Banyak orang merasa tenang saat mendengar nominal cicilan bulanan yang terbilang ringan, misalnya Rp2 juta. Namun, pernahkah Anda bertanya pada diri sendiri: jika suatu saat penghasilan hilang, apakah cicilan itu masih mampu dibayar? Pertanyaan ini sering membuat orang terdiam, karena kebanyakan dari kita hanya menghitung kemampuan membayar saat ini tanpa memikirkan risiko di masa depan.
Cicilan bukan komitmen jangka pendek. Ada yang harus dibayar selama 5 tahun, 10 tahun, bahkan lebih. Dalam rentang waktu tersebut, kondisi ekonomi bisa berubah drastis. Perusahaan bisa melakukan efisiensi, target pekerjaan bisa berubah, atau bonus bisa hilang. Oleh karena itu, sebelum mengambil cicilan, penting untuk mempersiapkan diri dengan matang.
Batasi Utang Maksimal 30% dari Pendapatan
Sebenarnya, ada beberapa pendapat mengenai proporsi utang yang aman. Namun, dalam diskusi yang pernah saya bahas, rasio yang disarankan adalah maksimal 30% dari pendapatan rutin. Dari situ, Anda bisa menghitung nominal cicilan yang masih masuk akal. Tetapi, jangan berhenti di situ. Anda juga perlu bertanya: apa yang membuat Anda yakin gaji akan tetap sama dalam dua atau tiga tahun ke depan? Jika kondisi keuangan berubah, apakah cicilan ini masih bisa dipertahankan?
Bukan berarti kita pesimis, tetapi kenyataannya kondisi ekonomi memang bisa berubah sewaktu-waktu. Kemampuan membayar cicilan tidak hanya ditentukan oleh penghasilan hari ini. Karena itu, sebelum memutuskan, hitung juga total bunga yang harus dibayar, ruang dalam arus kas untuk dana darurat, dan seberapa besar kemampuan bertahan jika terjadi hal tak terduga.
Tiga Pertanyaan Sebelum Mengambil Cicilan
Jika Anda sedang mempertimbangkan untuk mengambil cicilan, coba jawab tiga pertanyaan berikut. Pertama, jika tiga bulan tidak menerima gaji, apakah cicilan Anda masih aman? Kedua, jika penghasilan turun 20-30 persen, pengeluaran apa yang akan Anda kurangi lebih dulu? Ketiga, jika pekerjaan hilang dan harus mencari pekerjaan baru, berapa lama dana yang Anda miliki bisa membayar cicilan?
Jika Anda masih ragu menjawabnya, mungkin Anda perlu menunda rencana tersebut dan memperkuat fondasi keuangan, misalnya dengan menambah dana darurat atau memperbaiki arus kas. Tujuan memiliki cicilan bukan sekadar mampu membayar bulan depan, tetapi bisa menjalaninya dengan tenang sampai lunas.
Jangan Bergantung pada Satu Sumber Penghasilan
Tidak sedikit orang memiliki cicilan jangka panjang tetapi hanya mengandalkan satu sumber penghasilan, tanpa dana darurat atau tabungan. Selama semuanya berjalan lancar, mungkin tidak ada masalah. Namun, hidup jarang berjalan sesuai rencana. Perubahan bisa datang lebih cepat dari yang kita bayangkan. Bukan berarti Anda harus memforsir diri dengan banyak pekerjaan, tetapi ada baiknya mulai memikirkan cadangan, baik berupa dana darurat, tabungan, atau penghasilan tambahan sebagai bantalan saat kondisi tidak sesuai rencana.
Ingatlah, cicilan tidak akan berhenti atau memaklumi saat kita mengalami masa sulit. Karena itu, yang perlu dipersiapkan bukan hanya cara mengambil cicilan, tetapi juga cara mempertahankannya.
Jika Mulai Kesulitan, Segera Negosiasi
Jika suatu hari Anda mulai merasa kesulitan membayar, jangan menghilang. Hubungi pihak bank atau lembaga pembiayaan. Dalam buku yang saya tulis, saya menekankan pentingnya bernegosiasi dengan pemberi pinjaman saat kondisi terjepit. Ceritakan kondisi Anda dan diskusikan opsi solusi, misalnya memperpanjang waktu pinjaman agar cicilan lebih kecil. Langkah ini jauh lebih baik daripada membiarkan tunggakan menumpuk.
Pada intinya, tidak ada yang salah dengan mengambil cicilan, asalkan ada perencanaan yang matang. Sebelum menandatangani perjanjian kredit, pastikan Anda siap tidak hanya untuk membayar cicilan bulan depan, tetapi juga siap menghadapi berbagai kemungkinan hingga cicilan itu lunas. Fondasi keuangan yang baik dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang dipikirkan dengan matang.
Artikel Terkait
Lima Kebiasaan Sederhana agar Gaji Tidak Cepat Habis