Inflasi Inti AS Diprediksi Masih Tinggi hingga Akhir 2026, Mulai Melandai pada 2027

- Rabu, 24 Juni 2026 | 11:45 WIB
Inflasi Inti AS Diprediksi Masih Tinggi hingga Akhir 2026, Mulai Melandai pada 2027

Inflasi inti Amerika Serikat diproyeksikan masih akan bertahan di level tinggi hingga akhir 2026 sebelum akhirnya melandai pada tahun berikutnya. Goldman Sachs, dalam laporan terbarunya, memperkirakan penurunan itu terjadi seiring meredanya tekanan harga dari sektor kecerdasan buatan (AI) dan energi.

Analis Goldman Sachs, Manuel Abecasis, memproyeksikan inflasi PCE inti tahunan akan berada di angka 3,2 persen pada Desember 2026. Angka itu kemudian diperkirakan turun menjadi 2,2 persen pada Desember 2027. Selain PCE inti, bank investasi tersebut juga memproyeksikan Indeks Harga Konsumen Inti (Core CPI) berada di level 2,6 persen pada akhir 2026 dan turun ke 2,2 persen pada akhir 2027.

Menurut Goldman Sachs, Core CPI relatif lebih stabil karena tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi pasar saham maupun distorsi pengukuran yang terkait dengan sektor AI.

Harga minyak dan dampak inflasi

Goldman Sachs mencatat, kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran memberikan tekanan penurunan jangka pendek pada harga minyak global. Divisi komoditas bank tersebut merevisi proyeksi harga minyak menjadi rata-rata 80 dolar AS per barel pada kuartal IV-2026 dan 75 dolar AS per barel pada 2027.

Penyesuaian ini diperkirakan akan menurunkan tekanan inflasi PCE utama dan inti masing-masing sebesar 0,2 poin persentase dan 0,05 poin persentase dibandingkan asumsi sebelumnya.

Di sisi lain, Goldman Sachs menyoroti tekanan harga yang dipicu oleh sektor AI, terutama pada produk memori dan perangkat lunak. Efek tersebut dinilai meningkatkan inflasi perangkat lunak dan aksesori komputer melalui distorsi pengukuran dalam indeks PCE inti. Bank itu memperkirakan inflasi bulanan sektor perangkat lunak dan aksesori akan melambat dari kisaran 4–5 persen dalam beberapa bulan terakhir menjadi sekitar 0,6 persen pada kuartal IV 2026.

Inflasi jasa dan tekanan upah

Untuk inflasi inti jasa, Goldman Sachs memperkirakan pertumbuhan sewa akan melambat di bawah level pra-pandemi. Perlambatan pertumbuhan upah nominal juga diprediksi turut menekan inflasi jasa non-perumahan.

Meski proyeksi menunjukkan penurunan inflasi, Goldman Sachs menilai risiko tetap cenderung meningkat. Ketegangan geopolitik, khususnya di Timur Tengah, disebut sebagai faktor utama yang dapat kembali mendorong tekanan harga global.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar