Brigadir Polisi Wanita Indonesia Raih Penghargaan PBB Berkat Modernisasi Database Kriminal di Afrika Tengah

- Kamis, 25 Juni 2026 | 15:20 WIB
Brigadir Polisi Wanita Indonesia Raih Penghargaan PBB Berkat Modernisasi Database Kriminal di Afrika Tengah

Seorang brigadir polisi wanita Indonesia, Renita Rismayanti, tercatat sebagai polisi perempuan pertama dari Indonesia yang meraih penghargaan bergengsi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Penghargaan itu diraihnya bukan di dalam negeri, melainkan di tengah tugas penuh risiko di Republik Afrika Tengah. Di sana, ia berhasil memodernisasi sistem pendataan kriminal yang sebelumnya masih primitif, sebuah langkah yang dinilai sebagai terobosan besar bagi misi perdamaian PBB.

Renita bertugas dalam Misi Stabilisasi Terintegrasi Multidimensi PBB di Republik Afrika Tengah, atau MINUSCA, pada periode 2023 hingga 2024. Ia ditempatkan sebagai Petugas Basis Database Kriminal. Saat baru tiba, ia langsung dihadapkan pada realitas yang jauh berbeda dengan Indonesia. "Awal penugasan saya, setelah saya tiba di negara tersebut, saya diperkenalkan dengan negara yang masih banyak sekali terjadi konflik di sana. Jadi berbeda sekali dengan negara kita Indonesia," katanya dalam wawancara untuk kandidasi Hoegeng Awards 2026.

Di pos pertamanya di seksi analis kriminal, tugas harian Renita adalah mendaftar seluruh tindak pidana yang terjadi. Namun, ia menemukan bahwa pencatatan kasus masih dilakukan secara manual. Sistem yang ada belum memadai untuk menghasilkan data yang cepat dan akurat. Atasannya di seksi tersebut kemudian mencetuskan ide untuk mengotomatisasi pencatatan ke dalam platform digital milik PBB yang sudah ada, meskipun platform itu belum sempurna.

"Dibentuklah UNPOL Case Management. Setelah platform tersebut terbentuk, pekerjaan kita sangat terbantu. Kemudian kita bisa generate statistik-statistik yang diperlukan oleh atasan di misi dengan cepat dan juga real time," tutur Renita. Inovasi ini tidak berhenti pada data internal UNPOL. Renita juga memimpin proyek besar untuk memigrasi data kriminal kepolisian lokal Afrika Tengah. Sebelumnya, polisi setempat sama sekali tidak memiliki database kriminal, sehingga banyak pelaku kejahatan yang tidak terdata dan bebas berkeliaran.

"Saya juga handle sebuah proyek besar dari MINUSCA yaitu instalasi database untuk polisi lokal di sana. Sebelumnya polisi lokal di sana belum memiliki database kriminal sama sekali. Sehingga masih banyak pelaku kriminal yang belum ditangkap dan masih berkeliaran di masyarakat sekitar," ujarnya. Lebih dari sekadar pendataan, ia dan timnya kemudian membuat peta titik panas atau hot spot map yang menandai lokasi-lokasi paling rawan kejahatan. Peta itu digunakan untuk membantu personel PBB lainnya dalam merencanakan patroli.

Ipda Sugiandono, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Unit Kriminal Analisis Database dan merupakan atasan langsung Renita di misi MINUSCA, memberikan apresiasi tinggi. Ia menyebut langkah yang dilakukan anak buahnya itu sebagai sebuah terobosan. "Database analis kriminal adalah salah satu terobosan, menurut saya, karena pada waktu itu database tersebut di bawah sistem atau platformnya UN. Sehingga memberikan kontribusi yang besar baik terhadap misi maupun level strategis di kepolisian atau sektor keamanan lokal di Republik Afrika Tengah," ucapnya.

Atas dedikasi dan inovasinya tersebut, Renita dianugerahi penghargaan Women Police of The Year 2023. Ia menjadi polisi wanita Indonesia pertama yang menerima penghargaan tersebut. Saat ini, namanya juga masuk sebagai salah satu dari tiga besar kandidat Hoegeng Awards 2026 untuk kategori Polisi Inovatif.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.