Israel dan Hizbullah dilaporkan telah mencapai kesepakatan gencatan senjata setelah kedua pihak kembali melancarkan serangan secara bergantian. Perkembangan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan diplomatik dan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan laporan kantor berita AFP pada Jumat (19/6/2026), gencatan senjata mulai berlaku pada pukul 16.00 waktu setempat. Seorang pejabat Amerika Serikat menyatakan bahwa kesepakatan ini dimediasi oleh perwakilan dari Washington dan Qatar, yang sebelumnya telah mengadakan pembicaraan terpisah dengan Israel dan Iran. Mediasi ini menjadi langkah penting setelah ketegangan di perbatasan Lebanon-Israel kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir.
Bentrokan yang terjadi di Lebanon sebelumnya sempat mengancam kesepakatan yang tengah dirintis antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang secara menyeluruh. Situasi ini diperparah dengan penundaan rencana pertemuan di Swiss yang sedianya dihadiri oleh Wakil Presiden AS JD Vance. Sumber diplomatik lain yang dikutip dari CNN menyebutkan bahwa proses mediasi melibatkan tiga pihak utama, yakni Qatar, Amerika Serikat, dan Iran.
Namun, sikap resmi Israel masih menunjukkan kehati-hatian. Seorang juru bicara Pasukan Pertahanan Israel menolak untuk mengonfirmasi secara terbuka adanya gencatan senjata dalam sebuah pengarahan pada Jumat sore. “Kami terus bertindak sesuai arahan politik yang ada. Kecuali arahan tersebut berubah, kami akan terus bertindak sesuai arahan tersebut,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa keputusan akhir masih bergantung pada instruksi politik dari pimpinan negara.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dan pemerintahannya belakangan ini menunjukkan rasa frustrasi yang semakin besar terhadap Israel, sekutu sekaligus mitra mereka dalam perang melawan Iran. Pada hari Kamis, Trump secara terbuka menyerukan “gencatan senjata total di semua lini”, termasuk dari pihak Israel. Ia juga mulai kritis terhadap tingginya jumlah korban jiwa akibat serangan Israel di Lebanon.
“Ketika dua drone ditembakkan ke gurun dan jatuh tanpa menimbulkan bahaya, Anda tidak perlu meruntuhkan gedung-gedung di Beirut. Mereka bisa bersikap lebih baik, dan sejujurnya, mereka bisa melakukan tugasnya dengan lebih baik,” kata Trump dalam KTT G7 di Prancis pada hari Rabu. Pernyataan ini menandai perubahan nada yang cukup tajam dari seorang pemimpin yang selama ini dikenal dekat dengan pemerintah Israel.
Sementara itu, Wakil Presiden JD Vance melayangkan teguran keras yang tidak biasa kepada para menteri garis keras di pemerintahan Israel. Vance mengecam kritik mereka terhadap kesepakatan dengan Iran dan meminta mereka untuk lebih realistis. “Donald J. Trump adalah satu-satunya kepala negara di seluruh dunia yang bersimpati pada bangsa Israel saat ini,” kata Vance dalam sebuah taklimat di Gedung Putih. “Jika saya berada di kabinet pemerintahan Israel, saya tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih saya miliki di seluruh dunia,” imbuhnya.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Dorong Perhatian Khusus pada Olahraga Disabilitas, Sertifikasi Pelatihan Jadi Prioritas
Serangan Udara Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 18 Orang, Puluhan Lainnya Terluka
Real Madrid Resmi Datangkan Marc Cucurella dari Chelsea dengan Nilai Transfer 55 Juta Euro
Komisaris Perusahaan Bunuh Direktur Utama di Menteng, Motif Dendam karena Sering Dicerca