Polres Metro Bekasi saat ini masih mendalami laporan dugaan gangguan ketenteraman dan ketertiban yang terjadi di Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi. Laporan tersebut turut menyeret seorang pria berinisial WK yang disebut-sebut sebagai Ketua DPD Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Jawa Barat.
Kasi Humas Polres Metro Bekasi, AKP Aliyani, membenarkan bahwa kasus itu tengah dalam tahap penyelidikan. Namun, ia belum bersedia membeberkan apakah pihaknya sudah melakukan pemanggilan terhadap WK.
“Masih dalam proses penyelidikan,” ujar Aliyani saat dikonfirmasi pada Rabu (10/6/2026).
Laporan diajukan oleh seorang warga bernama Layla Rizky. Dalam pengaduannya, ia menyebut WK sebagai pihak terlapor yang mengaku sebagai Ketua DPD APDESI Jawa Barat. Peristiwa yang menjadi dasar laporan terjadi pada Sabtu (30/5/2026) dini hari, sekitar pukul 01.57 WIB, di kediaman Layla yang berlokasi di Kampung Pintu, Desa Bantarjaya, Kecamatan Pebayuran.
Menurut laporan yang tercatat dalam Surat Tanda Terima Laporan Pengaduan (STTLAPDUAN) Nomor: STTLAPDUAN/799/V/2026/SAT RESKRIM/RESTRO BKS/PMJ, kejadian bermula ketika sekelompok orang tak dikenal mendatangi rumah Layla. Rombongan tersebut diduga masuk dengan memanjat pagar dan naik ke atap bangunan sebelum berinteraksi dengan penghuni rumah.
Layla mengaku bahwa rombongan itu dipimpin oleh seseorang yang memperkenalkan diri sebagai WK. Dalam laporan, WK disebut sebagai Kepala Desa Wanasari sekaligus Ketua DPD APDESI Jawa Barat. Ia datang bersama sejumlah orang, termasuk seorang perempuan yang dikenalkan sebagai anaknya.
Karena tidak mengenali identitas maupun tujuan kedatangan mereka, Layla mengaku sempat meminta surat tugas kepada pihak yang mengaku berasal dari kepolisian. Namun, dokumen tersebut hanya diperlihatkan tanpa diberikan kesempatan untuk diperiksa secara langsung. Pintu gerbang rumah akhirnya dibuka setelah Ahmad Syarifudin, yang disebut sebagai Ketua AKPERSI DPD Jawa Barat, hadir untuk mendampingi dan menjadi saksi.
Setelah berada di dalam rumah, rombongan tersebut mempertanyakan identitas keluarga Layla serta keberadaan seseorang bernama Ncex. Dalam laporannya, Layla juga menyebut bahwa WK sempat menunjukkan sebuah pistol di hadapan sejumlah orang sambil meminta agar dipertemukan dengan orang yang sedang dicari.
Korban kemudian mengizinkan pihak yang mengaku sebagai anggota kepolisian untuk melakukan penggeledahan di dalam rumah. Namun, situasi disebut memanas setelah terjadi adu mulut antara Layla dan seorang perempuan yang disebut sebagai anak WK. Perempuan itu diduga melontarkan kata-kata kasar, memukul kendaraan yang terparkir di garasi, serta menendang kandang ayam milik pelapor. Akibat insiden tersebut, pagar rumah juga dilaporkan mengalami kerusakan hingga roboh.
Merasa mengalami intimidasi dan kerugian, Layla akhirnya melaporkan kejadian itu ke Polres Metro Bekasi. Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari WK maupun pihak-pihak lain yang disebut dalam laporan pengaduan tersebut. Upaya konfirmasi kepada seluruh pihak terkait masih terus dilakukan guna memperoleh tanggapan dan klarifikasi sesuai dengan prinsip keberimbangan pemberitaan dan asas praduga tak bersalah.
Artikel Terkait
Wakil MPR Dorong Pemerintah Benahi Tata Kelola Guru Demi Percepatan Kualitas Pengajaran
Pelajar Diserang Kelompok Bermasker dan Bersenjata di Bogor, Satu Terluka Kena Sabuk Gesper
Amnesty Kritik Perintah Pemusnahan Barang Bukti Tumbler di Kasus Penyiraman Air keras ke Aktivis KontraS
AS Serang Iran Balas Jatuhnya Helikopter Apache, Iran Balas dengan Rudal Balistik