Harga emas dunia diperkirakan kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis, 25 Juni 2026. Sentimen bearish masih mendominasi, baik dari sisi teknikal maupun fundamental, sehingga peluang pelemahan lanjutan tetap terbuka lebar.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 25 Juni 2026, menjelaskan bahwa pergerakan emas (XAU/USD) pada timeframe H1 masih menunjukkan tren penurunan sebagai skenario utama. Meskipun sempat terjadi kenaikan harga pada sesi sebelumnya, penguatan itu belum bisa dianggap sebagai awal pembalikan tren.
"Kenaikan tersebut lebih mencerminkan secondary trend atau koreksi sementara di tengah tren turun yang lebih besar," kata Geraldo.
Ia menambahkan, hal ini terlihat dari kegagalan harga untuk menembus area resistance penting di level USD4.042. Ketika harga tidak mampu mempertahankan momentum kenaikannya, tekanan jual kembali muncul dan mendorong terbentuknya candlestick bearish pada perdagangan pagi hari. Kondisi itu menjadi sinyal bahwa pelaku pasar masih cenderung memanfaatkan kenaikan harga sebagai peluang untuk melakukan aksi jual.
Dari perspektif teknikal, struktur pergerakan harga saat ini masih mengikuti primary trend yang didominasi tekanan bearish. Selama harga belum mampu menembus area resistance yang telah terbentuk, peluang penurunan lanjutan masih terbuka. Menurut proyeksi Dupoin Futures, area support terdekat berada di level USD3.958. Jika level tersebut berhasil ditembus, harga emas berpotensi melanjutkan pelemahan menuju target berikutnya di area USD3.915.
Indikator teknikal juga memberikan sinyal yang sejalan dengan skenario penurunan. Indikator stochastic saat ini bergerak menuju area oversold atau jenuh jual. Meskipun kondisi oversold sering dikaitkan dengan peluang rebound, dalam tren yang kuat indikator tersebut justru dapat menunjukkan momentum penurunan masih mendominasi pasar.
"Dengan kata lain, tekanan jual masih memiliki ruang untuk berlanjut sebelum muncul sinyal pembalikan yang lebih jelas," ungkap Geraldo.
Sinyal bearish juga diperkuat oleh indikator Moving Average yang masih menunjukkan pola downtrend. Posisi harga yang tetap berada di bawah area rata-rata pergerakan utama mengindikasikan arah tren jangka pendek masih cenderung negatif. Selama harga belum mampu kembali bergerak di atas area Moving Average tersebut, peluang kenaikan diperkirakan akan tetap terbatas.
Dari sisi fundamental, prospek emas juga masih dibayangi oleh sejumlah faktor yang berpotensi menekan harga. Salah satu faktor utama adalah penguatan dolar Amerika Serikat yang masih berlanjut di tengah ekspektasi perekonomian AS yang tetap menunjukkan ketahanan kuat.
"Ketika dolar menguat, harga emas umumnya menghadapi tekanan karena menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain," ujar Geraldo.
Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut mengurangi daya tarik emas sebagai aset investasi. Investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga atau dividen.
"Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa tekanan terhadap logam mulia masih cukup besar dalam beberapa waktu terakhir," jelas dia.
Pelaku pasar juga terus mencermati data ekonomi AS, termasuk indikator pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pasar tenaga kerja. Jika data-data tersebut kembali menunjukkan hasil yang solid, ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat berpotensi semakin menguat.
"Situasi tersebut dapat memberikan dukungan tambahan bagi dolar AS sekaligus memperbesar tekanan terhadap harga emas," katanya.
Di sisi lain, membaiknya sentimen risiko di pasar keuangan global turut mengurangi minat investor terhadap aset safe haven seperti emas. Ketika pasar saham dan aset berisiko lainnya menawarkan prospek yang lebih menarik, sebagian investor cenderung mengurangi kepemilikan emas dan mengalihkan dana ke instrumen yang memiliki potensi imbal hasil lebih tinggi.
Dengan mempertimbangkan kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut, Dupoin Futures memproyeksikan bahwa harga emas masih berpotensi bergerak melemah pada perdagangan hari ini. Selama harga belum mampu menembus resistance di level USD4.042 dan sentimen pasar masih mendukung penguatan dolar AS, peluang penurunan menuju area support USD3.958 hingga USD3.915 tetap terbuka.
"Investor dan trader disarankan untuk tetap mencermati perkembangan ekonomi global serta dinamika kebijakan moneter AS yang dapat menjadi katalis utama bagi arah pergerakan emas dalam jangka pendek," pungkas Geraldo.
Artikel Terkait
16 WNA China Dideportasi dari Palembang karena Sewenang-wenang Izin Tinggal dan Perusahaan Investasi Fiktif
Truk Ekspedisi Terguling di Daan Mogot, Lalu Lintas Tersendat
Empat Spesialis Pembobol Rumah dengan Modus Congkel Jendela Diringkus di Serang
DJP Temukan Praktik Penghindaran Pajak dengan Memecah Usaha ke Puluhan Badan Hukum