Canyoneering Air Terjun Sisundung Jadi Primadona Wisata Petualangan di Tapanuli Selatan

- Senin, 22 Juni 2026 | 01:45 WIB
Canyoneering Air Terjun Sisundung Jadi Primadona Wisata Petualangan di Tapanuli Selatan

Wisata petualangan menuruni tebing air terjun atau canyoneering di Air Terjun Sisundung, Kecamatan Angkola Barat, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, kini menjadi primadona baru bagi para pencari sensasi. Aktivitas ekstrem ini tidak hanya menawarkan pengalaman mendebarkan, tetapi juga membuka peluang pengembangan potensi wisata alam di kawasan tersebut.

Pengelola wisata dari Komunitas Pecinta Alam (KPA) Forester, Decky, menjelaskan bahwa kegiatan ini memberikan sensasi unik menuruni tebing yang diterpa langsung aliran air terjun. Setiap peserta dijamin keamanannya dengan menggunakan tali pengaman dan didampingi instruktur yang menguasai teknik dasar canyoneering.

“Ini memang wisata yang memacu adrenalin, tapi aspek keselamatan menjadi prioritas utama. Semua peserta menggunakan perlengkapan sesuai standar keselamatan,” ujar Decky di Tapanuli Selatan, Minggu, 21 Juni 2026.

Ia menambahkan, minat masyarakat terhadap wisata petualangan tersebut tergolong tinggi. Tidak hanya dari kalangan pecinta alam, tetapi juga masyarakat umum yang ingin merasakan pengalaman baru di alam terbuka. Kegiatan canyoneering digelar secara rutin setiap akhir pekan, dan pemesanan peserta disebut telah penuh hingga akhir Juli 2026.

Selain Air Terjun Sisundung yang memiliki ketinggian sekitar 23 meter, KPA Forester telah melakukan survei terhadap sejumlah lokasi potensial lainnya. Beberapa di antaranya adalah Air Terjun Siadiasi di Desa Padang Lancat dan Goa Aek Badak Julu di Kecamatan Sayur Matinggi.

“Kedua lokasi tersebut direncanakan menjadi destinasi berikutnya yang diharapkan dapat memperkuat potensi wisata petualangan di Tapanuli Selatan,” ucap Decky.

Bagi wisatawan yang ingin mencoba, tarif promosi sebesar Rp95 ribu per orang berlaku hingga akhir Juni 2026. Mulai 1 Juli 2026, tarif akan disesuaikan menjadi Rp120 ribu per orang.

Di sisi lain, pengembangan wisata canyoneering di wilayah tersebut masih menghadapi kendala berupa keterbatasan infrastruktur jalan menuju sejumlah lokasi wisata. Menurut Decky, apabila dikelola secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan, wisata ini berpeluang menjadi daya tarik baru. Hal itu dinilai mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar