuatu yang bikin semua orang bingung.
"Itu adalah 48 jam terburuk yang pernah saya habiskan di Chelsea."
Dia nggak pernah menjelaskan lebih lanjut. Menurut Guardian, pernyataan itu malah bikin keretakan dengan petinggi klub. Spekulasi soal konflik internal di tubuh The Blues pun makin menjadi-jadi.
Di klasemen, Chelsea terlempar ke posisi kelima. Yang parah, musim ini mereka sudah buang 15 poin dari situasi unggul. Grafik performa mereka anjlok sejak Desember. Kekalahan dari Leeds, Atalanta, dan Aston Villa cuma menyorot kelemahan taktik Maresca. Timing pergantian pemainnya sering dinilai salah, yang ujung-ujungnya bikin ketegangan di ruang ganti makin menjadi.
Namun begitu, manajemen klub sepertinya masih ragu untuk ambil langkah drastis. Trauma pemecatan beruntun terhadap Thomas Tuchel dan Graham Potter di era Todd Boehly–Clearlake masih membekas. Ganti pelatih di tengah musim dianggap terlalu berisiko. Sikap resmi klub masih mengarah pada prinsip evaluasi di akhir musim. Tapi, celah pengecualian itu terbuka lebar. Kalau situasi makin buruk, siapa yang tahu.
Ujian terberatnya ada di bulan Januari ini. Jadwalnya benar-benar neraka: lima laga Liga Inggris, satu Piala FA lawan Charlton, dua semifinal Piala Carabao kontra Arsenal, plus dua pertandingan Liga Champions menghadapi Pafos dan Napoli. Stabilitas jadi kunci. Tapi kalau hasil buruk terus berlanjut, keputusan besar diyakini nggak bisa ditunda lagi. Bahkan, opsi cadangan seperti Liam Rosenior pelatih klub afiliasi Strasbourg sudah mulai dikait-kaitkan.
Ingat, sekitar 18 bulan lalu Chelsea ambil langkah berani. Mereka pecat Mauricio Pochettino dan percayakan proyek jangka panjang pada Maresca. Musim sebelumnya, klub ini sempat menikmati masa indah: lolos ke Liga Champions, juara Liga Conference, dan Piala Dunia Antarklub. Kini, semua pencapaian itu tinggal kenangan. Kesabaran manajemen dan fans Chelsea benar-benar di ujung tanduk.
Artikel Terkait
Arema FC Hajar Semen Padang 3-0 di Kandang Kanjuruhan
Cedera Ter Stegen Perburuk Peluangnya di Timnas Jerman, Nagelsmann Beri Isyarat
Manajer Ducati Yakin Bagnaia Kembali Jadi Penantang Gelar MotoGP 2026
Guardiola Kritik Performa Datar City Meski Lolos ke Babak Kelima Piala FA