Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi banjir pesisir atau rob yang diperkirakan melanda sejumlah wilayah pesisir Nusa Tenggara Timur (NTT) pada periode 13 hingga 15 Juni 2026. Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Sti Nenote'k, mengungkapkan bahwa fenomena fase Bulan Baru Super (Super New Moon) yang terjadi pada 15 Juni 2026 menjadi pemicu utama meningkatnya ketinggian muka air laut maksimum.
"Fenomena fase Bulan Baru Super pada 15 Juni berpotensi meningkatkan ketinggian pasang air laut. Kondisi ini, ditambah faktor angin dan gelombang laut, dapat memengaruhi dinamika pesisir sehingga meningkatkan potensi terjadinya banjir pesisir atau rob di beberapa wilayah NTT," kata Sti Nenote'k, Minggu, 14 Juni 2026.
Menurut BMKG, banjir pesisir atau rob merupakan peristiwa naiknya permukaan air laut ke daratan pesisir pantai yang dapat disebabkan oleh pasang air laut maupun faktor cuaca tertentu. Akibatnya, genangan air terjadi di wilayah sekitar pantai dan berpotensi mengganggu aktivitas warga setempat.
BMKG memprakirakan sejumlah kawasan yang berpotensi terdampak, meliputi pesisir Pulau Flores-Alor, pesisir Pulau Sabu-Raijua, pesisir Pulau Sumba, serta pesisir Pulau Timor-Rote. Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di kawasan pesisir diminta untuk meningkatkan kewaspadaan selama periode peringatan tersebut.
"Masyarakat pesisir diharapkan tetap waspada dan terus memantau perkembangan informasi cuaca maritim yang dikeluarkan BMKG. Potensi banjir rob dapat berdampak pada berbagai aktivitas masyarakat di wilayah pesisir," ujarnya.
Sti Nenote'k menjelaskan, dampak yang mungkin terjadi antara lain terganggunya aktivitas bongkar muat di pelabuhan, kegiatan sehari-hari warga di permukiman pesisir, operasional tambak garam, hingga sektor perikanan darat yang berada di dekat kawasan pantai. Sementara itu, pola angin di wilayah NTT umumnya bergerak dari timur laut hingga tenggara dengan kecepatan berkisar 6 hingga 30 knot.
Kecepatan angin tertinggi terpantau di sejumlah perairan dan selat strategis, seperti Selat Sape, Selat Flores-Lamakera, Selat Pantar, Selat Alor, Selat Sumba, Laut Sawu, Selat Ombai, Perairan Selatan Sumba, Perairan Sabu-Raijua, Perairan Utara Timor, Perairan Utara Kupang-Rote, Selat Pukuafu, Perairan Selatan Timor-Rote, serta Perairan Taman Nasional Komodo.
Di sisi lain, tinggi gelombang di perairan diperkirakan mencapai 1,25 hingga 2,5 meter pada 15–18 Juni 2026. Gelombang sedang diprakirakan terjadi di Selat Alor, Selat Sumba bagian barat, Laut Sawu, Perairan Selatan Sumba, Perairan Sabu-Raijua, Selat Pukuafu, serta Perairan Selatan Timor-Rote. BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memperbarui informasi cuaca maritim guna mengantisipasi risiko yang lebih luas.
Artikel Terkait
BNPB Catat Empat Bencana Landa Sejumlah Wilayah Indonesia dalam 24 Jam
Situ Bahar Cilodong Tercemar Limbah Hitam, DLHK Depok Koordinasi dengan Bogor Usut Perusahaan
Pria Ditemukan Tewas di Rumah di Cileungsi, Diduga Meninggal karena Sakit Asma
Kebakaran Lahan 20 Hektar di Sabu Raijua Dipicu Sisa Bakar Sampah, Api Berhasil Dipadamkan