Menguak Tabir Pemeriksaan 15 Jenderal oleh TGPF Peristiwa Mei 1998

- Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:00 WIB
Menguak Tabir Pemeriksaan 15 Jenderal oleh TGPF Peristiwa Mei 1998

Guru Besar Universitas Bhayangkara, Prof Hermawan Sulistyo, yang akrab disapa Kikiek, membongkar pengalamannya sebagai anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Peristiwa Mei 1998. Dalam investigasi tersebut, ia dan timnya memeriksa tidak kurang dari 15 jenderal untuk mengungkap kebenaran di balik kerusuhan yang mengguncang Indonesia.

"Kami ini tidak mencari untuk pembalasan, mari kita rekonstruksi bangsa ini ke depan dan dengan posisi itu mereka terima. Mereka terima, mari kita lihat apa yang salah. Kalau Soeharto sudah pasti kalau itu," kata Kikiek dalam podcast Terus Terang Mahfud MD yang ditayangkan di YouTube Mahfud MD Official, Senin (03/08/2026).

Nama-nama besar seperti Prabowo Subianto dan Sjafrie Sjamsoeddin, yang kini menjabat sebagai Presiden dan Menteri Pertahanan, turut diperiksa. Kikiek mengungkapkan bahwa reaksi para jenderal saat itu beragam. Sjafrie, misalnya, datang dengan pengawalan ketat.

"Sjafrie diperiksa datang pakai Panser, waktu itu Sjafrie Pangdam Jaya. Padahal, saya sudah bilang, kami tidak mencari yang salah, mari kita duduk, kita benahi bareng-bareng bangsa ini, tetap saja dia datang pakai Panser. Ada 1 atau 2 truk pasukannya di depan, kita cuma orang sipil duduk berempat memeriksa," ujar Kikiek.

Ia menegaskan bahwa timnya tidak bersenjata dan hanya mengandalkan kewenangan publik, tanpa niat balas dendam. Meski demikian, beberapa jenderal sempat marah hingga memukul meja saat ditanya. Secara umum, Kikiek mengibaratkan sikap mereka seperti "tikus masuk air" mereka yang biasanya berwibawa harus tunduk pada pemeriksaan sipil.

"Itu penghinaan luar biasa untuk mereka dan saya yang menghina itu. Semua saya periksa, kalau tidak saya jemput, kami punya kewenangan. Dan tidak usah dijemput, saya nyanyi aja, ngoceh aja di media, sampai ke dunia internasional, namanya ini, jenderal ini tidak mau datang karena memang penjahat, selesai karirnya. Wartawan itu puluhan, ratusan wartawan dari seluruh dunia, takut mereka," kata Kikiek.

Dalam kesempatan yang sama, pakar hukum tata negara Mahfud MD menilai Reformasi 1998 sempat menegangkan, tetapi membawa hasil yang indah. Polri berubah menjadi lebih baik, dan TNI ditarik keluar dari politik praktis. Melalui Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Mahfud yang saat itu masih muda turut meneruskan agenda reformasi saat menjabat Menteri Pertahanan. Namun, ia menyayangkan kondisi saat ini yang semakin menjauh dari semangat tersebut.

"TNI waktu itu sudah menyatakan kami ke luar dari politik, ini kembali ke negara demokrasi. Ini kok sejak pertengahan tahun 2015an, jadi belok lagi, ketemu lagi, mau ke tengah lagi. TNI-Polri juga agak rusak, masuk ke berbagai bidang sehingga disebut multifungsi. Justru, masuk ke politik, TNI juga mengimbangi. Kalau polisi begitu, ya kami gitu juga, sehingga jadi situasinya seperti sekarang," ujar Mahfud.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags